Literasi

Media Literasi Digital Itu Bernama YTPrayeh.com

Minggu, 10 Januari 2021, 07:30 WIB
Dibaca 471
Media Literasi Digital Itu Bernama YTPrayeh.com
Saat membuat

Pepih Nugraha

Penulis senior

Selain sukses berkarier di birokrasi dan politik, Yansen Tipa Padan melangkah ke depan lebih maju lagi di bidang literasi. Jika dalam kehidupan telah "selesai" sehingga tidak ada lagi yang harus ia kejar, tidak demikian halnya dalam literasi. Literasi adalah proses yang belum selesai dan bahkan tidak akan pernah selesai. Ia merupakan "never ending process" dalam kehidupannya.

Selama ini Literasi konvensional yang telah Yansen jalankan mengambil bentuk teks berupa buku yang ia tulis, kini melangkah menjadi literasi digital dengan lahirnya YTPrayeh.com di awal tahun 2021, sebuah "jembatan" yang akan mengubah prilaku bermedia, khususnya para penulis di dalamnya, dengan semangat literasi yang terbarukan. 

Sebelum melangkah jauh dengan penjelasan YTPrayeh.com, perlu dijelaskan terlebih dahulu secara biografis singkat siapa Yansen Tipa Padan (YTP). Ia adalah Bupati Malinau, sebuah kabupaten di Kalimantan Utara, selama dua periode (2011-2021). Pada Pilkada serentak 9 Desember 2020 lalu, Yansen berhasil menjadi Wakil Gubernur Kaltara. Suami Ping Ding kelahiran 14 Januari 1960 ini berpasangan dengan gubernur terpilih, Zainal Arifin Palliwang dan akan menjalankan tugasnya selaku wakil kepala daerah hingga 2024.

Dengan pengalamannya yang demikian komplet di birokrasi, Doktor ilmu pemerintahan yang menulis sejumlah buku ini juga memegang jabatan penting di partai politik, kendaraan yang mengantarkannya menjadi bupati dan wakil gubernur, yaitu sebagai Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, yang berarti "orang kedua" setelah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Kecintaannya pada dunia literasi, salah satunya ia wujudkan dengan menulis beberapa buku "ikonik" di bidang pemerintahan -khususnya buku "Revolusi dari Desa" dan "Kaltara Rumah Kita". Membuka tahun baru dan menandai pencapaian usianya yang ke-61 pada 14 Januari 2021 nanti, Yansen berketetapan hati membuat sebuah wadah literasi digital yang ia beri nama YTPrayeh.com.

Keinginan adanya "media literasi" dipaparkan dalam sebuah pertemuan pada 20 Agustus 2020 lalu, di mana saat itu "mock up" atau dummy YTPrayeh.com sudah dibuat oleh Riki Kurniadi. Nama YTPrayeh.com itu sendiri berasal dari singkatan namanya, yaitu YTP (Yansen Tipa Padan) ditambah kata "Rayeh" yang dalam bahasa daerah di mana Yansen dibesarkan bermakna "Raya".

Ini semacam dedikasi Yansen kepada dunia literasi yang dilakoni dan bahkan sangat dibanggakannya.

Dengan literasi, sapapun yang menulis pemikiran dan pengalamannya, akan selalu mengajak pembaca atau orang lain untuk berpikir, berkreasi dan menjadikannya sebuah karya monumental di bidang literasi. Ada satu falsafah Yansen yang kelak akan dijadikan sebuah buku inspirasi dalam kehidupan, yaitu "Tahu-Lakukan-Jadikan", yang menjadi landasan mengapa YTP.rayeh.com ini ada.

Bagi Yansen, hanya membaca saja tidaklah cukup, karena hal itu hanya sebatas "Tahu" saja. Akan tetapi, bagaimana mempraktikkan pengetahuan (Tahu) itu menjadi sebuah tindakan, aksi dan kreasi (Lakukan). Rupanya yang lebih penting dari sekadar TAHU dan LAKUKAN itu adalah JADIKAN. Ini yang sering terabaikan, sebuah proses dari pemikiran sampai menjadikannya sesuatu dengan kemanfaatan yang sebesar-bedarnya bagi orang banyak. 

YTPRayeh.com adalah JADIKAN itu, mewujud sebagai media digital yang didedikasikan kepada pegiat literasi, penulis yang menaruh minat pada kebudayaan, kebangsaan dan kecintaan sebagai anak bangsa Indonesia. YTPrayeh.com akan menjadi "Pusat Riset dan Literasi" terkait kebangsaan dan keindonesian dengan mengungkap kebudayaan negeri ini yang demikian beragam.

YTPrayeh.com tidak lahir dengan semangat sempit kedaerahan, akan tetapi bagaimana memelihara dan merawat keanekaragaman bangsa dan budaya (bhinneka) dengan tetap menjaga NKRI yang bersatu dan berdaulat (tunggal ika).

Pandemi telah menciptakan "peradaban baru" Indonesia yang tidak bisa mundur lagi ke belakang. Gotong-royong, kesetekiawanan, kepedulian, empati, yang sebelum pandemi boleh jadi agak terabaikan tersebab kesibukan dan ego masing-masing, pandemi telah mengembalikan kembali prilaku adilihung yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, dengan kesadaran baru sebagai bangsa yang besar dan tetap bersatu.

YTPrayeh.com mewadahi pemikiran kebangsaan dan budaya semacam itu.

Bintaro, 10 Januari 2021

***

Tonton juga: