Wisata

Sensasi Komplit Perjalanan Darat, Laut, Udara di Kalimantan Utara

Jumat, 18 Juni 2021, 10:34 WIB
Dibaca 221
Sensasi Komplit Perjalanan Darat, Laut, Udara di Kalimantan Utara
Sepit Kecil

Dodi Mawardi

Penulis senior

Seorang perempuan mendekap erat suaminya ketika sepit (speedboat) kecil berkapasitas enam orang, meninggalkan pelabuhan Nunukan menuju Pulau Sebatik. Gelombang perairan antara Pulau Nunukan dan Sebatik tidak besar. Namun, goncangan sepit dengan kecepatan 40-60 km/jam mampu membuat sang perempuan tersebut “sport jantung”. Itulah kali pertamanya menumpang sepit mini. Apalagi sang pengemudi masih ingusan. Baru lulus sekolah menengah. Menambah ketegangan. Mengalahkan sensasi keseruan permainan apa pun di Trans Studio atau Dunia Fantasy.

 

Sebelumnya, ia juga dilanda kecemasan luar biasa ketika menumpang sepit tidak berjadwal dari Tanjung Selor menuju Tarakan. Selain sepit berjadwal (regular) berukuran besar, yang mampu menampung sampai 60 penumpang, jalur Tanjung Selor – Tarakan dan sebaliknya, juga dilayani sepit nonregular itu. Kapasitasnya hanya 15 penumpang. Bagian belakang terbuka seolah menantang ombak. Guncangan, goyangan, dan lompatan sepit sungguh terasa. Apalagi ketika gelombang datang, baik di lautan lepas antara daratan Kalimantan dengan Pulau Tarakan, maupun di sungai Kayan yang sangat lebar itu. Seperti menyantap makanan, rasanya 'maknyusss'.

 

Bagi sebagian besar warga Kalimantan Utara, naik sepit itu biasa. Mungkin seperti naik bus antar kota antar provinsi buat warga di Pulau Jawa. Tapi tidak buat kami. Setiap kali menaiki sepit, besar, kecil, atau yang paling kecil, rasa dag dig dug langsung muncul. Saya sendiri sudah menumpang hampir semua jenis angkutan air di Kaltara. Bahkan, naik ketinting pun pernah (perahu kayu kecil memanjang dengan satu mesin di bagian belakang). Juga pernah menaiki speedboat elite, kendaraan dinas Wakil Gubernur Kaltara.

 

Angkutan air dengan beragam bentuk itu menjadi urat nadi transportasi warga Kaltara. Bagi warga Pulau Tarakan, Pulau Nunukan, Pulau Sebatik, dan Pulau Bunyu, untuk menuju Tanjung Selor – ibukota Kaltara, jalur air adalah yang utama. Selain jalur udara. Tidak ada jalan darat. Pun demikian untuk menuju Kabupaten Malinau dan Kabupaten Tanah Tidung. Air laut dan sungai menjadi pemisah sekaligus pemersatu mereka. Warga di sana sudah hidup berdampingan dengan air: sungai dan laut. Mungkin, mereka sudah tidak pernah lagi merasakan sensasi dag dig dug setiap kali menumpang sepit. Sepit besar atau kecil. Sudah biasa.

 

Kalimantan Utara sebagai provinsi ke-34 Indonesia punya wilayah sangat luas. Lebih dari setengah luas Pulau Jawa. Sebagian daratan, sebagian pulau-pulau. Kota Tarakan, pusat bisnis dan kota teramai di sana, merupakan sebuah pulau berukuran kurang lebih sebesar kota Jakarta. Pulau ramai lainnya adalah Nunukan dan Sebatik, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Wilayah lainnya memang daratan, namun sebagian tidak bisa dijangkau lewat jalur darat. Hanya bisa ditempuh melalui sungai atau jalur udara.

 

Beberapa kecamatan di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan, memiliki bandar udara perintis. Bahkan sejumlah desa pun punya bandara. Jangan tanya bandara di ibukota kabupaten atau kota: pasti ada dan bagus. Tarakan punya bandara internasional Juwata. Nunukan, Malinau, dan Bulungan punya bandar udara nasional yang dikelola oleh Kementerian Perhubungan.

