Filosofi

Berusaha Tetap Waras Hidup di Zaman Edan

Sabtu, 11 April 2026, 10:03 WIB
Dibaca 10
Berusaha Tetap Waras Hidup di Zaman Edan

Pepih Nugraha

Penulis senior

Saya menggarisbawahi kalimat "hidup benar dan mulia" dari Pak Yansen Tp lewat sebuah status Facebook-nya yang singgah di beranda saya. Saya merasa, itulah kunci hidup yang sejatinya.

Saya nyaris tidak melewatkan tutur-kata orang yang menjadi "guru kehidupan" bagi saya itu karena selain berteman di Facebook (friend), otomatis mengikutinya (follow). Alhasil, aktivitas literasi Pak Yansen di media sosial saya ikuti dan kadang berinteraksi. 

Dalam postingan terbarunya, Pak Yansen membedah kegelisahannya tentang "zaman edan", sebuah istilah lejen yang dipopulerkan R.Ng. Ronggowarsito berabad-abad lalu, namun entah mengapa hari ini terasa jauh lebih bergema lagi. 

Mungkin ada kekesalan yang meluap ketika Pak Yansen melihat realitas sosial, lalu tanpa sadar menggumamkan kata-kata yang sebenarnya tak enak di lidah dan di telinga: "Edan", "Bodoh", dan "Tolol".

Siapa yang mau disebut bodoh? Tidak ada. Di era informasi ini, semua orang berlomba-lomba memoles citra diri agar tampak intelek. Gelar berderet, kutipan filsuf diunggah di media sosial, dan perdebatan kusir terjadi di setiap sudut kolom komentar. Kita merasa berada di tengah lautan orang pintar. 

Orang yang benar-benar waras dan cerdik sebenarnya tahu bahwa di sekeliling mereka tidak kekurangan orang pandai. Kita punya ribuan profesor, jutaan sarjana, dan tak terhitung jumlah orang yang fasih bicara tentang kebijakan publik. Namun, kenapa suasana terasa semakin sesak dan kering?

Itu karena kepintaran sering kali berdiri sendiri tanpa dikawal oleh pengendalian diri. Kita melihat orang "pintar" yang justru menggunakan kecerdasannya untuk memecah belah, mencari celah demi keuntungan pribadi, atau sekadar memuaskan ego untuk merasa paling benar. Mereka berakal, tapi kehilangan "rasa".

Sebaliknya, mereka yang benar-benar berakal akan memilih jalan yang berbeda. Mereka tidak sibuk berteriak di podium untuk membuktikan eksistensinya.

Mereka justru tampil dengan "kasih" dan "suka" cita, bukan sebagai jargon, tapi sebagai laku hidup. Kesabaran dan kemurahan dengan menghadapi perbedaan secara dada lapang. Kelemah-lembutan, yakni kekuatan sejati yang tidak perlu menindas untuk menang.

Kebenaran hidup yang mulia sebenarnya sederhana, namun paling sulit dipraktikkan, yakni saling menerima dan memberi. Sebuah harmonisasi yang menuntut kita untuk selesai dengan diri sendiri sebelum mengurusi dunia.

Di zaman yang "mendewakan" kecepatan, mereka yang memilih untuk sabar sering dianggap "bodoh" karena tidak ikut berebut. Mereka yang memilih mengalah demi kedamaian sering dicap "tolol" karena dianggap lemah. Dan mereka yang tetap mengedepankan kasih di tengah kebencian yang membara sering disebut "edan" karena tidak mengikuti arus zaman.

Ah, jangan-jangan di zaman ini, menjadi "Edan, Bodoh, dan Tolol" di mata dunia adalah satu-satunya cara bagi kita untuk tetap menjadi manusia yang waras di hadapan Tuhan dan nurani.

Sebab, ketika semua orang merasa paling pintar untuk menghakimi, hanya orang yang "bodoh" yang masih memiliki ruang untuk belajar mencintai. Saya merasa, di situlah letak kemuliaan yang sebenarnya.

Semoga apa yang tulis ini memperkaya pandangan Pak Yansen tentang kehidupan

***