Politik

Gotong Royong Melanjutkan Program Unggulan Malinau

Rabu, 21 Juli 2021, 14:56 WIB
Dibaca 140
Gotong Royong Melanjutkan Program Unggulan Malinau
Saat peluncuran buku Kaltara Rumah Kita.

1.      Pembangunan Manusia

        Gerakan Desa Membangun (Gerdema) merupakan program unggulan daerah Kabupaten Malinau. Gerdema hadir dengan semboyan “Berubah, Maju, Sejahtera”. Seperti YTP katakan pada buku Revolusi dari Desa, kehadiran Gerdema merupakan koreksi pada pembangunan nasional. Angin segar di seluruh desa-desa Malinau melalui program Gerdema sejak tahun 2011, kemudian dirasakan juga oleh seluruh desa di Indonesia pada tahun 2014 lewat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

        Gerdema tidak dapat disederhanakan sekedar sebagai model pembangunan daerah. Jiwa dari Gerdema yaitu perubahan tatanan nilai manusia di dalam masyarakat. Gerdema perlahan mengubah pola pikir (mindset), kebudayaan (culture), dan perilaku (attitute), tidak hanya masyarakatnya namun juga seluruh pelaku pembangunan, baik birokrat, pejabat fungsional, dan seluruh stakeholders pembangunan.

        Berbicara tentang Gerdema, banyak yang akan berfokus pada dana Gerdema yang merupakan salah satu keunggulan program ini. Namun, Gerdema tidaklah sepragmatis itu, semata-mata tentang dana dan kepercayaan mengelolanya. Gerdema adalah tentang mengembalikan apa yang seharusnya dimiliki sedari awal. Gerdema adalah tentang pemberian kepercayaan berupa wewenang kepada Pemerintah Desa. Gerdema adalah tentang berubah bersama untuk maju mewujudkan kesejahteraan. Berubah bersama adalah tindakan aktif dan kolektif, bukan pasif dan parsial. Gerdema memutuskan mata rantai yang begitu panjang yang membelenggu manusia-manusia desa. Mereka yang selalu dilihat sebelah mata, kaum yang hampir tak tahu apa-apa, tak berdaya, sehingga harus menunggu pertolongan. Apa yang terjadi pada mereka digantungkan pada pengambil kebijakan yang entah di mana jiwa raganya. Gerdema adalah tentang manusia-manusia yang terlalu terbiasa dipandang dan memandang diri mereka sebagai objek pembangunan, kemudian dihentakkan, disadarkan, diperkuat dan diberi kepercayaan sebagai subjek pembangunan. Gerdema adalah tentang kemerdekaan manusia-manusia desa.

1.1.  Program Unggulan Daerah Malinau dan Perda Rukun Tetangga

Program Gerdema kemudian dipertajam melalui program-program pembangunan berbasis komunitas melalui tiga Program Unggulan Malinau, yaitu RT Bersih yang memiliki filosofi rapi, tertib, bersih, sehat, indah, dan harmonis, Beras Daerah (Rasda), dan Wajib Belajar (Wajar) 16 Tahun. Gambar 1 menggambarkan perjalanan Gerdema dan Perda RT Malinau dalam tatanan regulasi terkait desa secara nasional.

2. Studi Literatur: Analisis Multi Dimensi dari Faktor Keberlanjutan Program Berbasis Komunitas

Beberapa alasan pentingnya keberlanjutan dari program berbasis komunitas berdasarkan Shediac-Rizkallah et al. (1998): (1) memberhentikan program unggulan pada sebuah wilayah akan berdampak negatif pada dua pihak, yaitu komunitas yang merasakan hasil dari program tersebut dan organisasi penyelenggara program itu sendiri; (2) anggaran yang telah dibelanjakan dalam menginisiasi program; dan (3) kehilangan kepercayaan dari komunitas yang menjalankan program ketika program baru dicanangkan.

Berbagai literatur menilik faktor-faktor keberlanjutan program berbasis komunitas dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Shediac-Rizkallah et al. (1998) melihat dari perspektif individual, organisasi, dan komunitas. Adapula Mijnarends et al. (2011) menjelaskan faktor penentu keberlanjutan melalui empat kategori, yaitu sumber daya manusia, organisasi, sosial politik, dan sumber pendanaan. Sedangkan Light (1998), Steadman et al. (2002), dan Padgett et al. (2005) berpendapat bahwa keberlanjutan program terletak pada kekuatan komunitas dalam mendukung program tersebut. Dari berbagai literatur yang memiliki fokus pada berbagai sektor yang spesifik dan berbeda-beda, tidak dapat ditemukan konsep baku dari faktor keberlanjutan program berbasis komunitas, sehingga sulit untuk menentukan indikator-indikator yang paling menentukan. Untuk itu, literatur ini melakukan analisis multi dimensi untuk mendapatkan hasil yang komprehensif. Tiga aspek yang menjadi fokus di dalam analisis ini adalah organisasi penyelenggara, program, dan komunitas.

