Budaya

Sabang, Pohon Sakral Dayak Uud Danum

Rabu, 3 Februari 2021, 06:32 WIB
Dibaca 1.239
Sabang, Pohon Sakral Dayak Uud Danum
dokpri

Indonesia merupakan salah satu negara yang dikaruniai kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satunya adalah kekayaan alam yang beragam flora tersebar disegala penjuru Nusantara.

Tak jarang, masyarakat Indonesia yang masih kental dengan adat dan budaya menjadikan berbagai jenis tanaman sebagai alat kelengkapan dalam ritual adatnya. Demikian pula hal nya dengan suku Dayak Uud Danum yang berada di ujung pedalaman Kalimantan Barat.

Di suku Uud Danum, ada salah satu tanaman yang diangap suci dan sakral. Tanaman ini biasanya disebut "sabang".

Memiliki bentuk batang tegak lurus dengan kisaran tinggi 2 sampai 4 meter. Daunnya yang berwarna merah menyala membuat sejumlah orang tertarik untuk menjadikannya sebagai tanaman hias.

Secara umum, daun sabang (sawang) merupakan tanaman yang dianggap suci dan sakral bagi masyarakat suku Dayak yang mendiami tanah Borneo.

Hal inilah yang membuatku penasaran. Hingga menarik perhatianku pada tanaman yang ada di halaman rumah tetangga.

Maklum, di tanah rantau ini, sudah 14 tahun lamanya aku tingal di ibu kota, tapi baru kali ini aku bisa melihat dan memegang tanaman kebanggaan suku Dayak ini. Tentunya ada kesenangan dan kebanggaan tersendiri bagiku.

Tak mau kehilangan waktu, aku yang kebetulan lewat dan membawa HP langsung "cekrek", dapat deh foto tanaman sabang yang akan kuabadikan.

Tak cukup sampai di situ. Aku pun segera mencari dari berbagai sumber dan informasi tentang tanaman ini. Mulai dari bertanya pada tetangga, kerabat dan sahabat. Namun sayangnya tak banyak yang tahu tentang nama tanaman ini apalagi khasiatnya.

Terlebih, ketika ku bertanya kepada kaum milenial yang ada di pulau Borneo. Mereka hanya tahu nama tanaman tersebut dalam bahasa daerahnya dan berkata "oh itu tanaman sakral". Begitulah penjelasan mereka yang singkat padat namun belum jelas.

Hingga kini, aku tak henti-hentinya mencari dan terus mengali informasi sampai kudapatkan jawaban yang jelas. Sembari berharap, semoga sedikit pengetahuan yang ku dapatkan bisa menambah wawasan kita tentang budaya Nusantara tercinta.

Di sebuah desa di Sukabumi Jawa Barat, lebih tepatnya di kecamatan Cidahu terdapat tanaman yang diangap memiliki manfaat yang luar biasa. Masyarakat setempat percaya bahwa tanaman ini dapat melindungi masyarakat dari mara bahaya. Maka tak heran jika tanaman tersebut dipakai juga sebagai tolak bala.

Tanaman tersebut bernama "hanjuang". Biasanya dalam bahasa Jawa disebut "andong merah". Sedangkan dalam bahasa arok-arok atau auh etok Dayak Uud Danum Kalimantan Barat menyebutnya" sabang". Jika di daerah kalian tanaman ini disebut apa ya....? "

Tanaman sabang yang disebut hanjuang atau andong merah ini digunakan untuk mengobati sejumlah penyakit misalnya batuk berdarah, radang pada gusi, disentri, wasir, dan digunakan untuk melancarkan haid pada wanita. Selain itu, tanaman sabang atau hanjuang ini ternyata memiliki zat anti bakteri, anti koagulan, anti proliferatif yang setara dengan kandung anti kanker.

Mengutip dari buku karya Insinyur WP Winarto pada tahun 2007 menjelaskan bahwa sebagian dari tanaman sabang/hanjuang ini bisa digunakan sebagai pengobatan atau kesehatan tubuh manusia.

Pertama, untuk mengobati penyakit TBC paru dengan batuk berdarah. Caranya adalah, ambil daun kering 15-30 gram, atau bunga kering 9 sampai 15 gram atau akar keringnya 6 sampai 10 gram direbus dan diminum.

Kedua, mengobati ancaman keguguran kandungan menstruasi yang banyak mengeluarkan air kemih dan wasir berdarah. Cara penggunaannya adalah ambil daun kering 16-30 gram, atau bunga kering 9 sampai 15 gram, atau akar dari 6 sampai 10 gram. Diirebus dan diminum.

Ketiga, bisa mengobati nyeri lambung dan mengobati nyeri ulu hati. Cara penggunaannya, daun kering 15 sampai 30 gram, atau bunga 9 sampai 15 gram, atau akar kering 6 sampai 10 gram direbus dan diminum.

