Sosok

Kebosanan, Jalan Menuju Kebodohan atau Gerbang Kedewasaan?

Kamis, 29 Januari 2026, 05:48 WIB
Dibaca 7
Kebosanan, Jalan Menuju Kebodohan atau Gerbang Kedewasaan?

Pepih Nugraha

Penulis senior

Sebelum masuk pada pembahasan tentang "bosan" atau "kebosanan" ini, saya ajak Anda melihat gambaran tentang sosok Julio Granda Zuniga. Dia adalah pecatur yang membuktikan bahwa grandmaster, gelar tertinggi dalam permainan catur, hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Pecatur manapun paham, tanpa pelatih, seorang pecatur tidak akan mampu meraih grandmaster. Selain itu, pecatur juga perlu menyediakan berjam-jam dalam sehari untuk belajar catur. 

Tetapi Zuniga benar-benar pecatur anomali. Sepanjang karier caturnya yang cemerlang, ia minim pelatih dan hanya membaca satu buku catur, itu pun hanya karena bosan.

Sekarang, Zuniga meninggalkan dunia catur elit untuk menjadi seorang petani. Pada usia 58 tahun, juara empat kali Amerika Serikat ini mundur dari dunia catur, tetapi kisahnya sangat menarik perhatian. 

Apakah keputusannya menjadi "hanya" seorang petani dari gemerlapnya dunia catur suatu kemunduran atau bahkan kekalahan dalam menyisati kehidupannya? Saya tidak tahu.

Tetapi dari kisah Zuniga yang partai-partai caturnya biasa saya ikuti, saya mendapat satu poin penting, yaitu "bosan" atau "kebosanan".

Yuk gelar tiker menikmati camilan sambil mendengarkan cerita pendek saya...

Telah lama saya meyakini bahwa kebosanan sering dianggap musuh yang harus segera disingkirkan. Saat bosan datang, kita buru-buru mencari pelarian seperti gawai, hiburan, ambisi baru, gitaran dan seterusnya. Ironisnya, justru di sinilah banyak kebodohan lahir. 

What? Kebodohan? Ya, bukan karena manusia kekurangan pengetahuan, tetapi karena ia tak sanggup berdiam bersama kebosanannya sendiri. Sampai di sini mungkin paham, ya.

Martin Heidegger yang buku tebalnya "Sein und Zeit" pernah saya baca —tetapi tetap sulit saya mengerti— melihat kebosanan sebagai keadaan eksistensial yang memaksa manusia berhadapan dengan pertanyaan paling dasar: untuk apa hidup ini dijalani?

Pertanyaan itu tidak nyaman, maka kebanyakan orang lari. Pelarian tanpa refleksi inilah yang menjelma kebodohan. Itu maksud saya tadi. Hidup ramai, tetapi hampa arah.

Namun kebosanan tidak selalu buruk, setidaknya buat saya yang pernah mengalaminya (bosan menulis, misalnya). Ia bisa menjadi tanda bahwa suatu aktivitas telah kehilangan makna, bukan karena gagal, melainkan karena terlalu dikuasai. 

Di sinilah lari dari kebosanan bisa menjadi positif jika ia membawa manusia pada bentuk hidup yang lebih jujur, lebih bermakna.

Kasus Zuniga menarik untuk dibaca. Di usia 58 tahun sejatinya ia masih mampu bersaing dengan pecatur-pecatur baru, bahkan sesama pecatur senior seperti Viswanathan Anand atau Garry Kasparov. Namun itu tadi, ia lebih memilih meninggalkan dunia catur dan menjadi seorang petani. 

Secara logika prestasi, keputusan ini tampak irasional, apalagi bertani merupakan dunia baru baginya. Mengapa ia meninggalkan medan yang justru telah ditaklukkannya sempurna?

Maka filsafat menawarkan jawaban lain. Aristoteles membedakan prestasi dari "eudaimonia", yakni hidup yang bermakna. 

Catur adalah dunia kalkulasi dan kontrol, bertani adalah dunia kesabaran dan penerimaan. Jika catur melatih kemenangan, bertani melatih kerendahan hati. Zuniga tidak lari ke kebisingan baru, melainkan ke kesunyian yang produktif.

Maka lari dari kebosanan tidak selalu tanda kebodohan. Ia menjadi bodoh jika tujuannya menghindari berpikir. Ia menjadi bijak jika tujuannya menemukan makna baru

Kebosanan sejatinya alarm, reminder atau apalah namanya di mana yang bodoh bukan mereka yang berhenti, melainkan mereka yang terus bergerak tanpa tahu mengapa. 

Dan, hidup semacam itu seberapa sibuk pun, sesungguhnya sudah berhenti lama sekali.

Jadi, apa yang salah lari dari kebosanan dengan tujuan menemukan dunia baru yang lebih bermakna dan menyenangkan? 

Nothing! 

Zuniga telah melakukannya dengan kesadaran penuh dan penuh kesadaran. 

***

Bintaro, 29 Januari 2026