Politik

Sebuah Ilusi: Politik Mulia

Minggu, 26 Maret 2023, 16:22 WIB
Dibaca 470
Sebuah Ilusi: Politik Mulia
Political wisdom

Dodi Mawardi

Penulis senior

Politik bertujuan mulia. Setidaknya itulah yang dicanangkan peletak dasar politik: para filsuf zaman Yunani. Pun demikian yang disampaikan oleh salah satu peletak dasar politik Islam: Abu Hasan Al Mawardi.

 

Dalam praktiknya, sungguh paradoks. Politik jauh dari kemuliaan. Tidak jarang, politik malah saling menghancurkan.

 

Tidak mudah menemukan politik yang masih berurat berakar kemuliaan. Setidaknya, saat ini. Setidaknya, di Indonesia.

 

Dalam konsep spiritual, kekuasaan salah satu jalan menuju kesejahteraan bersama dan kemuliaan (surga). Bukan sebaliknya (neraka). Kekuasaan jadi titik puncak kendali politik. Tanpa kekuasaan, politik tidak berjalan.

 

Praktik tidak selaras dengan konsep. Meski banyak yang berjubah agama (yang seharusnya lekat dengan spiritual), kekuasaan dipakai untuk memuaskan nafsu:  Memperkaya diri dan kelompok. Konsep SQ dan EQ tak berlaku.

 

Hanya berjarak kurang dari 80 tahun silam. Para pendiri Indonesia mencontohkan politik mulia: kemerdekaan. Mereka memegang teguh kemuliaan. Bukan untuk kepentingan diri dan kelompoknya. Tapi untuk seluruh bangsa.

 

Teori, fondasi, dan praktik satu paket utuh. Praktik tak berdasar teori dan fondasi bakal menemukan takdirnya: deviasi. Salah arah dan tersesat. Dalam hal apa pun. Termasuk berpolitik.

 

Sejak 2019 dan 2024 ini jadi momentum buat saya pribadi. Pemilu, puncak pesta politik yang melibatkan banyak orang dekat. Termasuk rekan dan adik kelas dari Lembah Tidar. Satu perguruan. Satu filosofi. Dengan slogan yang tercantum dalam janji alumni: memberikan karya terbaik bagi bangsa dan negara.

 

Janji suci. Penuh kemuliaan. Kiprah di politik mestinya klop. Karena politik adalah kemuliaan. Dengan politik, tujuan bangsa tercapai. Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Cita-cita yang luhur.

 

Janji alumni itu hanya bisa dipenuhi di bidang politik dengan teori dan fondasi: kemuliaan. Tidak bisa tidak.

 

Dalih bermunculan. Politik praktis. Sebagian besar politisi melakukannya. Kalau tidak ikut melakukan, pasti ketinggalan. Politik praktis seolah terpisah dari teori dan fondasi. Suatu pembenaran dari praktik yang melenceng. Politik praktis jauh dari kemuliaan. Machiavelli sering jadi sandaran.

 

Lalu, aku berharap apa? Hanya ilusi? Sekadar bermimpi? Kenapa begitu jauh jarak antara praktik dengan teori dan fondasi?

 

Siapa yang bisa mengembalikan ke jalurnya? Kita. Kamu dan aku. Bukan nanti. Tapi saat ini. Sekarang juga. Sekecil apa pun. Termasuk hanya sekadar tulisan ilusi seperti ini...

 

Dan kalian hanya menghela napas.

Singkat.

Sangat singkat.

Bahkan nyaris tak terdengar.