Literasi

Semangat Pagi Kelas Maya

Kamis, 25 Maret 2021, 13:37 WIB
Dibaca 312
Semangat Pagi Kelas Maya
Gambar kelas di ambil sebelum masa pandemi

Bertemu peserta didik melalui media online saat ini adalah hal biasa, karena proses pembelajaran memang dilaksanakan secara daring (online), dengan kelas maya. Namun, pagi ini agak berbeda semangat saya. Tiba-tiba rindu sekali dengan kelas nyata, rasanya ingin bertemu mereka secara langsung. Mungkin karena materi hari ini yang menarik atau apa ya? Hmm ... Sebenarnya sih biasa saja, seperti materi-materi sebelumnya.

Materi saya pagi ini tentang “Sikap selektif dalam menghadapi berbagai pengaruh kemajuan

iptek”. Kelas pun di mulai. Awalnya sepi, satu muncul, dua muncul. Alhamdulilah ... dengan penantian beberapa detik, mereka menjawab salam saya di kelas. Seperti biasa juga, saya selalu menyapa mereka dengan salam di awal pertemuan, mereka menjawab salam tapi baru sebagian saja, tidak semua.

Kemudian saya sampaikan tentang media pembelajaran, saya menawarkan ke mereka tentang cara penyampaian materi pagi ini. Mau tatap muka melalui media zoom meeting atau share materi saja di WA grup kelas. Ada yang memilih Share materi, ada yang memilih tatap muka melalui zoom. Setelah melalui voting. Cara penyampaian materi hari ini adalah Share materi pilihan mayoritas di kelas. Kelas masih belum panas. Mungkin masih pada tidur hehe. Karena saya masuk di jam pertama 07.30 Wite, jadi masih pagi.

Karena Jam 07.30 terasa sangat berbeda saat PJJ seperti saat ini dengan kegiatan pembelajaran tatap muka semasa belum pandemi.

Terus terang, saya lebih suka mengajar dengan tatap muka melalui zoom. Karena bisa langsung komunikasi dengan jelas ke mereka, bisa bercanda dan lain sebagainya. Tetapi, saya tidak harus memaksakan kehendak, tetap memberikan kesempatan mereka untuk memilih. Karena kendala signal dan kuota atau mereka belum siap karena belum mandi dan sebagainya hehe ... suasana juga sedang hujan gerimis, bisa jadi masih dalam selimut. Tak apa dengan share materi saya yakin mereka juga menyimak dengan baik. Walau kelas belum terlihat gejolak ramai saling sapa.

Kemudian, saya berikan komando untuk menge-share materi, saya juga perintahkan untuk tidak chat dulu, agar materi tidak tertindis dengan chat-chat baru mereka. Dan benar saja mereka tidak chat, suasana kembali sunyi dan sepi.

Setelah selesai nge-share materi, saya tuliskan “Silahkan di baca dan pahami ya, jika ada yang kurang paham, silahkan di tanyakan”. Dengan emoticon mengguggah selera, niat saya untuk menyemangati mereka agar materi yang saya share, tidak hanya lewat begitu saja. Kemudian saya bubuhi penyemangat lagi “Siapa yang bertanya, ibu beri poin 80 sebagai nilai bonus tugas”. Tentu dengan emoticon yang tak kalah menariknya.

Masya Allah ... benar saja, mereka mulai terprovokasi semangatnya dengan emoticon yang saya berikan. Chat pertama, muncul dari bang F pertanyaannya tentang lembaga iptek apa saja yang di miliki Indonesia saat ini? Nah, di sini saya mengeluarkan strategi lagi. “Yuks ... siapa yang bersedia menjawab pertanyaan ini, Ibu beri poin 80”. Sambil saya bubuhi lagi emoticon. Biar makin penasaran dan semangat.

Tanpa menunggu jeda lama, mereka mulai terbakar semangatnya. Jawaban pertama muncul, beri apresiasi semangat, jawaban kedua begitu juga. Dan akhirnya suasana menjadi seru dan haru. Mereka begitu antusias, hingga saya tidak sanggup membaca chat mereka yang penuh pertanyaan dan tanggapan saling sahut menyahut. Hal ini membuat saya makin semangat dan berpikir positif tentang mereka.

Ternyata masa pandemi ini tidak membuat patah semangat untuk mau membaca dan terus belajar, tenyata mereka tidak seperti kekhawatiran saya sebelumnya. Saya mengira mereka hanya main game, nonton film korea dan lainnya selama belajar online dari rumah. Ternyata tidak, mereka sangat aktif, tahu perkembangan yang ada saat ini. Sisi baik dan tetap berpikir positif, tentu bagian doa kita agar mereka tidak larut dalam dunia per-HP-an selama belajar dari rumah.

Mereka masih membaca dan terlihat antusias mengikuti berita tentang perkembangan teknologi di negara kita. Seperti contoh ungkapan-ungkapan mereka di pembelajaran pagi ini, yang membuat saya terdiam dan berpikir bahwa mereka sebenarnya sangat rindu dengan kelas nyata.

