Bijaksana vs Usia Senja
"Kebijaksanaan tidak datang dari usia, tapi dari pendidikan jiwa yang tak henti disiram pengalaman." - Dodi Mawardi
Satu dekade setara satu babak. Bagi seorang pengelana intelektual, usia bukan sekadar deret angka di KTP. Usia bagaikan proses penyulingan batin.
Kebijaksanaan (phronesis) ibarat arus tenang di kedalaman samudra yang hanya bisa dicapai setelah melewati berbagai badai. Bukan melompati angka-angka ulang tahun.
Seharusnya, bertambahnya usia menjadi sebuah transisi dari "memiliki" menjadi "memahami". Dua hal yang punya makna amat berbeda.
Secara psikologis, usia 40 adalah titik Generativity vs. Stagnation. Saya kutip dari teori Erik Erikson. Banyak psikolog yang masuk golongan atau mazhab mas Erik ini.
Konon di sinilah sebagian manusia mulai bertanya. "Warisan apa yang akan aku tinggalkan?"
Apakah Anda termasuk yang merenungkan hal ini?
Filsuf Yunani Aristoteles menyebut masa ini sebagai Akme. Puncak kekuatan fisik dan mental yang bertemu di satu persimpangan. Seperti jam tayang utama (prime time) di redaksi berita. Seru dan bernilai tinggi.
Di usia ini, seseorang sedang lincah-lincahnya mengetik naskah kehidupan. Namun, mulai menyadari bahwa tinta miliknya tidaklah abadi.
Kebijaksanaan di usia 40 adalah keberanian untuk mengakui keterbatasan. Dia bukan lagi tentang mengejar segala hal, melainkan tentang memilih pertempuran yang layak dimenangkan.
Fase "pembersihan rak buku". Membuang teori-teori sampah dan hanya menyimpan literatur yang bergizi bagi jiwa.
Memasuki kepala lima, kacamata kuda mulai tanggal. Dalam tradisi Tionghoa, hal ini disebut sebagai masa Wan-Xiang. Seseorang mulai melihat pola-pola besar dalam semesta.
Kebijaksanaan di usia 50 tidak lagi meledak-ledak seperti orasi aktivis di jalanan. Tetapi, lebih menyerupai esai Tajuk Rencana ala Kompas atau Catatan Pinggir ala GM yang tenang namun menghujam.
Pada tahap ini, prinsip Stoikisme sering kali menjadi jangkar. Seseorang mulai paham mana yang bisa dikendalikan (pikiran dan tindakan sendiri) dan mana yang harus dilepaskan (opini orang lain dan nasib).
Seperti kopi yang telah mengendap ampasnya. Usia 50 menawarkan cairan yang bening dan rasa yang mantap. Bukan kopi ala kekinian yang lebih terapa manis dibanding pahit. Tidak serealistis kehidupan.
Manusia bijak usia 50-an tak lagi mengenal ambisi buta untuk menaklukkan dunia. Yang ada adalah keinginan untuk mengasuh dunia. Membina, membimbing, mendidik, dan melestarikan generasi lanjutan yang lebih baik darinya.
Beda lagi dengan manusia bijak usia 60. Di angka 60, kebijaksanaan bertransformasi menjadi Integritas Ego. Bagi mereka yang beruntung, ini adalah fase transendensi. Filsafat eksistensialisme memandang usia ini sebagai puncak kesadaran akan "waktu yang dipinjam".
Usia 60 bagaikan sebuah perpustakaan tua yang harum aroma kertasnya. Setiap kerutan di wajah adalah catatan kaki dari sebuah perjalanan panjang.
Saya ingat kalimat om Bob Sadino yang bukunya saya tulis. "Bedahlah saya ini, ibarat gitar tua yang masih bisa mengalunkan irama." Irama dan aroma yang bertuah untuk semesta.
Kebijaksanaan usia 60 ke atas adalah kemampuan untuk memaafkan masa lalu dan menyambut masa depan tanpa kecemasan. Tiga guru saya berliterasi: Yansen TP., Masri Sareb Putra, dan Pepih Nugraha, masuk kategori ini.
Saya pegang pepatah klasik, "Orang muda tahu aturannya, tapi orang tua tahu pengecualiannya." Setiap kali berinteraksi dengan mereka. Yang kadang membawa saya melompat ke usia mereka.
Di usia ini, kami tidak lagi berdebat tentang definisi benar-benar, benar-salah, atau salah-salah. Akan tetapi, lebih peduli pada apa yang membawa manfaat dan maslahat.