Filosofi

Belajar ‘Pintar’ dari Si Kulit Bundar #3 Hidup Kita Diawasi ‘Malaikat’ VAR

Kamis, 1 Desember 2022, 09:48 WIB
Dibaca 125
Belajar ‘Pintar’ dari Si Kulit Bundar #3   Hidup Kita Diawasi ‘Malaikat’ VAR
Sumber: Fifa.com

Dodi Mawardi

Penulis senior

 

Gol tangan Tuhan Diego Maradona pada Piala Dunia 1986, begitu melegenda. Padahal peristiwa itu salah satu dosa terbesar sepakbola. Mencetak gol dengan tangan masuk kategori terlarang. Haram. Wasit tak melihatnya.

Tapi, wasit juga manusia. Begitu dalihnya. Inggris yang jadi korban, dipaksa menelan kenyataan itu. Konon, sepakbola jadi lebih menarik karena kontroversi jenis ini.

Saya tidak setuju.

Begitu banyak ketidakadilan terjadi dalam pertandingan sepakbola. Gara-gara diving (pura-pura jatuh), penalti diberikan. Jelas-jelas hands ball atau pelanggaran, malah tidak diberikan penalti. Bola sudah lewati garis gawang, tidak dianggap gol. Posisi offside, gol tetap disahkan, atau sebaliknya.

 

Maka, ketika Goal Line Technology (GLT) dan Video Assistant Refferee (VAR) diberlakukan pada Piala Dunia Rusia 2018 lalu, saya gembira bukan main. Akhirnya, 'malaikat' pengawas turun tangan membantu si manusia biasa (wasit). Dengan kedua teknologi itu, rasa keadilan bisa lebih ditegakkan di muka lapangan hijau.

Kehadiran VAR di lapangan sepakbola, mirip seperti kehadiran CCTV dalam kehidupan sehari-hari. Kamera CCTV mengintai di mana-mana. Di salah satu kota di China, CCTV ada di setiap sudut kota. Setiap peristiwa bisa dengan mudah dianalisis. Kejahatan pun menurun drastis. CCTV lebih ditakuti oleh manusia dibanding pengawasan dari miliaran malaikat sungguhan yang ditugaskan Tuhan. Manusia religius pasti memahami hal tersebut.

Gara-gara VAR, kini semakin minim ketidakadilan terjadi di lapangan hijau. Pada Piala Dunia 2022 ini saja, sudah lebih dari 20 kali VAR beraksi dan mengoreksi keputusan wasit. Tiga gol Argentina yang dianulir, gol ke gawang Qatar yang dibatalkan, gol menit akhir Prancis ke Tunisia juga batal, atau malah gol Kamerun lawan Serbia yang disahkan.

Kejahilan pemain yang biasa pura-pura jatuh atau melanggar pemain lawan tanpa dilihat wasit, semakin minim. Wasit benar-benar terbantu. Kehidupan yang sesungguhnya sudah terjadi dalam sepakbola.

 

Pelajarannya, ya memang hidup kita diawasi kok. Dicatat pula secara detail setiap pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan. Tak ada sedetik pun bagian hidup kita yang luput dari catatan. CCTV dan VAR menyala sepanjang pertandingan (atau sepanjang hidup).

 

Kalau masih ada yang terbiasa mencuri-curi seperti pemotor yang terobos lampu merah karena tak ada polisi, siap-siaplah disemprit VAR. Eh, ETLE. Itu lho VAR versi khusus di jalan raya sebagai ganti tilang manual.

Mau sembunyi di mana?

Mau tetap jahil dan berbuat curang?

Mau tetap melanggar peraturan?

 

Permainan sepakbola dan hidup ini akan semakin adil kalau semakin banyak kamera CCTV dan VAR yang mengawasi setiap saat...

 

Awas!

Awas!

Awas!