Budaya

Filosofi Rumah Panjai (Betang) #5

Rabu, 14 September 2022, 05:31 WIB
Dibaca 50
Filosofi Rumah Panjai (Betang) #5
Wilson

Dayak Iban, bagian dari keunikan dan kehebatan istilah tersebut. Banyak ahli dari berbagai belahan dunia dan berbagai bidang ilmu telah menelaah tentang “kedayakan” itu. Diyakini bahwa istilah "Iban" berasal dari musuh tangguh Iban sendiri, orang Kayan  (dulu orang Kayan bermusuhan dengan Iban secara umum) yang menyebut Orang Dayak Laut di wilayah hulu sungai Rajang yang awalnya bersentuhan dengan mereka sebagai "Hivan". Orang Kayan sebagian besar tinggal di wilayah Kalimantan tengah (berbatasan dengan Kalimantan Barat) dan bermigrasi ke hulu sungai Rajang dan dengan demikian pergi penebang pohon dengan orang-orang Iban yang bermigrasi dari wilayah Batang Ai /Lupar atas dan sungai Katibas. Faktanya, orang-orang Dayak Laut di wilayah Saribas dan Skrang awalnya menolak disebut Iban dan bersikeras untuk disebut Dayak tetapi entah bagaimana istilah Iban semakin menjadi populer di kemudian hari setelah orang Eropa mulai sering menggunakan istilah ini. Meskipun Iban umumnya berbicara dialek yang dapat dipahami bersama, mereka dapat dibagi menjadi cabang-cabang yang berbeda yang dinamai menurut wilayah geografis tempat mereka tinggal: (1) Mayoritas Iban yang tinggal di sekitar wilayah Lundu dan Samarahan disebut Sebuyaus; (2) Iban yang menetap di daerah-daerah di kabupaten Serian (tempat-tempat seperti Kampung Lebor, Kampung Tanah Mawang & lainnya) disebut Remun. Mereka mungkin kelompok Iban paling awal yang bermigrasi ke Sarawak; (3) Iban yang berasal dari daerah Sri Aman disebut Balau. Iban yang berasal dari Betong, Saratok &sebagian Sarikei disebut Saribas ; (4) Iban asli Lubok Antu Ibans digolongkan oleh antropolog sebagai Ulu Ai/batang aik Iban. Iban dari Undup disebut Undup Ibans. Dialek mereka agak merupakan persilangan antara dialek Ulu Ai &dialek Balau; (5) Iban yang tinggal di daerah dari Sarikei hingga Miri disebut Rajang Ibans. Kelompok ini juga dikenal sebagai "Bilak Sedik Iban". Mereka adalah kelompok mayoritas orang Iban. Mereka dapat ditemukan di sepanjang Sungai Rajang , Sibu, Kapit, Belaga, Kanowit, Song, Sarikei, Bintangor, Bintulu dan Miri . Dialek mereka agak mirip dengan Ulu Ai atau dialek lubok antu. Di Kalimantan Barat (Indonesia), masyarakat Iban semakin beragam. Kantu', Air Tabun, Semberuang, Sebaru', Bugau, Mualang, "Dessa" & bersama dengan banyak kelompok lain digolongkan sebagai "orang Ibanik" oleh para antropolog. Mereka dapat dikaitkan dengan Iban baik dengan dialek yang mereka ucapkan atau adat istiadat, ritual & cara hidup mereka (diambil dari berbagai sumber)

isi.