YTP Rayeh

Literasi Tiada Henti Di Bagian Utara Pulau Borneo

Rabu, 29 September 2021, 09:36 WIB
Dibaca 314
Literasi Tiada Henti Di Bagian Utara Pulau Borneo
Asyiknya Menulis di Kamp Literasi

Dodi Mawardi

Penulis senior

Tulisan ini, artikel ke-1.000 di www.ytprayeh.com. Angka seribu seringkali bermakna keramat. Saya sendiri, sejak awal berkecimpung di dunia menulis, bermimpi menulis seribu judul buku. Cita rasa kata seribu itu, sungguh dalam. Banyak. Banyak sekali. Wow. Dan sejenisnya.

 

Maka ketika ytprayeh.com mencapai 1.000 artikel, wajar dirayakan. Suatu pencapaian. Belum genap setahun media warga ini mengudara, sudah mampu menampung artikel sebanyak itu dari lebih 300 penulis yang terdaftar. www.ytprayeh.com resmi memulai aktivitasnya pada 12 Januari 2021.

 

Untuk merayakan 1.000 artikel ini, secara khusus saya mengupas tentang semangat literasi di pulau Kalimantan, khususnya di Kalimantan Utara. Borneo bagian utara.

 

--------------------------------

Awal 2014 menjadi perkenalan pertama saya dengan literasi di Kalimantan Utara. Bupati Malinau saat itu Yansen T.P. (YTP), berniat mempublikasikan bukunya secara nasional. Ia sudah menulis sebuah buku hasil dari penulisan ulang Disertasi S-3 di Universitas Brawijaya Malang. Bukunya sudah dicetak namun tersebar secara terbatas. Melalui Dandim Malinau saat itu, Letkol Agus Bhakti, saya memenuhi undangannya. Sejak itulah, kegiatan literasi saya di Kalimantan Utara bergulir, sampai sekarang, hingga nanti, tanpa henti.

 

Saya membantu Pak Yansen menerbitkan buku “Revolusi dari Desa” melalui Elex Media Komputindo (Grup Gramedia) sehingga tersebar secara nasional. Pada 2014 itu juga, saya berperan sebagai moderator peluncuran bukunya di Malinau, bersama presenter Anya Dwinov. Kang Pepih Nugarha – Pendiri Kompasiana – menjadi salah satu pembedah buku tersebut. Sejak itulah, Pak Yansen mendapatkan undangan dari beberapa pihak untuk membedah buku tersebut. Termasuk menjadi aktor utama dalam acara Tokoh Bicara Kompasiana.

 

Setahun kemudian, lahir buku “Revolusi RT” juga melalui Elex Media Komputindo, melengkapi kapasitas YTP sebagai kepala daerah yang sukses memberdayakan masyarakat pedesaan termasuk para Ketua RT dan warganya dalam pembangunan. Beberapa penghargaan diraihnya terkait keberhasilan tersebut.

 

Selain dengan YTP, saya juga berliterasi dengan Dandim Malinau. Salah satunya memberikan pelatihan kepada siswa SMP dan SMA di wilayah perbatasan Malinau dengan Malaysia. Saya merasa sangat bahagia melihat antusiasme generasi muda tersebut selama mengikuti pelatihan. Kemampuan mereka tidak kalah dibanding generasi muda di wilayah lain. Hasil dari pelatihan tersebut mewujud dalam bentuk buku berjudul “Optimisme dari Perbatasan.”

 

Selain buku tersebut, saya juga mengabadikan berbagai kegiatan literasi dan nonliterasi di Malinau dalam buku berjudul, “Gebrakan dari Perbatasan.” Berisi pencapaian-pencapaian Malinau yang saya anggap tidak biasa. Suatu daerah perbatasan yang sebagian besar masih terpinggir, terpelosok, dan tertinggal, namun mampu melakukan gerakan pembangunan yang memberdayakan warganya. Salah satu ukuran keberhasilannya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Malinau yang di atas rata-rata IPM Indonesia. IPM Malinau di Kaltara hanya kalah dari Tarakan. IPM Malinau jauh di atas beberapa kabupaten di Pulau Jawa.

 

Kegiatan literasi di Malinau berlanjut dan meluas sampai se-Kalimantan Utara, seiring dengan terpilihnya YTP sebagai Wakil Gubernur Kaltara. Semangatnya berliterasi semakin menjadi-jadi. Dalam masa kampanye Pilkada Kaltara, YTP menawarkan program pembangunannya dalam sebuah buku berjudul, “Kaltara Rumah Kita” yang diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer (Grup Gramedia). Kami – Masri Sareb Putra, Pepih Nugraha, dan saya – terlibat dalam proses penyusunan buku tersebut.

