Pemimpin Tanpa Ruangan
Biasanya, status sebagai pemimpin setali tiga uang dengan singgasana. Bikin tak mau turun darinya. Dulu, raja-raja punya istana yang megah. Ruang kerja yang mewah. Kamar tidur yang melenakan.
Kini, sama saja.
Singgasana para pemimpin dari level presiden, menteri, gubernur, bupati, bahkan sampai kepala desa, bikin betah pemiliknya. Kantor para kepala tentara dan polisi di setiap level juga demikian. Ruangan para direksi perusahaan multinasional atau BUMN juga begitu. Bikin betah berlama-lama.
Namun, ada satu jalan sunyi yang dipilih segelintir pemimpin.
Mereka memilih tanpa ruangan. Tanpa singgasana. Mereka memilih "tunawisma" di kantornya sendiri. Kantor yang dipimpinnya. Kalaupun ada, hanya sebagai syarat pemenuhan administrasi.
Pola pemimpin tanpa ruangan ini bukan kecelakaan manajemen. Ini suatu pilihan eksistensial.
Bagi pemimpin jenis ini, seluruh area kantor adalah ruang kerjanya.
Baginya, kantor bukan lagi sebuah hierarki kotak-kotak beton. Kantor adalah ekosistem yang bernapas. Dia menghilangkan sekat beton serta tembok antara atasan dan bawahan. Dia sekaligus sedang melakukan tindakan subversif terhadap tradisi kekuasaan yang kolot.
Dalam tinjauan filsafat, pemimpin tanpa ruangan adalah perwujudan Peripatetik (Yunani). Seperti Aristoteles yang mengajar sambil berjalan. Dia menemukan kebenaran di atas tanah, bukan di balik dinding. Kekuasaan baginya bukanlah bentuk (eidos) yang statis, melainkan aksi nyata di tengah suatu wilayah (polis).
Lain lagi dalam filsafat Islam. Pola memimpin tanpa ruangan ini menyentuh ruh Siyasah Syar'iyyah. Meneladani Khalifah Umar bin Khattab yang tidur di bawah pohon kurma tanpa pengawal. Ia mempraktikkan filosofi khadimul ummah (pemimpin adalah pelayan). Tiada sekat ruang sebagai manifestasi menjauh dari kemegahan duniawi. Pemimpin jenis ini adalah jembatan hidup antara langit visi dan bumi realitas.
Di era modern Indonesia, hanya ada beberapa gelintir pemimpin jenis ini. Sangat jarang. Satu, Dahlan Iskan, yang pernah menggegerkan birokrasi dengan sepatu ketsnya. Dua, Ignatius Jonan, yang lebih memilih tidur di gerbong kereta demi merasakan denyut nadi rel daripada mendekam di kantor pusat yang nyaman. KDM (Kang Dedi Mulyadi) yang lebih karib dengan debu jalanan daripada aroma ruang rapat ber-AC.
Mereka sadar bahwa kebenaran organisasi jarang sekali ditemukan di balik tumpukan laporan yang sudah dipoles. Realitas otentik ada di garis depan. Di tempat di mana keringat yang dipimpin menetes.
Setiap pagi, saat matahari masih malu-malu menyentuh pucuk pohon, ritual itu dimulai. Pemimpin tanpa ruang, tidak duduk manis menunggu sekretaris membawakan agenda. Dia berkeliling kantor atau wilayah kuasanya. Menyapa. Mendengar. Menghampiri. Berinteraksi.
Suatu transformasi psikologis yang dahsyat ketika nakhoda yang menghampiri anak buah kapal, bukan sebaliknya. Bukan untuk inspeksi mendadak, tapi untuk mendekat. Berdialog atau sekadar bertanya kabar. Kadang, tak ada sesuatu yang penting, apalagi genting.
Semua hal itu berkebalikan dengan panggilan untuk menghadap. Dalam psikologi kekuasaan, "menghadap" adalah tindakan yang melelahkan bagi bawahan. Ada beban mental. Ada sensor kata-kata. Ada kecemasan akan penilaian.
Namun, ketika pemimpin yang datang "bermain" ke wilayah mereka, suasana berubah menjadi dialog yang organik. Di sana, di tempat kerja masing-masing, bawahan merasa dihargai secara utuh sebagai manusia. Bukan sekadar angka dalam tabel produktivitas penilaian HRD.
Di bawah naungan pohon atau di sudut ruang, percakapan mengalir tanpa filter. Seorang pemimpin tanpa ruangan akan segera tahu jika ada mesin yang rusak. Ada hati yang patah. Atau ada ide cemerlang yang selama ini tersumbat oleh saluran komunikasi yang mampat.
Ia menjadi lebih dekat. Kedekatan ini bukan pencitraan. Ini adalah metode untuk menyerap realitas tanpa distorsi. Tentu, pola ini tidak mudah. Ada harga yang harus dibayar: hilangnya privasi dan kenyamanan fisik.
Tanpa ruangan, sang pemimpin kehilangan tempat untuk bersandar sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Ia harus siap menjadi milik publik selama berjam-jam.
Namun, bukankah itu esensi dari melayani?
Seperti yang pernah ditulis oleh Goenawan Mohamad dalam seuntai Catatan Pinggir Majalah Tempo. Kekuasaan sering kali membuat orang lupa pada "sentuhan". Ruangan yang tertutup adalah cara paling efektif untuk membunuh sentuhan itu.
Selama memimpin Sekolah Alam Cikeas sebagai Direktur, saya adopsi pola pemimpin tanpa ruangan. Saya tidak punya ruangan, apalagi sekelas singgasana. Ruangan saya adalah tempat seluruh anak buah bekerja.
Dengan demikian, "sentuhan" saya tidak akan mati.