Politik

Pemuda Negarawan; Fokus Pada Khidmat Gerakan

Senin, 7 Maret 2022, 05:55 WIB
Dibaca 177
Pemuda Negarawan; Fokus Pada Khidmat Gerakan
Aslan

Suasana cerah di petang hari ketika orang lain selesai dengan aktivitas ataupun urusannya, begitupun saya dengan segala aktivitas yang sudah selesai dan bahkan melelahkan dihari itu juga, akhirnya singgah di Coffeesomnia karena memang ada janji sama yang punya, ya Bang KEG, katanya ada buku yang dititipkan buat Dialektika untuk bahan koleksi dan bacaan. Buku tulisan Wakil Gubernur Kaltara Pak Yansen TP “Mengkhianati Keputusan Sendiri” yang sudah di bedah beberapa pekan yang lalu dirangkaikan Pelatihan Menulis selama 2 hari, kegiatan yang digagas kawan2 Komunitas Kreasi Kaltara dengan tujuan agar geliat masyarakat kaltara dalam literasi terus meningkat, kegiatan yang sangat menarik apalagi di hadirkan narsum yang ahli dalam bidang menulis.

Saat mampir di coffeesomnia, pandanganku mengarah pada sosok yang sedang duduk sendiri menikmati seduhan kopi arabika kesukaan beliau, dia Prof. Abdul Jabarsyah, biasa kawan2 memanggilnya “babe” tapi kalau saya panggil beliau ttp Prof, karena kebetulan beliau adalah atasan saya di sebuah perguruan tinggi swasta di ibu kota, Universitas Kaltara kampus itu. Prof Abdul Jabarsyah adalah seorang Rektor, saya menganggap beliau adalah seorang Tokoh Pendidikan yang masih berkiprah sebagai Rektor mulai dari 2003 - 2013 di Universitas Borneo Tarakan (UBT) dan 2015 - sekarang di Universitas Kaltara (Unikaltar), beliau selalu menyampaikan dan selalu berupaya bahwa masyarakat kaltara harus mendapatkan mutu pendidikan yang berkualitas lagi terdidik.

Saya menghampiri beliau, kemudian duduk di samping beliau, “Hai Lan, dari mana? tanya beliau”. “dari kegiatan vaksinasi prof di tanjung palas” jawab saya.

Karena kehadiran saya, beliaupun menutup Handphone nya, sepertinya tadi baru selesai membaca sebuah berita tentang kondisi bangsa indonesia hari ini. akhirnya beliau membuka pembicaraan mulailah. “Indonesia ini butuh Pemimpin yang Negarawan”. yah Negarawan, sebagai bangsa yang besar kita di hadapkan pada masalah yang besar pula. Pemimpin yang berfikir dan berjiwa besar untuk Men-Drive Indonesia menuju kejayaan dan kemakmuran. Dia yang mencari alur dan meretaskan jalan menyelaraskan berbagai kepentingan menjadi kepentingan bangsa yang memberdayakan setiap kekuatan bersama. Dia yang punya karakter, keberanian dan kepercayaan diri. Dia yang memiliki kapasitas dan memiliki pemahaman mendalam atas problematika bangsa ini”.

Dengan nada santai sambil menikmati Ice Coffeesomnia, saya pun bertanya “masih adakah sosok negarawan itu prof, dan siapa kira2 sosok itu?”. Setelah menyeruput kopi beliau pun menjawab. “Yaah… Sosok itu Gubernur DKI Jakarta”.

“Sosok yang sudah ada sejak dalam pikiranku”. Kembali, dengan mendengar kata Negarawan, pikiran saya pun kearah tema yang saat ini di usung oleh Pemuda Muhammadiyah, yakni “Pemuda Negarawan”.

Pemuda Negarawan, dua kata yang saling mencari alasan untuk diterapkan dalam bentuk tindakan.

“Pemuda”, dalam UU Nomor 40 tahun 2009 “adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun”. Tetapi dalam aturan formal organisasi seperti KNPI, usia itu mundur 10 tahun, hingga menjadi 40 tahun. sementara Kata Negarawan identik dengan usia sepuh, usia dimana seseorang sudah selesai dengan urusan pribadinya. Dalam konteks kekuasaan, seringkali jabatan-jabatan penting memerlukan para negarawan. Misalnya, syarat menjadi hakim konstitusi haruslah negarawan. Karena itu, mereka sudah selesai dengan kepentingan dirinya. Mereka sudah tidak lagi mencari dan berburu hal-hal duniawi, karena itu bisa mencederai status Negarawan.

