Persahabatan yang Menjaga Api Menulis Tetap Menyala
Saya sering berpikir bahwa persahabatan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk pertemuan rutin, tawa panjang, atau obrolan tanpa jeda sambil nyeruput kopi panas. Kadang ia muncul justru sebagai pengingat sunyi; sebuah kalimat singkat, sebuah perhatian kecil, yang datang di saat kita nyaris menyerah pada diri sendiri.
Ketika Yansen Tp, seorang penggerak literasi yang bukan sekadar sahabat tetapi sudah menjadi saudara, mengatakan bahwa ia terkesan dengan tulisan-tulisan saya di Facebook dan meminta saya untuk tetap menulis, mendadak saya tersentak. Bukan karena pujian itu, melainkan karena maknanya.
Dunia memang ribut oleh popularitas instan dan angka keterlibatan, ada seseorang yang membaca dengan sungguh-sungguh, lalu merasa perlu menjaga api kecil itu agar tidak padam. Baranya yang menyala terus ia tiupi menggunakan pipa semangat sampai saya tersengat sendiri.
Persahabatan semacam ini tidak bertumpu pada transaksi sosial. Ia tidak menuntut balasan, tidak mencari panggung, tidak menukar dukungan dengan kepentingan. Ia berdiri di atas pengakuan nilai bahwa apa yang saya kerjakan —menulis, berpikir, merawat kata— punya arti, meski tidak selalu ramai.
Secara filosofis, persahabatan sejati adalah relasi yang mempertemukan kita kembali dengan keutamaan diri. Aristoteles menyebutnya sebagai persahabatan berbasis kebajikan (virtue), di mana sahabat tidak menyanjung, tapi meneguhkan. Tidak mendorong kita menjadi orang lain, melainkan membantu kita setia pada siapa diri kita sebenarnya.
Saya sadar, dorongan untuk tetap menulis bukan sekadar nasihat. Ia adalah bentuk tanggung jawab moral yang halus, bahwa ketika seseorang percaya pada kerja batin kita, maka berhenti menulis berarti juga mengkhianati kepercayaan itu.
"Pak Pepih tidak boleh pensiun," kata Yansen suatu waktu, benar-benar menampar kesadaran saya yang memang sedang terlena oleh candu "slow living" alias "the art of doing nothing".
Maka saya menulis lagi. Bukan karena ambisi, bukan karena algoritma, tetapi karena persahabatan sejati, seperti yang saya pelajari tadi malam saat Yansen menyapa di panggilan video grup. Ia menjaga saya tetap setia pada panggilan sunyi sendiri.
Saya terpanggil. Saya menyadari.
***
Bintaro, 28 Januari 2026