Ekonomi

Petani Indonesia dan Tantangannya

Sabtu, 30 Januari 2021, 09:37 WIB
Dibaca 239
Petani Indonesia dan Tantangannya
dokpri

Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penggerak ekonomi nasional. Banyak masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor ini. Tidak hanya menjadi petani akan tetapi banyak pekerjaan dalam bidang pertanian.

Bidang pertanian dibentuk dari berbagai subsektor misalnya, saja untuk bertanam padi dibutuhkan benih, pupuk, alat, tenaga kerja. Untuk memperoleh benih padi yang bermutu maka diperlukan produsen khusus untuk memproduksi benih agar dihasilkan benih dengan kualitas yang baik.

Tanaman dapat berproduksi dengan baik apabila diberikan pupuk yang seimbang. Untuk menciptakan pupuk yang seimbang butuh formula yang baik. Formulator untuk pupuk ini juga yang butuhkan untuk dapat menciptakan produk pupuk yang dibutuhkan oleh tanaman dan dapat mengefisienkan pekerjaan.

Baca Juga: Jangan Gengsi Menjadi Petani

Mekanisasi dibidang pertanian juga sangat diperlukan agar pekerjaan menjadi lebih efisien. Saat ini sudah ada alat-alat yang menunjang untuk pekerjaan di bidang pertanian. Dari mulai untuk olah lahan, perawatan, sampai untuk panen. Sebagian petani sudah ada yang menggunakan peralatan dalam berusaha tani. Akan tetapi masih ada juga yang menggunakan tenaga kerja untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di dalam usaha tani mereka.

Tenaga kerja merupakan faktor yang penting dalam keberhasilan usaha tani. Dari awal sampai akhir membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Tenaga terampil akan produk pertanian yang berkualitas. Penggunaan tenaga terampil memerlukan upah yang tinggi. Sehingga pengusaha tani harus mengeluarkan ongkos yang lebih tinggi.

Mekanisasi atau penggunaan alat untuk mempercepat pekerjaan pertanian memang semakin diperlukan. Meskipun di satu sisi kebutuhan tenaga manusia akan semakin berkurang. Dan dampaknya pengurangan. Di sisi lain tenaga pertanian harus terus mengembangkan kemampuan untuk dapat memperoleh pekerjaan.

Mekanisasi merupakan salah satu solusi bagi pertanian untuk efisiensi pekerjaan-pekerjaan di bidang pertanian. Meskipun harga alat-alat pertanian masih cukup mahal akan tetapi keuntungan dapat diperoleh untuk jangka yang Panjang. Untuk itu memang dibutuhkan investasi yang besar.

Ketidakmampuan petani untuk membeli alat pertanian masih rendah. Penulis mengamati harga padi sejak tahun 2012 sampai 2021 ini harga gabah masih ada di kisaran 4000 rupiah – 4500rupiah per kg gabah basah. Sementara produk non pertanian terus bergerak naik termasuk juga biaya Pendidikan.

Jujur saja inilah yang membuat saya sedih. Petani itu menanam bukan untuk dimakan sendiri orang lain juga. Tetapi penghargaan bagi petani masih rendah termasuk kebijakan pemerintah yang terus menstabilkan harga pokok pangan. Ya sebenarnya bukan sesuatu yang salah juga akan tetapi tentunya harus diperhatikan juga kompensasi untuk petani.

Subsidi pupuk yang diberikan pemerintah bagi petani memang cukup membantu. Meskipun kadang-kadang pupuknya seperti hantu. Kadang susah untuk didapat. Bisnis atau kalau bisnis berbasis pertanian biasa dikenal dengan agribisnis mindsetnya mengejar untung. Untuk memperoleh untung yang besar maka resiko harus diminimalisir. Termasuk dalam budidaya pertanian pupuk memang sangat diperlukan agar tanaman dapat berproduksi dengan baik akan tetapi resiko gagal panen itu juga selalu ada.

Ketika gagal panen maka seorang petani harus memulai lagi dari awal. Proses budidayanya harus membeli pupuk lagi. Kalau petani mampu membeli alat-alat pertanian sendiri maka biaya pengolahan lahan dan lain-lainnya dapat dikurangi. Harapannya tidak hanya pupuk tapi untuk alat-alat juga dapat di subsisdi pemerintah. Selisih antara biaya produksi yang dikeluarkan petani dengan harga jual hasil produksi diharapkan dapat meningkat sehingga petani menjadi lebih sejahtera.

Sejahtera petani kita, maju bangsa kita.

Salam tani!           

***