Budaya

Bouma dan Botanam - Mengenal Sistem Peladangan Dayak Kancikgh (1)

Senin, 8 Februari 2021, 20:13 WIB
Dibaca 281
Bouma dan Botanam - Mengenal Sistem Peladangan Dayak  Kancikgh (1)
Siklus Perladangan Suku Dayak Kancikgh

Bo muh boleh podi. Bodagakh buleh untokgh. Bolayar buleh omas. Bojodi buleh onak.

Berladang mendapatkan padi (rezeki). Berdagang mendapat untung. Berlayar mendapat emas.  Menikah (berkeluarga) mendapatkan keturunan.

Demikian falsafat hidup Dayak Kancikgh.

 Sebagai salah seorang warga Suku Dayak Kancikgh, saya terpanggil untuk meneliti dan menulis narasi seperti tulisan ini. Akan panjang. Oleh sebab itu, dipecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang dimulai hari ini.

Siapa Dayak Dayak Kancikgh?

Seperti diketahui bahwa Dayak terbagi ke dalam 7 rumpun besar (stammenras). Terdiri atas sekitar 405 sub-suku. Dayak Dayak Kancikgh salah satu subsku Bidayuh. Bermukim di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Polupasinya sekitar 25.000.

Baca Juga: Suku Dayak Kancikgh

Tidak terekam dalam sejarah bahwa  Masyarakat Suku Dayak Kancikgh memulai peradabannya sejak zaman batu, di mana manusia hidup hanya dengan mengkonsumsi umbi-umbian dari tanaman-tanaman liar di hutan dan memperoleh protein hewani dengan berburu binatang liar. Peradaban Masyarakat Suku Dayak Kancikgh disejarahkan mulai ketika manusia sudah mengenal istilah pertanian. Atau, menurut teori, sejak manusia Dayak mengenal sistem mata pencaharian. Jadi, sudah berbudaya, sejak zaman dahulu kala.

Secara umum, tradisi bertani disebut dengan istilah “bouma botanam”.  Namun, secara khusus tradisi tersebut dapat juga dikenal dengan istilah “bopuyuh”.  Bouma botanam meliputi rangkaian kegiatan bertani tradisional yang dimulai dengan upacara “ngawah” dan berakhir dengan upacara “ngiikgh ine’”. Sementara bopuyuh hanya untuk menerangkan kegiatan menanam apa saja tanaman atau tumbuhan yang suatu saat dapat berbuah, bertunas dan dapat dimanfaatkan untuk menunjang kesejahteraan manusia.

Menurut keyakinan Masyarakat Suku Dayak Kancikgh, konsep bouma botanam muncul karena kesadaran bahwa kebutuhan fisiologis manusia itu baru bisa dipenuhi dan dijamin kualitasnya jika manusia mau menanam, itupun tanaman-tanaman tertentu yang dapat menghasilkan buah, biji, getah, tunas, umbi, gula yang dapat dikonsumsi atau dijual. 

Manusia bisa saja mencari biji-bijian, umbi-umbian atau apa saja dari hutan demi untuk dikonsumsi sebagai cara bertahan hidup, namun kesadaran naluriah mengatakan bahwa siapa yang bisa menjamin bahwa bahan-bahan tersebut aman, dan terjamin kelangsungan keberadaannya, sedangkan manusia butuh makan setiap hari.

Mungkin secara kebetulan ataupun karena terinspirasi oleh mimpi atau belajar dari Suku Dayak lainnya, Masyarakat Suku Dayak Kancikgh menemukan padi, ubi, tebu dan lain sebagainya sebagai tanaman-tanaman yang secara umum dan rutin mereka tanam sebagai penghasil bahan-bahan pangan untuk mempertahankan kehidupan mereka.

Tradisi bouma botanam sebenarnya memiliki cakupan yang cukup luas namun yang paling utama dan paling umum adalah tradisi “bomuh” yaitu menggarap lahan untuk dijadikan ladang sebagai tempat untuk menanam padi dan tumbuhan palawija lainnya.

Tradisi bomuh merupakan rangkaian siklus panjang dari beberapa kegiatan yang dimulai dari prosesi adat “ngorarakgh api” dan berakhir dengan upacara adat “nyopat soa”. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah:

1) ngorarakgh api;

2) botompa bododat;

3) ngawah;

4) minu;

5) nobakgh;

6) mokatn monok;

7) nyucol;

8) ngkomak;

9) tumuyok;

10) moyobu (tomoi lompaokgh);

11) nyomaru;

12) ngotup/mota;

13) ngiikh inek;

14) nyopat soa (dogawai).

Dengan demikian, bagi Dayak pada umumnya, dan khusus bagi  Dayak Kancikgh berladang bukan sekadar mendapat padi saja. Akan tetapi, ada adat-budaya, juga kesenian dan ritual di dalamnya.

Tahapan-tahapan dalam Bouma - Botanam (berladang - cocok tanam) di kalangan Dayak Kancikgh, akan dibahas pada tulisan yang berikutnya.