Filosofi Ganteng ala Pegiat Literasi
Wajah yang enak dipandang barangkali hanyalah ornamen permukaan. Namun di balik pemandangan estetis itu, kegantengan (ketampanan) atau kecantikan menjadi medan tempur gagasan di mata empat sekawan pegiat literasi.
Dalam kacamata psikologi, kita mengenal Halo Effect. Suatu bias kognitif. Satu atribut positif mampu membutakan persepsi terhadap kualitas lainnya. Orang ganteng, secara otomatis, sering dianggap lebih dibanding yang lain, termasuk lebih cerdas dan jujur. Bias yang sering membahayakan.
Namun, Dr. Yansen TP, pegiat literasi, Wakil Gubernur Kaltara periode 2021-2024, tampaknya punya radar yang lebih tajam dari sekadar bias kognitif tersebut. Baginya, ketampanan bukan komoditas visual, melainkan sesuatu "yang lebih abadi", yang melampaui hukum fisika.
Di mata YTP, sosok Pepih Nugraha, sang begawan citizen journalism (pendiri Kompasiana), memiliki ketampanan yang menuntut kedalaman intuisi.
"Gantengnya Pak Pepih hanya bisa disimak oleh orang yang kuat instingnya. Gantengnya dari dalam," tuturnya.
Hal ini selaras dengan pandangan filsafat Platonis. Keindahan fisik hanyalah tangga pertama menuju Agathon (Kebajikan). Ketampanan Pepih adalah jenis yang memancar dari integritas intelektual. Sebuah "cahaya" yang hanya tertangkap oleh mereka yang punya frekuensi rasa yang sama.
Lain lagi dengan Masri Sareb Putra. Sastrawan Dayak Angkatan 2000 ini membawa dimensi estetika yang tak tersentuh penggaris materialisme. YTP menyebut kegantengan Masri "tidak bisa diukur oleh kejelian mata, tetapi oleh rasa di hati." Di sini, ketampanan bertransformasi menjadi pengalaman fenomenologis. Ganteng karena dirasakan, bukan karena dilihat.
YTP memberikan deskripsi yang unik untuk Dodi Mawardi, penulis produktif sekaligus Direktur Sekolah Alam Cikeas. "Pak Dodi memiliki ganteng yang khas. Tidak seorang pun yang berani mengatakan jelek, juga tidak ada yang berani mengatakan ganteng, karena tidak berani memberi batas standar gantengnya."
Dalam narasi ini, YTP menggambarkan Dodi sebagai perwujudan dari "yang sublim". Sesuatu yang melampaui kategori indah atau buruk hingga kita kehilangan kata-kata untuk membatasinya. Jika materialisme memandang wajah sebagai aset yang bisa susut nilainya, YTP justru menegaskan bahwa ketampanan ketiga sahabatnya ini bersifat antithesis terhadap waktu.
"Tiga jagoan memiliki kegantengan abadi. Tidak lapuk karena hujan, tidak lekang karena panas. Jika bertemu sepuluh, dua puluh tahun lagi, ketiganya tetap ganteng."
Dr. Yansen TP
Di tangan pegiat literasi ini, istilah ganteng bukan lagi soal serum mahal atau filter kamera via medsos. Ganteng adalah narasi yang ditulis dengan tinta konsistensi dan dedikasi.
Berhala materialisme dihancurkan untuk memunculkan kemanusiaan yang lebih murni. Kegantengan jenis ini tidak akan memudar, meski zaman terus berganti kulit.