 

Saya pernah menyambangi kecamatan Krayan Tengah menggunakan pesawat kecil berpenumpang 8 orang. Mendarat di Bandara Ba’Binuang (kini bernama Bandara Samuel Tipa Padan) bandara perintis yang hanya berlandasan lapangan rumput. Juga pernah ke Long Nawang dan Long Ampung, desa terisolasi di Malinau bagian selatan, menaiki pesawat kecil juga. Pesawat terbang dan bandar udara bukan barang mewah di sana. Setiap hari hilir mudik pesawat terbang kecil melewati angkasa warga pedalaman.

 

Sensasinya? Luar biasa. Kalau di perairan dag dig dug karena goncangan gelombang. Khawatir sepit terbalik karena dihantam air. Sensasi di udara lain lagi. Pesawat kecil terbang rendah. Kaki ini serasa hanya beberapa puluh meter saja di atas pepohonan. Hutan Kalimantan yang masih hijau itu, bisa dengan jelas terlihat lekuk likunya. Kelok sungai di bawah, aliran airnya dapat dipandang secara nyata. Pesawat bergerak naik dan turun atau ke kanan dan ke kiri menghindari awan. Terutama awan tebal dan kelabu. Bagi yang pertama kali mengudara dengan pesawat kecil itu, pasti dug dug ser merasapi sekujur tubuh.

 

Ketika mendarat, ketegangan lain juga hadir. Landasan tidak beraspal, hanya berupa lapangan rumput atau tanah keras sudah menunggu di beberapa bandara. Rasanya grudak gruduk “mengasyikkan”. Namun, landasan pacu sebagian bandara lainnya sudah beraspal. Meski tentu saja tidak semulus Soekarno – Hatta Airports.   

 

Ketegangan hidup terjadi setiap kali bepergian di Kaltara melalui perairan dan udara. Sensasi tegang buat mereka yang tidak biasa bepergian dengan sepit dan pesawat terbang kecil. Menyenangkan buat para pelancong dan penyuka traveling. Dan mungkin sensasi biasa saja bagi warga di sana. Mungkin, yang lebih menjadi perhatian warga Kaltara, bukan soal sensasi selama di perjalanan, melainkan sensasi ongkosnya. Cukup menguras kantung!

Kadang mereka tidak bisa pergi pulang dalam sehari. Segala urusan apa pun, minimal selesai lebih dari satu hari. Ada tambahan biaya penginapan yang harus dikeluarkan. Sensasi biaya pasti lebih membuat mereka dag dig dug dibanding ketegangan selama perjalanan.

Bagaimana dengan sensasi di jalur darat?

Tanyakan bagaimana sensasi perjalanan darat terberat di jalur Malinau ke Krayan kepada Ibnu Jamil. Artis ibukota itu menggunakan sepeda motor untuk melahap rute sepanjang sekitar 200 km. Waktu yang dihabiskannya: lima hari!

Bisa dibayangkan betapa beratnya kondisi jalan tidak beraspal di sana. Dan masih banyak jalan beralas tanah di Kalimantan Utara. Di sejumlah wilayah, perlu waktu berjam-jam untuk melawati jalan sepanjang 5 km saja. Lebih lama lagi ketika hujan turun. Beberapa kecamatan tidak bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua atau roda empat, khususnya di kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan.

 

Namun demikian, jalur trans Kalimantan sudah semakin panjang dan menjangkau sebagian besar daratan Kalimantan Utara. Dari Berau Kalimantan Timur, kita bisa berkendara sepanjang hampir 1.000 km ke Sungai Nyamuk, ujung pulau Kalimantan dekat Pulau Nunukan. Jalur ini melewati Tanjung Selor, Bulungan, Tanah Tidung, Malinau, dan beberapa kecamatan di Nunukan. Kondisi jalan relatif mulus. Sensasi pemandangannya luar biasa.

 

Di kanan dan kiri jalan penuh dengan pepohonan. Segala jenis pohon ada (saking banyaknya). Pun perkebunan, terutama kelapa sawit. Di sejumlah lokasi, sawit mendominasi. Hijau sepanjang mata memandang, menghiasai bukit dan pegunungan. Kelok ke kanan dan ke kiri, naik dan turun seperti roaller coaster. Jembatan seolah muncul setiap saat berkendara, menyeberangi sungai kecil dan sedang. Sesekali, pemandangan dihiasi oleh rumah-rumah khas penduduk: rumah panggung dan kayu.

Sensasi lengkap darat, laut dan udara yang menyenangkan buat para petualang…