Budaya

Ponti'; Bahan Adat Gawai Nyopat Soa Dayak Kancikgh

Rabu, 11 Maret 2026, 09:40 WIB
Dibaca 22
Ponti'; Bahan Adat Gawai Nyopat Soa Dayak Kancikgh
Ponti'; Bahan Adat Gawai Nyopat Soa Dayak Kancikgh

      Acara Gawai "Nyapat Tahun" merupakan tradisi yang umum ditemukan di kalangan Masyarakat Dayak di Kabupaten Sekadau. Nama dan penuturannya saja yang mungkin berbeda antara satu Suku dengan Suku Dayak lainnya. Dayak Ketungau Tesaek menyebutnya sebagai "Gawei Nyapat Taon," sementara itu Dayak Mualang menyebutnya "Gawai Naik Durong," Dayak Kerabat, Jawant, Sawe, Taman menyebutnya "Gawai Nyapat Taun," sementara Dayak Mentuka, Koman dan Kancikgh menyebutnya "Dogawai Nyopat Soa." Walaupun sebutannya berbeda, namun makna, maksud dan tujuan inti dari acara tersebut pada dasarnya adalah sama yaitu pesta syukur atas berkat yang diterima oleh Masyarakat Dayak dari Sang Maha Kuasa atas hasil panen yang melimpah yang telah mereka kumpulkan beberapa saat sebelumnya yaitu pada saat musim panen padi.

    Khusus Masyarakat Suku Dayak Kancikgh, moment "Dogawai Nyopat Soa" tersebut tidak sempurna jika tidak dilengkapi dengan ritual "ngkata."

Dan sesungguhnya, pokok  atau inti daripada acara Dogawai Nyopat Soa itu adalah di ritual "ngkata" tersebut, yaitu ritual pemberkatan "ponti'."

      Ngkata atau berkisah dilakukan dengan cara melafalkan kisah atau dongeng mengenai perjuangan nenek moyang dalam memperoleh berkat dari Sang Pencipta sehingga mereka bisa bertahan hidup dengan bercocok tanam dan memperoleh hasil panen yang melimpah sebagai berkat yang diberikan oleh Alam Semesta dan Sang Maha Kuasa. Dan juga, jika hasil panen tahun sekarang  nyatanya kurang maksimal, maka melalui ritual ini adat membuat sekat (sopat) antara tahun sekarang dan tahun depan agar kegagalan dan kendala yang dialami tahun sekarang tidak terjadi lagi di tahun depan. Oleh karenanya maka acara pesta syukur sehabis panen di kalangan Masyarakat Dayak Kancikgh di sebut gawai "Nyopat Soa" atau membuat sekat antara tahun sekarang dengan tahun depan. 

    Ponti' adalah bahan-bahan ritual yang diambil dari pohon-pohon atau tumbuh-tumbuhan tertentu dan diberi gelar tertentu pula. Adapun nama bahan-bahan ponti menurut adat-istiadat dan tradisi Dayak Kancikgh (dinarasikan menggunakan penuturan asli Dayak Kancikgh) adalah sebagai berikut:

Lompaokgh Aji Boliatn; nyak ngoliat sogala sesuatu nik aya ngonak ngonyaya gik nok mae kona ngak iyah anakng monsia;
Puyakng Bujang Sanga'; nyak nyangak sogala ponyakit pomodeh, tinik bisa tajapm tinik ngona ngonyaya, tinik budakng moti, angatn nsau, gik nok mae kona ngak iyah anakng monsia;
Akai Rarakng Litakng Jalatn; nyak ngolintakng sogala hal nik mae bagas, jat jakat, mimpi sonapm, dasak poyasa, sial sobal, gik nok mae kona ngak iyah anakng monsia;
Kotimakng Rarae Tanyokng; nyak ngorarae ponyakit pomodeh, tinik mangah mungah, tinik angatn nsau dasak poyasa, tinik ngona ngonyaya, gik nok mae kona ngak iyah anakng monsia;
Sompanae; nyak ngansa iyah panae bojantoh bocorita ngak antu jolu gik noh mae konyaya ngak iyah, nyak ngolawatn sampar somparatn, tinik jat jakat, tinik ngansa dosa doraka, gik noh kalah, gik noh mae konyaya ngak iya anakng monsia;
Molali Pomalik Mati; nyak mponakng bahwa midup iyah anakng monsia nto arus bopantakng bopontik, borajah bosileh, bopontik botulak, bopomalik mati, rapi dingak adat gari;
Sontabar; nyak nabar numpor ponyakit pomodeh, nyak nabar numpor tinik bisa tajapm, mongkol kalat, tinik ngonak ngonyaya, nyak nabar numpor sogala sampar somparat;
Kumpakng Mati Bakat; nyak ngansa iyah bobakat, ngansa iyah panae bojantoh bocorita, boiger bopaner, nyak ngolawatn sogala nik aya ngonak ngonyaya, sampar somparat, gik iyah monang dietn nyen kalah;
Mporingat; nyak ngingat sogala adat gari, ator midup, gik mae iyah anak monsia nto galak konomot, galak salah.    
     Ponti' merupakan adat-istiadat dan tradisi yang mengandung nilai filosofi kebersatuan Masyarakat Dayak Kancikgh dengan alam dan Sang Pencipta. Kita menyembah Sang Pencipta, menghargai dan memelihara alam, maka mereka juga pasti akan melindungi kita dari bencana dan mara bahaya. Semoga

Tags : budaya