Meminjam narasinya Kanda Fajrulrahman Jika menilik usia Pemuda dan kecenderungan menjadi negarawan, maka ada kontradiksi yang melekat di dalamnya. Pemuda cenderung mencari, berburu dan masih besar urusan duniawinya. Pemuda masih merumuskan tentang masa depannya, karena itu, ia bisa cenderung pragmatis. Sementara Negarawan sudah selesai dengan urusan remeh-remeh masa depan itu. Lalu dimana letak urgensinya dari “Pemuda Negarawan”.

hal ini bisa di dasari dengan berbagai alasan dengan berbagai situasi berbangsa cenderung kehilangan pijakan. Makin hari, cara para elit berbangsa kian jauh dari konsensus. Tiap orang seolah-olah mengambil keputusan masing-masing, tanpa arah, tanpa panutan, tanpa kontrol. Yang paling nyata adalah penegakkan hukum dan proses legislasi. Hukum menjadi alat pemukul untuk lawan dan merangkul kawan. Hukum tidak lagi jadi panglima, ia berubah jadi prajurit. Ini karena tidak adanya sikap kepemimpinan, sikap politik, kehendak para penguasa yang berpihak kepada hukum. Hukum menjadi alat kekuasaan. belum lagi kondisi elit politik hari ini, lagi-lagi kita dihadapkan dengan gaduhnya wacana Perpanjangan masa jabatan Presiden, dengan adanya stetmen mulai dari menteri Investasi, ketum partai PKB, disusul Ketum Partai PAN dan Golkar agar Pemilu 2024 di tunda, stetmen tersebut tanpa dasar aturan konstitusinya. Jelas sosok elite tersebut bukanlah seorang Negarawan.

Pasca Reformasi 1998, saat ini adalah masa Konsolidasi Demokrasi kita. Tak dapat disangkal, secara formal, demokrasi kita membaik, karena diatas kertas, Pemilu berhasil, pun Pilkada berjalan sukses. Tak ada hambatan formal apapun, karena akhirnya semua penguasa terpilih melalui mekanisme formal. Tetapi bagaimana dengan prosesnya?. Suram. bagaimana dengan hasilnya?,  Bagaimana dengan kebijakannya?. Sulit diharapkan untuk berpihak kepada rakyat. Akibatnya, demokrasi menjadi artifisial, tidak substansial. Karena itu semua disebabkan oleh perburuan kekuasaan tanpa moral, tanpa etika dan tanpa hati nurani. Kekuasaan menjadi tujuan, bukan menjadi alat untuk mencapai tujuan.

Kondisi ekonomi juga belum membaik, beberapa fakta di antaranya, utang APBN pada akhir tahun sudah menyentuh Rp6.445 triliun, utang BUMN di angka Rp2.000 triliun, 10 juta pengangguran baru terdampak covid-19, dan 27,5 juta penduduk miskin. Menurunnya entrepreneur Indonesia yang berada diposisi 2% dari total penduduk harus menjadi perhatian bersama. Jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Malaysia (6%), Thailand (5%), dan Singapura (7%). Padahal, bonus demografi akan jadi tantangan serius Indonesia. Soal Minyak Goreng hari ini mengalami kelangkaan efeknya kenaikan harga terjadi harga eceran tembus Angka 33.000 perliter. dan ini akan mengganggu akvitas pelaku usaha kecil. padahal Indonesia merupakan Negara Terluas perkebunan Sawitnya.

Masalah intoleransi, peredaran narkoba, isu ketahanan pangan, dan kerusakan lingkungan juga tak boleh dikesampingkan.

saya kira Inilah yang menjadi alasan kegelisahan Pemuda pada umumnya dan khususnya Pemuda Muhammadiyah hari ini, agar mengkhidmat pada gerakan kemajuan. kembali di awal bahwa kita pemuda punya masa depan, melahirkan ide dan gagasan dalam memecahkan persoalan bangsa hari ini, kita selesaikan urusan pribadi kita masing2, agar cita2 para Founding Fathers dan janji kemerdekaan bisa dapat terwujud. mengutip

Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”.

Cak Nanto (Ketum PP Pemuda Muhammadiyah) “Saya berkeyakinan, seorang negarawan jauh berbeda dengan politikus. Seorang negarawan bukan hanya simbol pemimpin, melainkan seseorang berjiwa besar, merangkul semua elemen, dan memberi solusi atas permasalahan bangsa”.


Fastabiqul Khairat