Keempat, dapat mengobati radang gusi. Cara penggunaannya pada bagian kulit digigit, diberi garam sedikit dan dioleskan pada tempat yang sakit.
Akan tetapi pada wanita hamil tidak boleh mengkonsumsinya karena dapat menyebabkan kontradiksi.

Dari sini kita bisa mengetahui betapa tanaman yang sakral ini memiliki khasiat yang luar biasa. Maka tak heran jika suku bangsa Dayak sangat menghormati dan melestarikan tanaman ini.

Bahkan, sejak dahulu kala di masyarakat desa Girijaya Jawa Barat percaya bahwa tanaman sabang/hanjuang dapat menangkal santet dan guna-guna jika di tanaman di depan rumah dan diberi doa.

Lalu bagaimana dengan perlakuan suku Dayak sendiri, khususnya suku Dayak Uud Danum yang ada di pedalaman ujung Kalimantan Barat? "

Ternyata, tanaman sabang adalah salah satu tanaman yang diangap sakral dan suci. Bahkan hampir setiap rangkaian prosesi adat Dayak Uud Danum mengunakan tanaman sabang.

Daun sabang digunakan sebagai media untuk memercikan air suci dan ramuan minyak tradisional dalam proses pengobatan "hobolian/balian" atau ritual adat lainya. Dan dipercaya dapat mengusir roh jahat "Otuk Lio".

Daun sabang juga diangap sebagai simbol antara hubungan manusia dengan keyakinannya pada sang pencipta. Sabang dapat difungsikan sebagai penunjuk jati diri umat Kaharingan.

Dalam pernikahan adat suku Uud Danum, sepasang mempelai akan duduk di sebuah gong sambil memegang pohon sabang. Biasanya, dari pagi sampai siang hari kedua mempelai harus memegang pohon sabang sambil mengikuti prosesi adat yang sedang berlangsung.

Ketika sang fajar menyingsing, tepat pada saat yang telah ditentukan. Barulah kedua mempelai akan diarahkan untuk turun melewati tangga yang ada di depan rumah.

Pemimpin adat akan berdoa sambil mengibaskan seekor ayam hitam di atas kepala kedua mempelai. Selanjutnya ayam tersebut disembelih di atas tanah. Dan di atas tanah dimana dara ayam diteteskan, disitulah akan ditanam pohon sabang yang dipegang oleh kedua mempelai yang menikah.

Pohon sabang yang ditanam ini disebut" puun janjik cahkik koruh" yang artinya "pohon janji suci pernikahan". Ya, pohon sabang juga diangap sebagai lambang janji suci yang sakral dalam sebuah pernikahan Dayak Uud Danum.

Baca Juga: The History of Dayak (9) - Dijajah Hindia Belanda dan Inggris: Di Mana Bedanya?

Setelah selesai menanam sabang, kedua mempelai akan mengikuti prosesi adat berikutnya, yaitu mandi di sungai. Itulah sebab nya saat pernikahan uud Danum sang mempelai wanitanya hanya memakai sarung. Biasanya, pengantin tidak didandani biar terlihat pesona aslinya kecantikan gadis Dayak Uud Danum.

Sebab, tanpa make up dan tanpa perawatan pun gadis-gadis Uud Danum sudah memiliki kulit yang putih bersih secara alami sejak jaman dahulu kala. Setelah selesai ritual adat mandi di sungai, barulah kedua mempelai membersihkan diri dan berganti pakaian mengunakan pakaian adat.

Yang menarik dari tanaman sabang ini adalah; sekalipun akarnya tercabut, perlahan namun pasti, pohon sabang akan hidup kembali. Selalu ada harapan dibalik penderitaan. Tanaman sabang merupakan salah satu tanaman yang mudah tumbuh namun bisa bertahan hidup hingga puluhan tahun.

Biasanya, tanaman yang mudah tumbuh akan cepat pula layu, mengering dan mati. Selain itu, tanaman ini juga bisa bertahan hidup di bawah terik cuaca panas atau pun hujan.
Hal ini dijadikan sebagai simbol dalam membangun rumah tangga. Rumah tangga harus tetap kuat berdiri meskipun banyak tantangan dalam kehidupan.

Warna merah menyala pada setiap helai daun sabang membangkitkan semangat jiwa bagi setiap insan yang memandangnya. Demikianlah semangat cinta kedua mempelai dalam membangun rumah tangga harus terus menyala hingga maut memisahkan mereka.

Dalam tradisi Uud Danum, kehidupan rumah tangga yang telah menikah secara adat akan dilihat dari pertumbuhan tanaman sabang yang ditanam oleh kedua mempelai. Tradisi seperti ini disebut "nenung komolum" yang artinya peramal kehidupan.

