Wisata

Ada Lirih Di Pesona Ijen

Rabu, 21 September 2022, 19:59 WIB
Dibaca 162
Ada Lirih Di Pesona Ijen

ADA LIRIH DI PESONA IJEN

Buat saya yg jarang berolahraga dan melakukan kegiatan fisik berat, bisa menapaki naik ke Kawah Ijen rasanya prestasi luar biasa. Dengan perlahan tapi pasti, melakukan beberapa kali perhentian yg kadang hanya sanggup melangkah per 20 meter pada tanjankan yg saya anggap curam, akhirnya sampai juga pada puncak yg menjadi tujuan. Dan saya pun bangga pada diri sendiri karena hampir saja menyerah beberapa kali tak melanjutkkan menapaki jalan tersebut.

Saya termasuk bagian pendaki yang terakhir dari kelompok perjalanan yg menyenangkan ini. Selain tentu saja teman-teman yang setia menunggu saya utk terus melangkah secara perlahan, saya juga tak perlu khawatir, karena selama perjalanan ini jika kita menyerah meneruskan perjalanan, ada warga lokal yg siap membantu kita untuk sampai pada puncak tujuan. Mereka akan mengangkat berat beban kita dengan menggunakan troli, di tarik oleh dua orang dan satu orang pendorong.

Satu team yg berjumlah 3 orang ini akan memastikan kita sampai pada puncak Kawah Ijen jika kita tak sanggup melakukan perjalanan menggunakan kaki sendiri. Mereka setia mengikuti kita, tanpa memaksa para pengunjung utk menggunakan jasa mereka. Mereka hanya bersetia, jika kita tak kuat maka mereka akan selalu ada di dekat kita utk membantu tujuan kita terpenuhi.

Sampai di Kawah Ijen saya begitu gembira merayakan kerberhasilan tiap langkah yg terasa berat tersebut. Hampir setiap bagian puncak Kawah Ijen menjadi spot pengabadian momen bahwa saya pernah sanggup menapaki puncak yg tak seberapa tinggi tersebut dibandingkan dengan spot2 pendakian di Indonesia. Senyum simpul gembira, terabadikan pada tiap jepretan kamera. saya memandangi puncak ijen 360 derajat tanpa henti. 

Di hadapan saya terbentang danau yang tampak indah dan menyejukan, warna-warni bebatuan dan rerumputan menambah aksen keindahan puncak gunung, di balik punggung, saya bisa merasakan kehangatan matahari yang mulai menyapa pagi. 

sejenak saya larut dalam pesona ijen, lalu saya tengok kembali mereka, warga lokal yg mengiringi kami dari saat pendakian, rupanya mereka masih bersetia menamani kami, menemani langkah kecil kami sambil menunggu kami puas menikmati dinginnya Ijen, indahnya panorama dan terbitnya surya yg seringkali bersembunyi dibalik awan. Dari pandangan foto-foto ini pandanganku tertuju ke bawah kiri depan. Di sana kulihat warna kuning belerang yg tampak indah menawan dengan sesekali asap yg keluar menyertainya.

Lalu aku menapaki turun, kulihat aktivitas pengambilan belerang. Tak sedikit orang yg hidup dengan mengorbankan dirinya setiap hari menghirup belerang. Mereka berjalan melewati jalur yg lbh curam dan berbahaya berjalan kaki dengan memanggul beban yg bisa mencapai 80kg lebih atau ratusan kilogram menggunakan troli dari ketinggian 2769 MDPL hanya utk bisa menjual belerang dengan harga 1200 - 1500 rupiah per kilogram. Saya tak sempat mengambil gambar mereka karena telepon genggam saya kehabisan tenaganya, Anda bisa menggoogling foto2 kegiatan pengambilan/penambangan belerang yg dilakukan warga tersebut, tak sedikit pula liputan yg sudah membahas mengenai hal ini.