“Karena Pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap pengembangan teknologi. Akhirnya lebih banyak teknologi dari luar negeri yang masuk ke Indonesia”. Mereka menanggapi mengapa di negara kita ini tidak ada kemajuan ipteknya, mengapa kalah dengan luar negeri.

“Indonesia merupakan negara dengan potensi yang sangat besar, tetapi pengembangan teknologi di Indonesia dapat dikatakan lambat”.

“Karena masyarakat Indonesia kebanyakan suka produk dari luar contohnya hp yang kita pakai, ada buatan Cina sama juga seperti alat-alat yang ada di rumah kita”.

“Kita punya pegangan yaitu pancasila 5 dasar”

“Mana nih yang katanya pancasila yg ke 5”

“Kita tidak boleh terlihat bodoh di negara sendiri”

‘Makanya kita di suruh sekolah biar pintar”. Dan sebagai-sebagainya.

Dari pembahasan itu, saya berpikir mereka memahami masalah-masalah sesungguhnya negara kita. Karena dengan sigapnya mereka memberikan tanggapan dengan ungkapan-ungkapan bernada positif dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh pagi ini. Mereka aktif dan menikmati suasana kelas online pagi ini. Saya pun demikian.

Saya berharap dengan metode pembelajaran jarak jauh kali ini, mereka dapat mengambil pelajaran bahwa proses sebuah tujuan haruslah memiliki target yang tepat. Agar tidak terjadi kesia-siaan. Poin 80 dari saya adalah umpan, target nyata yang harus mereka raih. Secara nyata dan gigih penuh usaha mereka memberikan tanggapan-tanggapan agar mendapatkan pengakuan nilai terbaik dari saya. Tentu dengan harapan bukan mental mengharap imbalan baru bergerak, tetapi ini sudah mengkarakter dalam diri mereka. Semoga mental mereka kuat, tidak goyah karena iming-iming nikmat sesaaat yang nantinya akan merugi serta menjatuhkan mental diri.

Materi Pagi Yang Semangat

Masih tentang kelas online, saya masih ingin bercerita banyak mengenai pembelajaran jarak jauh ini. Materinya memang menantang, sehingga membuat peserta didik antusias dan semangat. Menantang dalam artian materi ini memang tentang wacana setiap hari yang sedang di hadapi negara saat ini. Tentang pengaruh  kemajuan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  terhadap  negara dalam  bingkai  Bhinneka  Tunggal  Ika.

Tentang  cita-cita  dan  tujuan  negara  kita  yang terdapat  dalam  Pembukaan  UUD  NRI  Tahun  1945  yaitu  melindungi  segenap  bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan  umum, mencerdaskan  kehidupan  bangsa  dan  ikut  melaksanakan  ketertiban  dunia  yang berdasarkan  kemerdekaan,  perdamaian  abadi  dan  keadilan  sosial.  Jadi  penggunaan-penggunaan dan pengembangan iptek tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Sebagaimana telah di tegaskan dalam bunyi pasal dalam UUD NRI Tahun 1945, sebagai berikut:

Pasal 28C 

1)     Setiap  orang  berhak  mengembangkan  diri  melalui  pemenuhan  kebutuhan  dasarnya, berhak  mendapat  pendidikan  dan  memperoleh  manfaat  dari  ilmu  pengetahuan  dan teknologi,  seni  dan  budaya,  demi  meningkatkan  kualitas  hidupnya  dan  demi kesejahteraan umat manusia.

Pasal 31

(5)  Pemerintah  memajukan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  dengan  menunjang  tinggi nilai-nilai  agama  dan  persatuan  bangsa  untuk  kemajuan  peradaban  serta kesejahteraan umat manusia.

Nah, tujuan pembelajaran ini adalah peserta didik memiliki sikap tanggung jawab dan selektif terhadap pengembangan dan pengaruh iptek. Saya berharap dan berdoa semoga mereka kelak menjadi generasi hebat bangsa ini. Saya berharap mereka tidak terprovokasi dengan berita-berita bohong atau hoax. Mereka dapat selektif, tepat dalam memilih tontonan dan bacaan yang sedang beredar di media sosial maupun di televisi. Karena dari pendapat-pendapat mereka, saya yakin mereka mengikuti alur perkembangan negara saat ini.

Karena pendapat mereka tajam juga sedikit kritis terhadap pemerintah. Jangan sampai mereka berpikir buruk. Tugas kita untuk selalu mengingatkan agar tetap selektif dan tetap fokus belajar menjadi yang terbaik untuk masa depannya. Serta kita selalu sarankan untuk menonton dengan tontonan dan bacaan yang selektif.

Yang terutama mental pada peserta didik kita, bukan karena ada imbalan mereka baru mau berinovasi dan kreatif tetapi memang muncul dari dalam diri mereka. Sehingga karakter nilai-nilai Pancasila telah membudaya dalam diri mereka.

Salam Literasi

***