Selain itu, sabang digunakan juga sebagai penangkal roh jahat atau sebagai tanda tertentu yang digantung di atas pintu atau di samping rumah. Jika melihat tanaman ini berada di wilayah Uud Danum, maka jangan coba-coba untuk memetik tanpa sepengetahuan dari pemiliknya.

Karna setiap pohon sabang yang ada di wilayah Uud Danum ada pemiliknya dan ditanaman untuk tujuan serta maksud tertentu. Meski tanaman pohon sabang ada di hutan belantara sekalipun. Itu pertanda bahwa suku Uud Danum pernah melakukan ritual adat di tempat tersebut.

Bisa jadi itu sebagai tanda atau untuk mengenang suatu peristiwa atau sejarah yang berkaitan dengan leluhur yang tidak boleh dilupakan apalagi dihilangkan. Begitulah menurut cerita nenek moyang ku dulu.

Saya yakin, bahwa sejak jaman nenek moyang leluhur Dayak Uud Danum dulu sebenarnya sudah mengenal sejuta manfaat dari tanaman sakral nan suci ini. Terlebih saat moyang ku sering berkisah bahwa setiap kali jika mereka menemukan suatu tanaman maka mereka akan mempraktekkannya pada hewan untuk mengetahui apa khasiat tersembunyi dari tanaman tersebut. Bahkan tak jarang nenek moyang sendiri yang mencoba mengonsumsi berbagai macam tumbuhan yang ada di hutan untuk mencari tahu khasiat dari tanaman tersebut.

Baca Juga: Mengenal Dayak Mentebah di Kalimantan Barat

Lagi kata kakekku: "Boh ihkok kanik ngonih kesah ah leh?" Tanya sang kakek. Yang artinya apakah kamu mau mendengar kisah kakek selanjutnya ? " Tentu saja ku jawab, "kanik nyangit noh beh ogok......!" Yang artinya" saya sangat ingin mendengar ceritanya kakek. Begitulah masa kecilku kala itu sebagai anak-anak yang sangat senang mendengarkan kolimoi, tahtum (cerita dan dongeng) sang kakek yang ku sebut ogok bauk.

Sang kakek melanjutkan kisahnya. Kamu harus tahu bahwa pada saat percobaan memakan aneka tanaman, ada yang sampai keracunan hingga meningal. Namun tak sedikit pula yang malah sembuh dari sakit penyakitnya.

Hari demi hari nenek moyang dulu terus menerus melakukan uji coba dan penelitian pada tanaman hingga mereka benar-benar menemukan manfaat dan khasiat yang sesungguhnya. Setelah selesai sang kakek bercerita aku pun langsung bertanya: "Ndoi koderih beh "ogok" ngombai poh arok dalang kajuk, bahtuk jok kongivak pomo nyagak dok nait mak kolunon nai dok nguai rih....?" Yang artinya: "Lalu mengapa ya kek ada tanaman yang dijaga sedemikian rupa sampai diangap sakral? "

Dengan sedikit nada tinggi kakek ku menjawab: "Poh kalas dok nobong, nyohpit, munuk ah poh. Ya ka taam amoh kurah ah nai ndoi jonyok jahkek mondam poros pas monduluak ah rih". Artinya: semua itu bertujuan agar tanaman tersebut terus dijaga dan dipelihara. Karena sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Saya kala itu hanya menganguk-nganguk saja dan merasa senang mendapat pencerahan dari sang kakek yang dikenal sakti mandraguna. Bagi nenek moyang suku Uud Danum setiap tumbuhan yang diciptakan oleh Sang pencipta itu ada fungsi dan tujuan nya bagi kehidup manusia. Dan tugas kita sebagai manusia adalah mencari tahu khasiatnya dan terus memeliharanya.

Lewat tulisan ini, saya berharap kepada suku Dayak Uud Danum dan generasi selanjutnya. Tidak hanya mensakral tanaman sabang, tetapi dapat pula mengambil sejuta manfaat dari khasiat tanaman sabang ini sebagai obat tradisional.

Sebab tanaman sabang merupakan obat tradisional yang ampuh sejak dari jaman nenek moyang kita dulu. Melestarikan sumber daya alam yang ada bukan berarti tidak boleh mengambil dan memanfaatkannya. Pelihara, lestarikan dan gunakan secukupnya untuk kebutuhan manusia. Begitulah petuah nenek moyang jaman bahola.

Ku tuliskan pantun kepada keluarga besarku suku Dayak Uud Danum.
"Puun sabang dan somomolum, baas kongomulan ihto Uud Danum. Holuk poh tumbuk rintangan tok habun, arak noh niho somangat bolum !"

Salam budaya!

***