Politik

Sebatik yang Semakin Cantik

Minggu, 13 Juni 2021, 18:22 WIB
Dibaca 300
Sebatik yang Semakin Cantik
Sebatik 1

Dodi Mawardi

Penulis senior

 

Sebagai penulis, kami sangat beruntung. Masri Sareb Putra, Pepih Nugraha, dan saya berkesempatan mengunjungi Sebatik, dalam rangka tugas penyusunan buku Sejarah Pembentukan Provinsi Kaltara. Sebatik, suatu pulau di ujung utara negeri ini, yang hampir setengah wilayahnya menjadi bagian dari Malaysia. Kami mengumpulkan cerita bermakna di sana, khususnya di sekitar patok perbatasan.

Melihat secara langsung kondisi Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan selama kurang lebih setengah hari, memberikan kesan bangga dan bahagia. Dulu, kita sering mendengar kondisi serba kekurangan dari perbatasan. Namun, kesan itu sirna di sana. Sebatik sudah jauh lebih maju.

“Lebih baik dibanding salah satu kecamatan di Tasikmalaya," kata Kang Pepih jujur. Saya mengamini. Sebagian besar kondisi di Sebatik termasuk baik. Jalan aspal dengan kondisi relatif bagus, meski di sana sini terjadi kerusakan akibat longsor. Terutama di jalur utara yang berbatasan langsung dengan Sebatik Malaysia. Kontur jalan naik turun dan berkelok mengitari bukit menjadi penyebabnya. Para pekerja terlihat sigap melakukan perbaikan di setiap lokasi jalan yang terkena longsor. Namun, kondisi tersebut terobati oleh pemandangan yang indah berupa hamparan bukit dengan hutan berlatar belakang lautan yang berujung kota Tawau Malaysia di seberangnya.

Sedangkan jalan bagian selatan yang menyusuri pantai, 95% kondisinya mulus. Semuanya beraspal bagus.  Kami beruntung bisa mengitari Sebatik Indonesia sambil berwisata di Patok 2 dan 3, lokasi Rumah Dua Negara berada: ruang tamu masuk Indonesia, ruang tengah dan dapur masuk wilayah Malaysia.

Kondisi ibukota Kecamatan Sebatik mirip dengan beberapa kota kecamatan di Jawa: cukup ramai. Sudah ada hotel, tempat hiburan seperti karaoke keluarga (gedungnya cukup megah) dan berbagai fasilitas lainnya. Urat nadi ekonomi di sana terasa hidup. Beberapa rumah megah berdiri anggun di pinggir jalan utama.

Di sepanjang jalan bagian selatan itu selepas pusat kota kecamatan Sebatik, kanan dan kiri dipenuhi oleh pohon Kelapa Sawit. Rupanya, inilah salah satu sumber penghidupan warga Sebatik yang mayoritas berasal dari Sulawesi Selatan, selain Kakao dan hasil laut. “Pohon kelapa sawitnya bagus-bagus. Tanahnya cukup subur, mirip seperti di Kalimantan Barat,” ujar Masri Sareb Putra, membandingkan. Ia punya berhektar-hektar kebun Kelapa Sawit di kampung halamannya, Sanggau dan Sekadau. Dugaan saya, setengah dari wilayah Sebatik Indonesia ditumbuhi oleh Kelapa Sawit. Terhampar cantik sepanjang mata memandang. Hijau menyegarkan mata. Hebatnya, sebagian besar merupakan milik warga setempat. Bukan milik perusahaan raksasa.  

“Ya, saya punya kebun kelapa sawit,” kata ibu Yani, pemilik warung di sebelah Rumah Dua Negara. Mengalirlah cerita tentang kelapa sawit dari warga. Mereka beruntung memiliki kebun yang cukup luas. Apalagi di Sebatik juga terdapat pabrik pengolahan yang memang menampung Kelapa Sawit milik warga. Harganya sesuai kondisi pasar. Pupuk menjadi salah satu kendala mereka. “Kami kekurangan pupuk. Terpaksa membeli dari Malaysia, itu pun tidak leluasa karena kadang dilarang…”  kata salah satu petani Kelapa Sawit.

Problem warga Sebatik Indonesia bukan hanya pupuk Kelapa Sawit, melainkan juga beragam kebutuhan lainnya termasuk kebutuhan pokok. Ketersedaan produk asal Malaysia lebih mudah didapatkan dibanding barang asal Indonesia. Mereka memang lebih dekat ke Malaysia. Ke Tawau, kota besar di ujung negeri jiran itu, hanya perlu waktu 15 menit saja menggunakan speedboat. Lalu lintas perdagangan lebih mudah ke sana. Hal sama yang dialami ibukota kabupaten Nunukan di Pulau Nunukan. Produk Malaysia dengan mudah diperoleh di sana.

Namun demikian, secara umum kondisi Sebatik sebagai salah satu beranda Indonesia di perbatasan, jauh lebih baik dibanding satu atau dua dekade sebelumnya, dan juga jauh lebih baik dibanding beberapa wilayah perbatasan lain. Dibanding Krayan misalnya yang berada di ujung barat Kabupaten Nunukan. Di sana, fasilitas umum masih sangat terbatas dan pasokan barang kebutuhan pokok sangat tergantung kepada Malaysia. Pun di Lumbis, salah satu kecamatan yang juga berada di kabupatan Nunukan. Begitu juga di Kayan Selatan, kabupaten Malinau, yang kondisinya tidak seberuntung Sebatik.

Patokan paling mudah adalah akses perbankan dan telekomunikasi. Di Sebatik, bukan hanya BRI yang berkuasa. Namun juga beberapa bank lain. Pun demikian sinyal seluler, Indosat sama bagusnya dengan Telkomsel, dengan jaringan 4G-nya. Hal yang sulit diperoleh di daerah perbatasan lain.

Tentu kita berharap, seluruh wilayah perbatasan lain bisa seperti Sebatik yang makin cantik dan maju. Warga negara sebelah pasti akan melirik kecantikan beranda Indonesia di perbatasan. Tak lagi memandang sebelah mata atau meremehkan.