 

Dalam catatan saya, baru kali itulah seorang calon kepala daerah mengkampanyekan programnya dalam sebuah buku populer dan tersebar secara nasional. Judul buku itu pula yang menjadi jargon YTP selama kampanye.

 

Pada Januari 2020, YTP meluncurkan buku “Bersama Allah Hidup Jadi Produktif”, hasil karya keluarga besar Tipa Padan. Lebih dari 30 anggota keluarganya menulis masing-masing satu artikel dalam buku tersebut. Suatu pencapaian istimewa dalam kegiatan literasi yang bisa melibatkan seluruh anggota keluarga. Lagi-lagi dalam catatan saya, hanya ada satu keluarga lain yang mampu melakukannya yaitu di Yogyakarta. Namun, jumlahnya tidak sampai 30 orang. Buku ini layak masuk Rekor MURI.

 

Benar saja, pada Agustus 2020 Rekor MURI disematkan kepada buku tersebut bersamaan dengan peluncuran buku “Kaltara Rumah Kita”. Pengelola MURI menyetujui pencapaian tersebut sebagai suatu rekor. Bahkan, MURI mencatatnya sebagai rekor dunia, karena belum ada anggota keluarga sebanyak itu yang menulis sebuah buku.

 

Berbarengan dengan peluncuran buku “Bersama Allah Hidup Jadi Produktif”, YTP juga menyelenggarakan pelatihan menulis sekaligus lomba penulisan untuk warga Malinau. Masri Sareb Putra dan saya menjadi pemberi materi dalam pelatihan tersebut. Sekaligus menjadi juri lomba penulisan yang kemudian juga melibatkan Pepih Nugraha. Suatu rangkaian kegiatan literasi tiada henti selama bertahun-tahun, yang memacu adrenalin saya sebagai penulis. Saya penulis profesional. Akan tetapi, bukan hanya materi yang menjadi tujuan, melainkan manfaat sebesar-besarnya buat masyarakat, bangsa, dan negara.

 

Salah satu puncak kegiatan literasi di utara Borneo ini terjadi pada Januari 2021. Kami menyiapkannya sejak pertengahan 2020 dengan pematangan di Batu Ruyud Krayan pada akhir 2020. Suatu perjalanan mengesankan bagi kami, para penulis yang tinggal di Jabodetabek. Berpetualang di Dataran Tinggi Borneo di wilayah Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di suatu tempat yang begitu sunyi, damai, dan tenteram di tengah hutan belantara, tanpa sambungan telekomunikasi. Kami bisa berkontemplasi dan berliterasi, sehingga melahirkan beberapa buku dan website media warga www.ytprayeh.com.

Perjalanan dan pengalaman selama di Krayan, kami abadikan dalam buku berjudul “A Journey to Batu Ruyud, Perjalanan Penulis Ibukota di Pedalaman Hutan Kalimantan.”

 Baca juga: Perjalanan Seru Penulis Ibukota ke Krayan

Dengan www.ytprayeh.com kami sepakat merangkul semakin banyak orang untuk bersama-sama berliterasi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan, yang diawali oleh kesadaran sebagai suatu bangsa. Bangsa yang berbudaya dan berperadaban di tengah-tengah situasi sulit akibat Pandemi Covid-19. Membangun budaya dan peradaban menjadi salah satu ciri bangsa maju. Dan kami yakin, kita sebagai bangsa Indonesia mampu melakukannya. Melalui lilin kecil ytprayeh.com semoga bisa menerangi lingkungan sekitar.

 

 

Aktivitas literasi kami tidak akan pernah berhenti sampai Tuhan menentukan waktu akhir kami. Kami terus memproduksi kata dan kalimat bermakna bagi dunia, khususnya di Kalimantan Utara. Ternyata tidak mudah dan tak selalu berjalan mulus. Hambatan dan halangan kami jadikan sebagai tantangan.

 

 

Selamat buat www.ytprayeh.com atas pencapaian 1.000 artikel. Sekecil apapun pencapaian wajib disyukuri agar lahir pencapaian-pencapaian berikutnya.

 

Teruslah berliterasi untuk negeri.

 

Baca juga: Media itu Bernama YTPRayeh.com