Analisis multi dimensi ini melakukan studi literatur terhadap berbagai penelitian yang berkaitan dengan keberlanjutan program berbasis komunitas. Tahap pertama ini menghasilkan 33 faktor yang terdiri dari 16 faktor aspek program, 9 faktor aspek organisasi penyelenggara, dan 8 faktor aspek komunitas. Faktor-faktor ini kemudian diteliti oleh 10 ahli dengan komposisi 4 ahli dari Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), 2 ahli dari pemerintahan, dan 4 ahli dari dunia akademik. Berdasarkan hasil review para ahli, seluruh faktor dapat dibawa ke tahap berikutnya, yaitu pendistribusian kuisioner kepada 188 responden dengan data seperti yang tersaji pada Tabel 1.

       Hasil kuisioner kemudian diolah secara statistik dengan metode t-test dan Cronbach’s coefficient α, sehingga didapatkan 22 faktor dari total 33 faktor yang diuji. Tabel 2 memperlihatkan 3 faktor dengan peringkat tertinggi pada masing-masing aspek.

2.1.     Studi Kasus: Analisis Faktor Keberlanjutan Program Unggulan Malinau di Desa Tanjung Lapang

Hasil dari studi literatur dalam pembahasan sebelumnya, memberikan gambaran faktor-faktor apa saja yang menjadi kunci dalam keberlanjutan program berbasis komunitas. Namun hasil analisis tersebut tidak dapat dijadikan acuan tunggal dalam mengetahui faktor penentu keberlanjutan Program Unggulan Malinau, dikarenakan 188 responden dalam analisis tersebut merupakan komunitas internasional. Oleh karena itu, studi kasus dilakukan di Desa Tanjung Lapang, Kecamatan Malinau Barat yang merupakan salah satu komunitas terbesar dengan profil anggota komunitas yang cukup beragam di Malinau. Studi kasus dilakukan dengan menguji faktor-faktor dari hasil studi literatur tersebut kepada responden yang merupakan kelompok profesi/fungsi sosial yang telah ditargetkan oleh penulis guna mendapatkan hasil yang representatif.

Dalam pengujian faktor melalui kuisioner, penulis menyesuaikan penamaan faktor-faktor serta penjelasan yang lebih kontekstual sesuai dengan Program Unggulan Malinau, sehingga responden memiliki pemahaman yang sama dalam memberikan pemeringkatan terhadap faktor-faktor yang diuji. Penulis juga mengurangi jumlah faktor yang diuji, dari 22 faktor hasil studi literatur, menjadi 14 faktor, masing-masing terdiri dari 5 faktor aspek Pemerintah Daerah, 5 faktor aspek Program, dan 4 faktor aspek Komunitas. Pemilihan faktor-faktor ini berdasarkan 5 peringkat tertinggi pada setiap aspek di dalam studi literatur (Kecuali aspek komunitas yang memiliki 4 faktor dari total 22 faktor).

Setelah 14 faktor keberlanjutan program berbasis komunitas yang merupakan hasil dari studi literatur diuji di Desa Tanjung Lapang dalam konteks Program Unggulan Malinau, didapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Aspek Pemerintah Daerah

a.       Hasil studi literatur yang ditunjukkan pada Tabel 2, menempatkan faktor Dukungan Politik (Stabilitas Organisasi) menjadi faktor terpenting pada Aspek ini. Namun setelah diuji di Desa Tanjung Lapang, faktor Dukungan Politik mengalami pergeseran dari posisi pertama pada studi literatur menjadi posisi keempat pada studi kasus. Responden lokal Malinau menilai keberlanjutan Program Unggulan Malinau tidak memiliki kaitan erat dengan dukungan politik. Hal ini cukup mengejutkan, mengingat responden dengan latar belakang pendidikan diploma/sarjana sebesar 70% tidak melihat keterkaitan antara Dukungan Politik baik dari eksekutif dan legislatif terhadap pelaksanaan program.

b.      Kuatnya faktor Kepemimpinan seorang YTP sebagai Bupati Malinau atau top management pada Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau, dapat terlihat jelas dari hasil pengujian di Tanjung Lapang. Faktor Kepemimpinan yang pada studi literatur hanya menempati posisi keempat, kemudian menjadi posisi pertama untuk konteks Program Unggulan Malinau.

