Literasi

Pentingnya Mengenali Khalayak Pembaca

Minggu, 14 Maret 2021, 08:23 WIB
Dibaca 227
Pentingnya Mengenali Khalayak Pembaca
Khalayak (Foto: evenbrite.co.uk)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Khalayak itu kumpulan orang. Kalau khalayak penonton televisi disebut pemirsa. Kumpulan orang yang mendengarkan radio disebut pendengar, kumpulan orang yang menikmati film disebut penonton, dan kumpulan orang yang membaca buku disebut pembaca.

Tersebab ini literasi teks, di sini saya akan bercerita pengalaman tentang pentingnya mengenali khalayak pembaca. Ini sangat diperlukan untuk penulis dalam menyampaikan gagasannya. 

Dulu orang mengelompokkan dua jenis pembaca, yakni Pembaca Model dan Pembaca Pendatang. Meminjam istilah komunikasi, yang sebut pembaca ini sebagai khalayak atau audiences.

Saya teringat guru saya, Dr Jalaluddin Rakhmat (alm) saat menyampaikan kuliah Psikologi Komunikasi. Pak Jalal mengatakan, agar pesan yang kita sampaikan efektif dipahami penerima pesan, maka inatlah jargon ini: "known your audiences" (kenalilah khalayak).

Khalayak terbelah menjadi beberapa bagian yang unik dan spesifik. Bisa dilihat dari sisi usia (maka dulu ada majalah Bobo buat anak-anak, majalah Hai buat remaja dan majalah Matra buat orang dewasa). Bagi penulis atau wartawan yang mengisi konten majalah yang berbeda-beda usia, tentu akan menyesuaikan dengan kemampuan si penerima pesan, termasuk gaya bahasa yang digunakan.

Pun dalam sastra. Meski para penulis/penyair diberi kebebasan untuk berekespresi sebebas-bebasnya, khususnya penyair yang menulis puisi, rumus "known the audiences" masih tetap dipakai, meski terkesan menggurui.

Saya analogikan, penyair yang hendak mengumpulkan puisinya dalam sebuah buku antologi atau bunga rampai, dia akan mengasumsikan pembacanya adalah Pembaca Model dan Pembaca Pendatang itu tadi.

Tetapi coba kalau suatu waktu penulis/penyair diminta menulis untuk majalah wanita, majalah anak-anak, buku remaja/anak-anak, untuk buku ajar pegangan siswa-siswa. Maka mau tidak mau kita, para penulis/penyair akan "terikat" rumus "known the audiences" ini.

Penulis/penyair, meski dibekali senjata berkreasi sebebas-bebasnya, rupanya ada juga sesuatu "yang membatasi" kreasi berpikir mereka, karena dia harus mengetahui dan mengenali khalayaknya, yakni pembaca yang dituju.

Baca Juga: Membaca Kapitalisme dalam Patahan Sejarah

Untuk itu, karena menulis memerlukan media dan media punya karakter sendiri-sendiri berdasarkan usia, jenis kelamin, dan profesi, maka penulis perlu juga  memahami "known the medias", kenali medianya.

Saya kira standar cerpen Majalah Femina dengan Harian Kompas, misalnya akan berbeda. Juga standar puisi Harian Republika dengan Majalah Basis, misalnya, pasti juga berbeda.

Bagaimana mengakali tulisan kita, opini atau puisi, bisa diterima media tertentu agar hasil karya kita segera dibaca khalayak, ya... mau tidak mau kita harus mengenali dua-duanya: kenali khalayak, kenali pula medianya.

Demikian uraian singkat saya tentang literasi pagi ini.

***