Literasi

Kiriman Buah Lae dari Yansen TP dan Persahatan yang Diikat Ingatan

Kamis, 26 Februari 2026, 07:33 WIB
Dibaca 9
Kiriman Buah Lae dari Yansen TP dan Persahatan yang Diikat Ingatan
Lae dari Yansen TP untuk 3 kawan-rapatnya di Jakarta.

Persahabatan tidak pernah lahir dari riuh. Ia tidak suka panggung. Persahabatan sejati tidak pandai berteriak. Ia justru tumbuh di sela-sela waktu yang dibiarkan kosong. Di antara jeda yang tidak diisi ambisi. Di dalam kesunyian yang bekerja pelan, seperti akar yang menembus tanah tanpa suara.

Kami berempat.

Nama-nama itu bukan sekadar bunyi.

  1. Yansen TP.
  2. Masri Sareb Putra.
  3. Pepih Nugraha.
  4. Dodi Mawardi.

Urutan usia hanyalah penanda musim. Ia tidak pernah menjadi ukuran kedalaman. Sebab kedalaman tidak dihitung dari tahun, melainkan dari kesediaan untuk tinggal. Tinggal dalam percakapan yang panjang. Tinggal dalam perbedaan yang kadang menghangat, kadang mendingin. Tinggal, bahkan ketika kata-kata habis dan yang tersisa hanya diam yang saling mengerti.

Kami menyebut diri Espelindo. Empat sekawan pegiat literasi Indonesia. Sebuah nama yang terdengar seperti singkatan. Ringkas. Efisien. Tetapi barangkali terlalu tipis untuk menampung apa yang mengikat kami.

Sebab yang menyatukan bukan hanya gagasan. Bukan sekadar buku yang ditulis dan dibedah. Bukan pula panggung diskusi yang ramai oleh tepuk tangan. Yang menyatukan justru sesuatu yang tak mudah disebut: kesediaan untuk saling mendengar sampai tuntas. Bahkan ketika yang didengar itu tidak selalu menyenangkan.

Di zaman yang gemar bergegas, kami belajar berjalan lambat. Di masa yang gemar menghitung untung-rugi, kami mencoba memberi tanpa kalkulasi. Tidak selalu berhasil. Tetapi selalu diupayakan.

Barangkali persahabatan adalah bentuk lain dari iman. Ia tidak selalu terlihat, tetapi ia menggerakkan. Ia tidak selalu diumumkan, tetapi meneguhkan.

***

Suatu hari sebuah kardus tiba di Tangerang. Ia datang dari jauh. Dari tanah yang menyimpan akar, kenangan, dan jejak langkah yang tak pernah benar-benar pergi.

Di dalamnya ada buah lae. Pekawai. Dalam bahasa botani disebut Durio kutejensis. Kerabat durian, tetapi tidak segarang saudaranya. Aromanya lebih lembut. Rasanya lebih halus. Seperti tidak ingin memaksa lidah untuk tunduk. Ia hadir tanpa intimidasi.

Kata Yansen, awalnya tujuh buah. Angka ganjil. Sulit dibagi rata. Angka yang seperti mengandung tanya: siapa dapat lebih, siapa dapat kurang?

Tetapi hidup jarang berhenti pada rencana pertama.

Ketika kardus itu dibuka, jumlahnya sebelas.

Sebelas!

Angka itu tidak berteriak. Ia hanya berdiri diam, tetapi dalam. Seperti isyarat kecil bahwa kebaikan sering datang lebih banyak dari yang dijanjikan. Bahwa ketulusan tidak pernah berhitung secara sempit.

Kelimpahan bukan soal jumlah, melainkan soal hati yang tidak takut kehilangan. Hati yang tahu bahwa memberi tidak membuat kita kosong.

Kulit buah lae itu rada lembut dibanding durian. Jika masih mentah, ia keras. Tidak mudah ditembus. Seperti manusia yang ditempa pengalaman. Dari luar tampak tegas. Dari dalam menyimpan luka dan pelajaran.

Namun ketika matang, dagingnya lembut. Manis dengan sedikit pahit di ujung. Rasa yang tidak pura-pura. Tidak seluruhnya manis. Tetapi justru karena itu ia jujur.

Persahabatan pun demikian. Ia tidak selalu manis. Kadang ada pahit yang terselip. Tetapi pahit itu tidak merusak. Ia justru menguatkan rasa.

Buah-buah lae itu kemudian dibagi-bagi. Tidak seperti paralon yang mengantar air, makin ke ujung makin kecil. Pembagian kali ini seperti hukum yang terbalik: makin diberikan makin terasa cukup. Makin dibagi makin ada.

Di situlah filsafat sederhana bekerja tanpa perlu diumumkan. Bahwa kelimpahan bukan soal jumlah, melainkan soal hati yang tidak takut kehilangan. Hati yang tahu bahwa memberi tidak membuat kita kosong.

***

Apa sebenarnya yang dikirim Yansen?

Buah? Atau ingatan?

Barangkali keduanya!

Sebab setiap kiriman selalu membawa sesuatu yang tak tertulis. Ia membawa aroma tanah yang jauh. Ia membawa angin dari kampung halaman. Ia membawa pesan yang tidak perlu diposting, tidak perlu disiarkan.

Persahabatan bukan kontrak. Ia bukan perjanjian yang ditandatangani di atas materai. Ia adalah tali yang tidak tampak tetapi mengikat. Tidak mencekik. Tidak menahan. Hanya menjaga agar kita tidak tercerabut dari akar.

Di dunia yang semakin cair, di mana relasi mudah putus seperti benang basah, sebelas buah lae itu terasa seperti pernyataan diam. Bahwa masih ada ketulusan yang tidak dipamerkan. Masih ada perhatian yang tidak dihitung dalam statistik media sosial.

Buahnya mungkin telah habis. Dimakan. Dibagi. Disimpan sebentar dalam ingatan lidah.

Tetapi maknanya tinggal.

Ia tinggal dalam dada sebagai rasa cukup. Sebagai keyakinan tenang bahwa persahabatan tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari seberapa dalam saling mendoakan dalam diam.

Dan mungkin di situlah inti persahabatan. Bukan pada apa yang terhidang di meja. Melainkan pada apa yang tumbuh di dalam jiwa. Sebuah rasa yang tidak gaduh.

Seutas tali yang tidak tampak. Namun tetap terikat.

Tangerang, 26 Februari 2026