Rantai Sepedaku Yang Putus
CERPEN
Ini Kisahku KISAH NYATA
“Rantai Sepedaku Yang Putus”
Aku seorang anak petani sekaligus anak seorang transmigrasi. Aku seorang anak ke empat dari delapan bersaudara. Aku juga seorang anak dari keluarga yang pertama mengenyam pendidikan smp. Setelah lulus dari sekolah dasar yang ada saat itu di wilayah pemukiman transmigrasi. Pesan guru kepada kami “nak lanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ya”. Tahun pertama sekolah di jenjang menengah pertama. Aku bersama temanku tinggal di rumah salah satu keluarga yang dekat dengan sekolah. Setahun berlalu dengan lika-liku tinggal di rumah orang. Kini memasuki tahun kedua sekolah di smp. Pada tahun kedua saya memilih tinggal dirumah sendiri tidak tinggal dirumah orang lagi. Meskipun jaraknya cukup jauh dan jalan belum bagus, namun memang beda tinggal dirumah orang tua sendiri dari pada tinggal dirumah orang. Saat itu aku sudah memiliki sepeda sehingga berani sekolah dari rumah, terkadang juga jalan kaki, terkadang pula naik truck. Tahun kedua sekolah smp pun terlewati panas, hujan, senang susah, tetap kujalani.
Kini memasuki tahun ketiga di smp. Ketika itu aku masih duduk dikelas 3 smp tepatnya smpn 1 malinau. Seperti kebiasaanku ketika akan berangkat sekolah. Setelah sholat subuh, aku membersihkan diri dan mempersiapkan segala peralatan sekolah yang akan dibawa. Dari alat tulis hingga bekal lainnya. Sekaligus sepeda sebagai alat transportasi kesayanganku yang setia menemaniku sepanjang perjalanan sekolahku.
Waktu telah menunjukkan jam 06.00 Pagi. Cuaca saat itu tidak lah cerah namun hujan meskipun rintik-rintik. Jarak dari rumahku ke sekolah sekitar 4 s.d 5 km dengan kondisi jalan masih bebatuan yang disusun sebelum proses pengaspalan. Sepanjang jalan kanan kiri masih terdapat hutan dan areal ladang, kebun, sawah. Namun masih banyak ditumbuhi semak belukar. Suara alam masih menjadi musik sepanjang perjalananku. Dengan semangat aku terus menyusuri jalan, mengayuh sepeda tercintaku. Sepedaku bukanlah sepeda baru, hanya sepeda bekas yang masih cukup untuk dikendarai.
Meskipun hujan mengiringi kepergianku ke sekolah. Namun aku harus tetap semangat menuntut ilmu. Setengah perjalanan telah aku lewati. Mulai terasa aneh sepedaku. Rantainya terus sering lepas. Aku sendirian ditengah hutan dalam kondisi hujan semakin membasahi sekujur tubuh. Bercampur keringat dan air hujan membasahi baju sekolah yang ku kenakan. Tanganku mulai hitam kelam karena terkena oli yang melekat di rantai sepeda yang sering lepas. Tak lama kemudian “prak” putuslah rantai sepedaku ketika aku sendirian di tengan hutan. Mau kembali kerumah sudah setengah perjalanan. Dengan niatan kuat meskipun sedih sebagai lelaki harus kuat menahan cobaan. Tidaklah aku mengayuh sepeda lagi namun mendorong sepeda dan berjalan kaki menuju sekolah.
Waktu terus berjalan dan menurut perhitungan, aku sampai sekolah pasti terlambat.
Dalam hati aku berkata “biarlah aku terlambat sampai sekolah, namun aku akan tetap sekolah, semua resiko aku akan jalani bahkan jika aku mendapat sanki karena terlambat sampai di sekolah”.
Benar saja setelah sampai di gerbang sekolah ternyata waktu telah lewat jam. 07. 30 bahkan hampi jam 08. Lewat. Aku pun di panggil oleh guru yang sedang piket saat itu, aku sudah lupa nama guru tersebut.
Di panggilah aku dan disuruh baris di depan kantor dengan kondisi baju basah tangan belepotan kena oli.
Ya sudahlah... aku terima mau bentuk apapun hukumannya, aku terima dan apapun alasannya. Sedih ya sih sedih, sudahlah rantai sepeda putus, sudahlah badan basah kuyup, tangan hitam belepotan oli, eh sampai sekolah terlambat dan kena sanksi lagi.
Tetapi karena aturan jika terlambat mendapatkan hukuman ya sudah saya terima.
Namun apakah aku mundur untuk menuntut ilmu. Oh tentu tidak. Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Tetap semangat menuntut ilmu.
Aku memiliki motivasi yang cukup kuat yaitu “Tuhan tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu tidak mau merubahnya” dan “Tuhan akan meninggikan derajat bagi orang yang berilmu”.
Maka janganlah pernah untuk menyerah dalam menuntut ilmu.