Raurus
Di sebuah lembah hijau bernama Lembah Lumut, hiduplah seekor dinosaurus bernama Raurus. Tubuhnya besar, ekornya panjang, memiliki kulit berwarna biru, dan suaranya yang aneh dari dino lainnya. Setiap kali ia tertawa, bunyinya seperti batu jatuh ke Sungai, dukdukduk! Dino-dino lain sering menoleh ke arahnya, sebagian tersenyum, sebagian lagi tertawa. Raurus dikenal sebagai dino yang periang dan jenaka. Ia bisa tertawsa hanya karena melihat bayangannya sendiri di air atau ketika angin meniup daun ke arah yang salah. Ia tidak terlalu peduli dengan dinosaurus lain bukan karena sombong, tapi karena dunia baginya sudah cukup menyenangkan tanpa harus sibuk memikirkan pendapat siapa pun.
Namu nada satu hal yang membuat Raurus berhenti tertawa, ketika ada yang meminta tolong. Meski sering terlihat acuh, Raurus tak pernah menolak bantuan. Jika ada Trico kecil yang kesulitan mengambil buah di pohon tinggi, Raurus akan datang. Jika ada Steg atua kelelahan membawa kayu sarang, Raurus akan memikulnya. Ia membantu tanpa banyak bertanya, lalu pergi sambil tertawa riang seolah tak terjadi apa-apa. Masalahnya, tidak semua dino di Lembah Lumut berhati sebersih Raurus.
Suatu pagi, Dino-dino lain berkumpul di bawah Pohon Purba. Ada Bronto yang besar dan licik, ada Velci yang gesit dan pandai bicara. Merkea saling pandang, lalu tersenyum kecil.
“Raurus pasti mau bantu,” kata Velci sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
“Iya, dia kan selalu begitu,” sahut Bronto.
Dan benar saja.
Hari itu, Raurus diminta membantu mengumpulkan buah, membangun sarang, bahkan menjaga telur-telur dinosaurus lain sementara mereka pergii bermain di Sungai. Raurus melakukannya sambil tertawa. Ia lelah, tapi hatinya hangat. Ia berpikir, tidak apa-apa, membantu itu hal yang menyenangkan.
Namun, hari demi hari, Raurus mulai merasa aneh.
Setiap kali ia butuh bantuan, saat kakinya terjeput akar, saat sarangnya roboh karena hujan. Tak ada satu pun dino yang datang. Mereka sibuk atau pura-pura tidak mendengar, bahkan ada yang tertawa kecil lalu pergi begitu saja.
Raurus duduk sendiri di tepi Sungai. Ia menatap bayangan dirinya di air dengan termenung. Untuk pertama kalinya, tawanya hilang.
“Apa aku membantu mereka karena aku terlalu baik atau karena aku mudah dimanfaatkan?” gumamnya.
Malam itu, hujan turun pelan. Raurus menatap langit, merasa dadanya berat. Ia tidak marah, tapui kecewa. Ia tidak peduli disukai atau tidak, tapi ia peduli pada ketulusan.
Keesokan harinya, Bronto datang lagi.
“Raurus! tolong dong angkatkan batu-batu ini. Kami mau bikin lapangan bermain.”
Raurus menatap Bronto. Biasanya ia langsung tertawa dan mengangguk. Tapi hati itu, ia diam.
“Apa kamu tidak akan membantu aku nanti kalau aku butuh?” tanya Raurus pelan.
Bronto terdiam. Velci yang berdiri di belakangnya tertawa kecil.
“Ah, nanti saja dipikirkan,” ucap Bronto.
Raurus tersenyum, namun senyumnya kecil, bukan senyum tertawa seperti biasanya.
“Maaf.” Katanya. “Hari ini aku tidak membantu.” Ucap Raaurus kepada Bronto dan Velci.
Bronto mendengus kesal. Velci pergi sambil menggerutu. Untuk pertama kalinya, Raurus memilih dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu. Awalnya, Raurus merasa sepi. Tapi lama-lama, ia merasa lebih ringan. Ia tetap membantu namun hanya pada mereka yang benar-benar membutuhkan, bukan yang memanfaatkan.
Suatu sore, Trico kecil datang dengan kaki terluka.
“Raurus! aku butuh bantuan,” katanya lirih.
Raurus menurunkan tubuhnya dan tersenyum lebar.
“Tentu, duduklah, aku akan membantu mengobati kakimu,”.
Dan saat itu, Raurus kembali tertawa lagi dengan riang gembira, suaranya kembali menggema di Lembah Lumut. Kali ini, tawanya bukan karena diminta, bukan karena dimanfaatkan melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa menjadi baik itu indah, tapi menjaga diri sendiri itu perlu.