Budaya

Tembawang (2), Agroinvestasi Jangka Panjang Dayak Kancikgh

Rabu, 3 Maret 2021, 04:59 WIB
Dibaca 647
Tembawang (2), Agroinvestasi Jangka Panjang Dayak Kancikgh
Belimbing Darah alias Ucokgh dalam Bahasa Kancikgh

Berbeda dengan kebun monokultur, tembawang berisi beraneka ragam jenis pohon buah-buahan, bahkan ada diantaranya yang merupakan pohon buah-buahan endemik. Disebut endemik karena sangat unik dan tidak ditemukan ditempat-tempat lain.

Berikut adalah beberapa jenis pohon buah-buahan yang lazim ditemui di tembawang Dayak Kancikgh:

  1. Durian (Latin: Durio Zibethinus); berbuah setahun sekali terutama jika terjadi musim kemarau. Rata-rata berumur puluhan bahkan ratusan tahun dengan lingkar batang mencapai 1,5 sampai dengan 3 meter. Menghasilkan buah dalam jumlah antara 200 sampai dengan 700 buah perpohon;
  2. Lai atau Pekawai (Latin: Durio Kutejensis); masih satu family dengan durian, daging berwarna kuning/orange;
  3. Lahung atau Temeranang (Latin: Durio Dulcis); juga termasuk family durian. Kulit buahnya berwarna ungu sedangkan daging berwarna kuning. Satu pohon lahung dengan lingkar batang 1,5 sampai dengan 3 meter bisa menghasilkan buah sebanyak 300 sampai dengan 800 buah;
  4. Kerantung (Kancikgh: Keyowet, Latin: Durio Oxleyanus); juga termasuk family durian. Bentuk buahnya bulat berwarna hijau, daging berwarna kuning. Satu pohon kerantung dengan lingkar batang 1,5 sampai dengan 3 meter bisa menghasilkan buah sampai ribuan biji;
  5. Langsat (Latin: Lansium Domesticum) sejenis duku tapi warna kulit buahnya lebih putih;
  6. Rambutan (Latin: Nephelum Lappaceum);
  7. Lengkeng (Latin: Dimocarpus Longan);
  8. Asam Kalimantan atau Kemantan (Latin: Mangifera Similis) masih satu family dengan mangga. Buah berwarna hijau dengan daging berserat. Rasanya manis agak keasam-asaman;
  9. Asam Bacang (Latin: Mangifera Foetida) sejenis asam kalimantan tapi rasa asamnya sangat dominan;
  10. Belimbing Darah (Kancikgh: Golimikh Ucokh, Latin: Baccaurea Angulata) kulit buahnya berwarna merah darah dan menjadi pudar setelah masak. Rasa dagingnya manis bercampur kecut;
  11. Mentawa (Latin:  Artocarpus Anisophyllus); pohon dengan daun berpola jari-jari, buahnya berbulu kasar dengan daging berwarna orange (berubah merah ketika masak). Rasa dagingnya manis beraroma harum.
  12. Tengkawang (Latin: Shorea Stenoptera) sejenis meranti bardaun lebar dan berbuah sebesar pergelangan tangan. Buahnya bersayap dan memiliki daging berwarna kuning kecoklatan. Buah tengkawang diolah untuk dijadikan minyak.

 Masih banyak lagi jenis-jenis buah-buahan lainnya yang lazim ditemukan di tembawang Orang Kancikgh yang tidak termuat dalam tulisan ini.

Bagi Orang Kancikgh, tembawang merupakan bentuk investasi jangka panjang yang memiliki bukan hanya nilai ekonomi, namun di sana juga terkandung nilai sosial (sebagai perekat tali kekeluargaan), nilai budaya (sebagai benda yang memiliki nilai adat), nilai ekologi (sebagai penyangga tanah dan air, pelindung terhadap musibah dan bencana) dan nilai filosofis (sebagai bentuk bakti, ajaran dan kenangan bagi anak cucu).

Secara ekonomis, satu batang durian dengan lingkar batang 2 meter bisa dijual dengan harga 500.000 Rupiah sampai dengan 1.000.000 Rupiah, belum lagi kalau batang itu diolah menjadi bahan perabotan. Tapi transaksi dengan hitungan seperti itu tidak akan pernah terjadi di kalangan Dayak Kancikgh, karena tradisi Kancikgh melarang orang menjual benda pusaka dan tapang tembawang. Lantas, darimana mereka dapat profit dari pohon buah-buahan itu? Mari kita berhitung lagi.

Baca juga: Tembawang (1), Kebun Buah Raya Dayak Kancikgh

Walaupun rata-rata tanaman tersebut hanya berbuah setahun sekali, namun pada saat berbuah, 1 pokok durian dengan lingkar 2 meter bisa menghasilkan sampai 500 buah untuk sekali musim. Jika 1 buah durian saat ini harganya berkisar 5.000 rupiah sampai 25.000 rupiah, maka potensi pemasukan dari 1 pokok durian bisa mencapai 12.500.000 rupiah. Itu baru satu pokok durian. Bagaimana jika satu gugus tembawang memiliki sebanyak 5 atau 10 pokok durian? Bagaimana jika keluarga kita memiliki 10 gugus tembawang?

Begitu juga dengan buah-buahan jenis lain. Lahong dijual dengan harga 3.000 sampai 10.000 rupiah perbuah, pekawai 5.000 sampai 15.000 rupiah perbuah, kerantung 3.000 sampai 15.000 rupiah perbuah, mentawa 3.000 sampai 10.000 rupiah perbuah, asam kemantan 2.000 sampai 5.000 rupiah perbuah, lengkeng 10.000 sampai 20.000 rupiah perkilogram, belimbing darah 5.000 sampai 10.000 rupiah perkilogram, langsat 3.000 sampai 8.000 rupiah perkilogram. Harga berfluktuasi tergantung pasokan dan kualitas buah.

Orang Kancikgh yang menanam atau membuat tembawang biasanya tidak kebagian memanen hasilnya. Mereka menanam karena merasa terpanggil untuk menciptakan warisan sebagai kenangan kepada anak cucu.

Oleh karena itu, salah satu bentuk kearifan lokal Dayak Kancikgh yang masih terpelihara sampai saat ini adalah menyebutkan nama  tembawang sesuai dengan nama pembuatnya, seperti “Tomawakh Akek Batok” (dibuat oleh seorang yang dulunya dipanggil Kakek Batok). Dinamakan seperti itu sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada si pembuat tembawang.

Secara filosofis, kearifan lokal ini adalah bentuk edukasi dan keteladanan yang harus diikuti oleh generasi penerus bahwa mereka bisa memanen pada hari ini itu karena  jasa para nenek moyang mereka. Oleh karena itu Orang Kancikgh sangat melarang siapa saja yang berniat jahat membabat tembawang. Sumpah Adat Dayak Kancikgh mengatakan: “barang osih nik moraka, ngomela tapakh tomawakh, odup noh lah nik nangok tulah, dosa colaka solamak midup noh.” Barang siapa yang merusak atau membabat pusaka tapang tembawang, kepadanyalah tulah, dosa dan celaka ditanggungkan selama hidupnya.

(Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Durian dan berbagai sumber lainnya).

***