Literasi

Menulis dan Mengarang |Serupa tapi Tak Sama

Rabu, 16 November 2022, 21:40 WIB
Dibaca 112
Menulis dan Mengarang |Serupa tapi Tak Sama
Model: Cindy Christella.

Menulis dan mengarang.
Adakah perbedaan? Sekaligus persamaannya?
Jelas, ada!

Yang pertama untuk jenis tulisan non-fiksi.
Yang kedua, untuk tulisan fiksi saja.
Meski yang pertama bisa untuk keduanya, yakni tulisan fiksi dan non-fiksi, dilihat dari hasil akhirnya; maka keduanya (menulis dan mengarang) adalah berbeda.

Menulis ibarat koki yang meramu berbagai bahan menjadi sebuah sajian yang utuh. Bahkan buku (sumber) yang Anda kutip pun mengambil sumber dari buku/sumber lain. Asalkan disebutkan sumber dengan jelas. Maka mengutip sumber (lain) sah-sah saja, sejauh diolah, ada dalam konteks sebuah bangun-gagasan yang utuh, proporsional, dan sudah menjadi satu kesatuan dengan karya Anda.

Maka cukup keliru selama ini pencampuradukan kedua istlah “menulis” dan “mengarang”. Untuk jelasnya, mari lihat penerapannya dalam kalimat yang berikut ini.

1. Herman Syahara mengarang puisi berjudul “Perbatasan” yang mampu menuansakan jiwa bumi Krayan. Sedemikian rupa, ketika dibacakan pada Pembukaan Batu Ruyud Writing Camp, 28 Oktober 2022 membuat Tina meneteskan air mata.

2. Hepi Ramat menulis buku berjudul Media Pembelajaran untuk meningkatkan Keterampilan Membaca berdasar kepada pengalamannya sebagai guru mengajar siswa SD kelas awal.

Dalam hal contoh kalimat ke-1, agaknya mengarang hanya berlaku untuk tulisan fiksi. Pada contoh kaliman ke-2,  buku nonfiksi tidak pernah disebut: mengarang, melainkan menulis.

Akan tetapi, istilah “menulis” dapat berlaku untuk jenis tulisan apa pun, baik fiksi maupun nonfiksi. Menulis, selain makna leksikalnya adalah “membuat huruf atau tulisan/melahirkan pikiran atau perasaan ” juga berarti: menuangkan pikiran, gagasan, ide ke dalam bentuk tulisan yang terstruktur entah untuk kepentingan pribadi entah untuk kepentingan umum.

Dilihat dari hasil akhirnya. Mmenulis dan mengarang berbeda. Namun, proses kreatifnya sami mawon.

Menulis TIDAK menunggu datang ilham karena bahan sudah ada. Tapi mengarang perlu. Namun, penulis yang profesional tidak pernah menunggu ilham datang. Setiap waktu ada ilham. Sekitar tinggal Anda, ada ilham. Bertemu setiap orang, ilham.

Setiap helaan napas adalah ilham. Bahkan, bunyi kerik daun pintu, sehelai daun putri yang malu kemudian meriap, adalah ilham. Setiap objek yang diinderai adalah ilham.

Asalkan berlatih mengasahnya maka hal sederhana, atau sesuatu yang oleh orang lain dianggap biasa, menjadi sumber ilham yang luar biasa.

Itulah bedanya penulis dan bukan-penulis.

Seorang penulis dapat melihat angle yang luar biasa dari yang biasa!

Baca juga: https://lembagaliterasidayak.bibliopedia.id/2022/11/15/menulis-mengarang/?fbclid=IwAR0eOiUk-4lD1mfBLKOPLWGB8mm0FLMgEkMfwK88smO4XtGW3ChVALIwMSs