Bahagia Itu Bersahaja
Kita yang setiap hari mengejar angka dan akumulasi sering lupa bahwa kebahagiaan sejati kerap bersembunyi di balik hal-hal yang paling bersahaja. Kemewahan bukanlah tentang seberapa banyak yang kita tumpuk, melainkan tentang kedekatan kita dengan sumber kehidupan itu sendiri.
Tengoklah setandan pisang yang baru saja saya petik dari kebun sendiri. Ia mungkin tidak memiliki kemasan mentereng layaknya buah impor di etalase supermarket, namun ada jejak keringat dan kesabaran di setiap sisirnya. Menanam, merawat, hingga memanen adalah sebuah ritual filosofis, bahwa apa yang kita nikmati adalah buah dari ketelatenan tangan sendiri.
Di sana, kebahagiaan tidak diukur dari harganya, tetapi dari rasa syukur saat melihat alam memberikan balas budi atas kasih sayang yang kita berikan kepada tanah.
Demikian pula dengan sekarung kecil beras di bawah setandan pisang hasil panen di sawah sendiri. Setiap butirnya adalah kristalisasi dari doa, terik matahari, dan air yang mengalir. Ada kepuasan batin yang tak ternilai saat kita menyantap hasil bumi yang kita kenal betul asal-usulnya.
Kesederhanaan mengajarkan kita satu hal penting: cukup itu melampaui melimpah. Saat kita merasa cukup dengan apa yang ada di depan mata, saat itulah kita berhenti menjadi budak keinginan yang tak pernah puas.
Pada akhirnya, kesederhanaan adalah bentuk tertinggi dari rasa syukur.
Jakob Oetama, pendiri Harian Kompas pernah menulis buku "Syukur Tiada Akhir" dan memang begitulah seharusnya. Syukur bukan sekadar ucapan bibir saat menerima kelimpahan, melainkan getaran hati yang berterima kasih kepada Sang Pencipta atas rezeki yang diperoleh, sekecil apa pun itu.
Melalui setandan pisang dan segenggam beras, kita diingatkan bahwa: kebahagiaan sejati tumbuh dari usaha sendiri. Ketenangan jiwa lahir dari penerimaan terhadap apa yang ada.
Hidup yang sederhana adalah hidup yang paling dekat dengan Sang Khalik. Sebab, di atas meja makan yang sederhana, sering kali tersaji keberkahan yang jauh lebih mewah daripada pesta pora yang kehilangan makna.
Barangkali, ini cuma barangkali, demikianlah gambaran hidup yang saya lakoni kini.
Selamat pagi.
***
Tasikmalaya, 10 Februari 2026