Filosofi

Tak Ada Sukses Tanpa Disiplin

Senin, 24 Agustus 2020, 20:08 WIB
Dibaca 88
Tak Ada Sukses Tanpa Disiplin
Modifikasi dari dosenpendidikan,com

Dodi Mawardi

Penulis senior

Seharusnya semua orang sudah tahu dan sadar, bahwa “tidak ada keberhasilan tanpa disiplin!”  Pengetahuan ini sudah disebarkan dan diajarkan sejak masih TK sampai perguruan tinggi. Setiap pejabat pun selalu mengatakan kedisiplinan kepada para pegawainya. Guru menyampaikan pesan serupa terhadap anak didiknya. Ustaz dan pemuka agama lain pun tak lupa mengutarakan petuah ini kepada para jemaahnya. Disiplin aturan, disiplin waktu.

 

Lalu kenapa disiplin seperti tong kosong yang nyaring bunyinya? Dia ada tapi hanya sebatas teori yang tidak pernah dipraktikkan. Lihatlah di jalanan, pengendara yang notabene berpendidikan lumayan dan bahkan tinggi, baru disiplin kalau ada polisi. Mereka berubah menjadi liar, jika polisi tidak ada. Tengok pula di sekolahan, para murid hanya taat aturan jika di hadapannya berdiri seorang guru. Kondisinya berubah drastis, begitu guru beranjak dari tempatnya. Perhatikan pula para pegawai khususnya ASN, yang mau disiplin demi diperhatikan atasan, tapi tak ada lagi aturan saat atasan tidak di tempatnya. Yang masih bisa diandalkan kedisiplinannya mungkin hanya para tentara dan polisi, meski kadang pada saat tertentu mereka juga tak disiplin.

 

Apa sebenarnya yang terjadi pada bangsa ini?

Disiplin merupakan salah satu sikap positif yang harus ada sebagai salah satu syarat keberhasilan. Tanpa attitude yang satu ini, mustahil sebuah keberhasilan diraih. Disiplin yang dimaksud lebih bertitiktolak pada disiplin pribadi, bukan disiplin kelompok atau kerumunan. Disiplin pribadi mengharuskan setiap orang mampu mengendalikan dirinya sendiri tanpa tekanan dari pihak luar.

 

Seorang penyanyi seperti Anggun C. Sasmi tidak mungkin menggapai kesuksesan, jika tidak disiplin berlatih seriap hari beberapa jam. Atlet hebat sekelas Christiano Ronaldo, mustahil menjadi juara jika tidak menguras tenaga untuk berlatih secara rutin. Demikian pula seorang penulis, tak perlu bermimpi menghasilkan buku jika tidak terus menerus disiplin menulis setiap saat. Begitu pula seorang pelukis, dia harus disiplin menggoreskan kuasnya.

 

Pada masa pagebluk Corona, tingkat kedisiplinan ini menjadi semakin terlihat. Gerakan yang gencar dikampanyekan yaitu cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker, yang segelintir orang yang melakukannya. Sebagian besar lainnya cuek bebek. Buat sebagian besar orang itu, cuci tangan, jaga jarak, dan pakai masker merepotkan. “Kalau sudah kena mah kena saja. Kalau sudah waktunya meninggal mah meninggal saja...” suatu keyakinan hebat yang menjerumuskan. Wajar jika jumlah pasien Corona di Indonesia melampaui jumlah pasien Corona di negara asalnya Tiongkok. Tingkat kedisiplinan bangsa ini sangat rendah.

 

Lihat pula di jalan raya. Setiap hari kita menyaksikan kecelakaan lalu lintas yang terjadi akibat tidak disiplinnya pengendara, terutama roda dua. Data dari kepolisian menyebutkan jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas setiap tahun di Indonesia, melebihi jumlah korban perang Iran – Irak, atau perang Vietnam. Betapa rendahnya disiplin bangsa ini.  

 

Jika kondisi sekarang adalah sebagian besar manusia Indonesia tidak memiliki disiplin pribadi, sudah pasti hasilnya adalah kegagalan. Semakin besar jumlah manusia gagal, maka secara berkelompok pun akan gagal. Tanpa disiplin pribadi, tidak ada disiplin kelompok. Tanpa disiplin kelompok maka tidak ada disiplin sebagai sebuah bangsa. Jangan heran jika bangsa Indonesia lebih banyak mengalami kegagalan karena tingkat kedisiplinan yang rendah. Disiplin aturan, disiplin waktu.