Wisata

Jelajah Kaltara [7] Kebaikan di Tepian Sungai Kayan

Minggu, 25 April 2021, 13:16 WIB
Dibaca 65
Jelajah Kaltara [7] Kebaikan di Tepian Sungai Kayan
Pak Yansen dan pedagang kaki lima (Foto: dok. Pribadi)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Saya meyakini teori keseimbangan, sebagaimana "Yin" dan "Yang" dalam kebijaksanaan Asia Timur, juga meyakini "habluminallah dan "habluminanash" dalam keyakinan saya. Tetapi tidak untuk kebaikan dan kejahatan. 

Saya meyakini, di dunia masih lebih banyak orang yang baik dibanding orang jahat. Artinya, kebaikan masih lebih banyak dan unggul atas kejahatan. Saya menolak teori keseimbangan di sini.

Kebaikan yang tampak oleh mata ada di mana-mana, juga kejahatan. Hanya saja, lebih sering kita menemukan kebaikan dibanding kejahatan dalam kehidupan sehari.

Pun di tepi Sungai Kayan ini, saya hanya menjumpai kebaikan. Sungai Kayan berada di Kabupaten Bulungan, membelah kota Tanjung Selor, ibukota Provinsi Kaltara. Selain menjadi tempat penghidupan nelayan pencari ikan, tepiannya pun menjadi sumber kehidupan pedagang.

Di depan Hotel Luminor yang menghadap Sungai Kayan tempat di mana saya menginap selama kurang lebih dua pekan (bahkan saya munggah atau memulai hari pertama puasai di sini), berjejer warung kaki lima. Mereka buka sekitar jam 4 petang sampai selesai tengah malam nanti.

Salah satu warung dadakan favorit saya adalah Bu Rena -demikian dia menyebut namanya- tempat saya dan dua teman penulis lainnya, Masri Sareb Putra dan Dodi Mawardi berbuka puasa. 

Saya dan Kang Dodi yang berpuasa, sementara Pak Masri selalu menemani di kala kami berbuka. Pun demikian saat Pak Masri harus makan siang, kami mengantarkannya ke warung atau restoran dan menungguinya sampai ia selesai makan.

Oh iya, Pak Masri ini kami sebut Katolik Garis Lucu, sebab kebiasaannya adalah melucu atau melempar humor dan cerita-cerita lucu, yang 90 persen di antaranya berisi konten dewasa. Maka kami pun menyebutnya Katolik Garis Omes hahaha...

Dia tidak marah kami sebut demikian karena konteksnya becanda belaka. Sebaliknya dia tidak berani mencap kami berdua Islam Garis Ngeyel, sebab meski berdua kami mayoritas dibanding Pak Masri yang seorang diri. Itulah "the power of majority".

Bu Rena menjual gorengan pisang yang khas, yang di Tanjung Selor disebut "sanggar". Kekhasan lainnya, sanggar Bu Rena selalu ditemani sambal terasi campur ebi, yang rasanya berbeda dengan sambal cocol di Manado yang juga biasa dijadikan teman pisang goreng. 

Selain sanggar, ada juga singkong goreng, kopi Kapten (di Jawa disebut kopi Kapal Api) yang bisa dicampur susu kental sehingga namanya menjadi "kopi susu". Ada jagung bakar, mi instan dan lain-lain. 

Sepuluh menit sebelum azan maghrib berkumandang, kami sudah berkumpul lesehan di badan trotoar yang lebih tinggi dari jalan, meski di sana ada kursi stainless. Soalnya, kami biasa pesan sanggar goreng yang masih "fresh from penggorengan" sehingga lumayan menyita waktu. Sementara kopi susu yang tersiram air mendidih sudah mengepul di depan kami.

Harga kudapan dan minuman saat berbuka puasa untuk bertiga biasanya sekitar Rp50.000 saja. Tetapi kadang kami mentraktir sekalian orang-orang yang sama-sama berbuka puasa di tempat Bu Rena, sebab "in total" tidak sampai Rp100.000. Masih bisa traktir lah...

Demikian kebiasaan kami berbuka terus berulang di tepian Sungai Kayan. Bukan tidak banyak pilihan, toh di hotel pun tersedia, tetapi kami memilih berbuka di alam terbuka sambil menikmati mentari senja yang tergelincir di hilir.

Suatu petang ponsel milik Katolik Garis Lucu, eh... Pak Masri, berbunyi, dia memberi isyarat bahwa yang menelpon Yansen Tipa Padan, wakil gubernur Kaltara. "Dimana kalian?" tanya suara di ponsel itu. Terdengar jelas karena Pak Masri membuka speaker. Pak Masri menjelaskan keberadaan kami. "Baiklah, saya gabung di situ!"

Hah? Pak Wagub mau gabung?Kemudian saya sampaikan kepada Bu Rena bahwa pejabat akan datang yang disambut Bu Rena, "Mari, dengan senang hati."

Tidak lama kemudian Pak Yansen Tp benar-benar datang disopiri Tomi, ajudan sekaligus pengawalnya. Ia turun dari Pajero Sport dan tentu saja kami ajak duduk, tetapi rupanya Pak Yansen hanya akan menunggu kami selesai berbuka, sebab biasanya ia membawa kami makan di restoran Pak Husni yang menjual soto banjar, rawon, sup daging dan sup tulang.

Pak Yansen membuka percakapan dengan Bu Rena dan menyarankan sebaiknya berjualan tidak mengambil badan jalan, tetapi dinaikkan ke atas di lahan terbuka samping trotoar. Pedagang kaki lima itu menjawab, maunya seperti itu, tetapi dilarang oleh aparat pemerintah kota. Pak Yansen mafhum.

Kami tahu diri. Ada kopi susu yang masih tersisa seperempat gelas dan tiga sanggar yang belum kami lahap. Pak Yansen siap-siap mengajak kami berbuka puasa. Saya meminta Bu Rena menghitung berapa harga yang kami makan. "Lima puluh ribu rupiah saja," kata Bu Rena seperti biasa. Saya pun merogoh saku, mengeluarkan uang Rp50.000.

Tetapi Pak Yansen kemudian mencegah saya membayar Bu Rena, dia mengeluarkan uang dari saku celananya. Menghitung sejenak lembaran Rp100.000-an dan memberikannya lima lembar kepada Bu Rena. "Ini ambil saja, sekalian bayar mereka," kata Pak Yansen menunjuk sepasang manusia yang sedang berbuka puasa.

Bu Rena tidak bisa mengucapkan terima kasih saat menerima uang pemberian Pak Yansen. Ia hanya mengusap air matanya yang jatuh.

Barangkali itulah cara Bu Rena berterima kasih.

(Bersambung)

***