Aspek Program Unggulan

a.       Faktor Pencetus Program tetap bertengger pada posisi teratas baik pada studi literatur dan studi kasus. Hal ini berkaitan erat dengan kepemimpinan Bupati Malinau, sehingga mampu menempatkan sosok YTP sebagai Pencetus Program tidak mampu tergeser oleh faktor-faktor lainnya.

b.      Hal berbeda terjadi pada faktor Satgas Gerdema. Pada studi literatur, faktor ini (Tenaga Pendukung) menempati posisi kedua, namun tidak satu dari sepuluh kelompok responden pun yang berpendapat demikian. Sehingga faktor ini bergeser jauh ke posisi kelima.

c.       Faktor Advokasi Program yang kurang diperhitungkan pada studi literatur; terdapat pada posisi keempat, kemudian naik satu peringkat ke peringkat ketiga pada konteks Program Unggulan Malinau.

Aspek Warga Desa dan RT

a.       Inisiatif Dukungan Pendanaan dari warga turun satu peringkat, menjadi peringkat keempat dan menjadi kurang signifikan dibandingkan faktor lain.

b.      Sedangkan Konteks Komunitas yang beragam di Malinau, dinilai cukup menentukan dengan menempati peringkat ketiga pada Aspek ini.

Setelah proses pengujian secara kontekstual, pada akhirnya didapatkanlah 3 faktor kunci pada masing-masing aspek dengan total keseluruhan 9 faktor kunci keberlanjutan Program Unggulan Malinau seperti dipaparkan pada Tabel 5 di bawah ini.

2.2.  Konsep Gotong Royong dalam Melanjutkan Program Unggulan Malinau

Pemerintah Daerah, Program Unggulan, Warga Desa dan RT merupakan aspek-aspek yang membentuk ekosistem pembangunan berbasis komunitas itu sendiri. Ditinjau dari perspektif ini, ketiga aspek tersebut dapat dipandang sebagai komunitas dari pembangunan berbasis komunitas di Malinau. Saling keterkaitan antar komponen dalam suatu ekosistem pembangunan inilah yang kemudian disebut sebagai gotong royong. Esensi gotong royong adalah kerja kolektif untuk mencapai tujuan bersama. Jika seluruh pihak merasakan kehadiran pemerintah dalam sendi-sendi kehidupan di desa dan rukun tetangga melalui Program Unggulan Malinau, maka melanjutkan dan mengembangkan program tersebut menjadi tujuan bersama. Tujuan inilah yang perlu diroyong oleh seluruh komponen dari ekosistem pembangunan berbasis komunitas di Malinau. Performa dari ketiga komunitas pembangunan tersebut memiliki keterkaitan dan saling mempengaruhi. Sebagai contoh, jika hilangnya dukungan politik dari Pemerintah Daerah terhadap Program Unggulan, maka tidak hanya program yang akan terhenti, namun Warga Desa dan RT akan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Jika Warga Desa dan RT tidak paham dan partisipatif dalam Program Unggulan yang telah didesain sedemikian rupa oleh Pemerintah Daerah sebagai organisasi penyelenggara, maka anggaran dan SDM yang telah dipersiapkan oleh Pemerintah Daerah tidak akan memiliki dampak signifikan. Begitu juga jika Pemerintah Daerah serta Warga Desa dan RT telah memiliki komitmen untuk berkontribusi terhadap Program Unggulan, namun program tersebut tidak memiliki sosok dengan ketokohan yang kuat sebagai pemimpin, maka program tidak akan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada Warga Desa dan RT. Penjelasan selengkapnya tentang konsep ini dituangkan dalam Gambar 3 sebagai berikut.
 
“Jika seluruh pihak merasakan kehadiran pemerintah dalam sendi-sendi kehidupan di desa dan rukun tetangga melalui Program Unggulan Malinau, maka melanjutkan dan mengembangkan program tersebut menjadi tujuan bersama. Tujuan inilah yang perlu diroyong oleh seluruh komponen dari ekosistem pembangunan berbasis komunitas di Malinau.”