Sejenak saya membathin, Ada Lirih di Pesona Ijen. Di balik Keindahan, di balik ketenagan dan dibalik kehangatan Ijen ada tersembunyi kerasnya kehidupan, dan saya pun bersyukur karena hari ini saya diberikan kesempatan hidup yg tampak lebih mudah dibandingkan mereka. saya sempat bersedih sangat karena tampaknya hidup tak begitu mudah bagi mereka.  kurasa bukan terjalnya tebing yg membuat kehidupan menjadi berat bagi mereka karena ini tampak seperti hal yang biasa saja bagi mereka.

Ketidakadilan struktural kesejahteraan tampaknya lbh terjal dari kehidupan yg pernah kita bayangkan sebelumnya. Perjuangan mereka bukan hanya soal perjuangan mengangkat beban berat dalam ukuran kilogram belerang. Bukan hanya persoalan harus melawan dinginnya cuaca, bukan hanya persoalan betapa berisikonya memghirup belerang setiap hari, perjuangan mereka adalah perjuangan kehidupan yg begitu keras, dari puncaknya ketidakadilan struktural. Mereka seringkali tak berdaya dengan harga belerang yg tak menentu tanpa perlindungan kesehatan dan jiwa yang memadai saat bekerja.

Tenaga dan risiko yg mereka keluarkan setiap hari ditentukan oleh brutalnya hukum pasar dalam supply and demand. Tampaknya jaminan dan kepastian adalah situasi yg tak pernah mampir di kehidupan mereka.

Setelah puas menikmati magisnya Ijen, kami pun kemudian kembali menuruni jalan sama yg kami lewati sebelumnya. dan saya masih dikejutkan oleh kesetiaan mereka utk menemami perjalanan menuju pulang.

Saya kembali menjadi orang paling belakang dari rombongan ditemani oleh pemandu dan warga lokal dengan trolinya yang siap mengantarkan jika saya tak sanggup menuruni terjalnya jalur yg memakan ketahanan paha dengkul, betis dan tumit. Sambil berjalan perlahan kami mengobrol kembali.

Para pengangkut troli ini sebelumnya juga adalah para pencari rizki dari menambang belerang. Sesekali mereka masih melakulan kegiatan tersebut, apalagi di masa pandemik yg jumlah pengunjung Ijen berkurang drastis yg mengharuskan mereka kembali menambang belerang tersebut. Dalam perjanalan kembali turun itu, mereka juga sesekali kembali menawarkan kembali jasanya utk membawa saya menggunakan troli. Kehidupan memang begitu keras bagi mereka. Beban berat mengangkut manusia untuk naik dan turun tak seberat beban kehidupan yg mereka hadapi.

Di masa pandemik ini mereka terpaksa harus menurunkan tarif jasa menarik trolinya, bahkan mereka menurunkan hampir setengahnya karena jarangnya pengunjung yg datang. Pandemik memang terasa brutal pada kelompok-kelompok rentan semacam ini.

Sekalipun terus menemaniku menuruni jalur, tetap tak ada paksaan sama sekali, dan mereka terus setia menemaniku sampai diujung tujuan. Tak ada jaminan pengunjung yg ditemani oleh mereka baik naik maupun turun ini akan menggunaakan jasa mereka Tapi sejak awal kami melangkah naik dan turun mereka berkhidmat setia menemani kami sampai akhir.

Mereka para penarik troli, para penambang belerang, mereka yg hidupnya dalam ruang terjal, terus bersetia pada keluarganya, terus bersetia pada kami pengunjung yg tak dikenalnya. Mereka terus bersetia dengan perjuangan hidupnya.

Hari ini saya belajar soal kesetiaan dari orang-orang yg tak dikenal. Belajar pengorbanan waktu dan tenaga utk memastikan kami, orang tak dikenal, mampu sampai ditujuannya. Bisakah kita bersetia dengan cara yg sama bagi kelompok-kelompok yang kurang beruntung, mendampingi mereka sampai di tujuan hidupnya? Rasanya kita perlu belajar dari mereka..

Ah..
Para pejuang kehidupan..
Hormatku setinggi-tingginya untuk kalian..

At last,
bagi saya ini bukan sekedar perjalanan wisata tapi telah menjadi perjalanan yg memberikan pengalaman yag mendalam. Semesta seringkali bekerja dengan cara yg misterius yg memberikan energi utk bisa menyentuh sisi spritualitas kita.

Tabiiik
HP