Wisata

Diono Journey #1: Lalui Jalan Nasional Berhari-Hari Pulang Ke Kampung Ba' Binuang, Krayan Tengah

Senin, 31 Mei 2021, 18:06 WIB
Dibaca 936
Diono Journey #1:  Lalui Jalan Nasional Berhari-Hari Pulang Ke Kampung Ba' Binuang, Krayan Tengah
Foto: dokumentasi perjalanan Malinau ke Binuang

Menjelang libur atau cuti bersama di bulan Mei 2021, kalender banyak tanggal merahnya, banyak diantara kita merencanakan akan kemana atau baiknya berlibur kemana?

Demikian juga dengan saya, akan mengagendakan hendak pergi kemana. Jauh hari sebelumnya, saudara Heri mengajak saya untuk melalui jalan Nasional dari Malinau menuju perbatasan di wilayah Krayan, waktu saya diajak saya sempat memberi harapan untuk terlaksananya perjalanan tersebut. Namun, suatu kendala dalam rencana tersebut yaitu saya tidak ada tiket pesawat dari Krayan Tengah Binuang ke Malinau, sedangkan Heri sudah dapat tiket.

Ya, akses di tempat asal saya masih harus menunggang burung besi terbang sampai ke kota. Pagi hari keberangkatan saudara Heri, ke Malinau, saya sempat minum kopi bersama beberapa teman dan orang tua di belakang rumah membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari para masyarakat setempat. Mungkin sekitar jam setengah sembilan pagi itu, saya kepikiran ke Malinau bersama saudara Heri, namum tidak ada tiket.

Saya coba-coba kontak petugas pesawat Susi air, burung besi berkapasitas muat 7 orang penumpang, saya menanyakan apakah masih ada set kosong untuk satu orang ke Malinau dari Binuang, dalam percakapan saya dengan petugas Susi air ternyata masih ada. Wah, dalam hati saya mengucap syukur. Lalu, saya bergegas menuju bandara yang ada di Binuang untuk melakukan cek in.

Tak lama, pesawat yang akan menjemput kami pun mendarat mulus di bandar udara S.Tipa Padan, di Binuang Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Petugas mempersilakan penumpang masuk ke pesawat, dan berangkat menuju Kabupaten Malinau.

Setiba kami di Malinau, sesuai protokol kesehatan dari pemerintah kami mengikuti proses pemeriksaan petugas jaga bandar Robert Atty Bessing, Kabupaten Malinau. Setelah dinyatakan negative Covid-19 penumpang boleh keluar bandar.

Liburan kali ini saya gunakan untuk mencari kendaraan bermotor, kebutuhan transportasi di kampung halaman. Sesampai saya dan Heri setiba di rumah kami bergegas mencari motor yang akan kami kendarai dari Malinau ke Binuang Krayan Tengah. Saudara Heri memilih motor Byson yang berwarna biru dan sedangkan saya memilih membawa motor metik beat Honda berwarna hitam. Saya memilih motor Beat.

Mengingat jalan darat yang akan kami lalui belum beraspal, yaitu jalan Nasional dan medan yang cukup menguji nyali. Kami harus menyiapkan kelengkapan motor dan menggantikan komponen-komponen yang kurang bagus.

Pengalaman perjalanan dengan jalan yang masih hutan, jalan trobosan ini sudah beberapa kali saya pernah lalui, sedangkan saudara Heri boleh dikatakan baru pertama kalinya, mengharuskan menghadapi sebuah tantangan yang belum pernah dirasakannya membuat menambah penasaran.

Sore itu, kami mempersiapkan perbekalan selama dalam perjalanan, karena kami berdua tidak mempunyai target perjalanan hanya satu malam dalam perjalanan. Kenginan menikmati perjalanan dengan menggunakan roda dua ini sudah direncanakan satu bulan lalu.

Kami harus bangun pagi lebih awal, supaya tidak kepanasan dalam perjalanan yang tidak ada pohonnya, maklum jalan di daerah perkotaan Malinau yang sudah beraspal. Saat kami jalan mengendarai motor Byson dan motor Beat, rasanya sangat senang dan angin yang menghantam muka membuat ingin tidur kembali. Namun, karena rasa penasaran dengan jalan yang dilalui, kami berdua sesekali berhenti sambil menikmati jagung rebus yang sudah direbus saudara Heri, dinikmati dalam perjalanan.

Dari perjalanan yang mulus, hingga jalan yang berlubang kami dua lalui.

Akhirnya, kami sampai pada tantangan pertama dalam perjalanan yaitu bukit Cinta, menurut cerita mengapa di buat nama bukit Cinta? Dimana Bukit itulah bukti terakhir dalam perjalanan menuju Krayan yang dapat menelpon saudara atau keluarga dalam arti bukit yang ada jaringan Telkomsel.

Bagi para pekerja jalan, tempat itulah mereka menelpon untuk melepas rasa kangen dengan anak, istri dan keluarga lainnya di rumah. Pada saat naik Bukit cinta, saya sesekali berhenti mendinginkan mesin motor, karena mengeluarkan asap dan ada bau terbakar dari bagian motor yang bukan melalui kenalpot.

Begitu saya mendapatkan signal Telkomsel, saya menelpon teman di malinau yang memiliki bengkel motor dan saya bertanya tentang asap dan bau terbakar dari motor, menurut teman yang paham betul dengan motor, ternyata itu fambel terbakar karena panas, dia menyarankan supaya mesin jangan dipaksa kalau mesin sudah terlalu panas. Kami berdua sempat berhenti sekitar satu jam untuk mendinginkan mesin motor.

Kami berdua istirahat sebentar, lalu lanjut lagi perjalanan yang masih awal.

Mengusir rasa lelah kami, dalam perjalanan kami sempat membuat beberapa video untuk kenangan, semakin jauh perjalanan kami berdua, sudah mulai terasa jalan mulai punya tantangan perlahan tapi pasti tambah berat.

Kami harus berhadapan dengan jembatan kayu yang putus dibawa arus air yang besar pada malamnya. Saya dan saudara Heri sempat berdiskusi bagaimana cara menyeberangi motor tersebut, dalam percakapan kami, saya menyarankan motor beat Honda yang saya bawa saya pikul pakai Pundak sendiri saja, namun ada keraguan di muka saudara Heri apakah saya sanggup mengangkat beban seberat itu?

Dalam air tersebut hampir sampai pinggang orang dewasa dan saya mulai mengambil ancang-ancang untuk memikul motor beat Honda tersebut saya mampu memikul sampai di seberang Sungai dengan baik tanpa motor basah kena dengan air. Pada gilirannya Motor Byson yang di kendarai saudara Heri, kami berdua harus bekerja sama mengangkat bagian depan dengan kayu sambil ditarik dalam air, sedangkan kenalpot motornya di tutup saudara Heri dengan kayu supaya tidak ada air masuk.

Sesampai diseberang Sungai tiba-tiba ada terdengar suara orang, ternyata ada orang Dayak Punan yang tinggal di situ sudah lama, kamipun saling menyapa dan bertanya tentang jembatan kayu yang putus itu, menurut mereka jembatan tersebut putus dibawa air pada malam hari tadi. Saya sempat berbagi permen untuk kedua orang tersebut. Saya sambal berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Saya pikir, jika hidup itu tentang perjalanan, maka pilih cara kita menjalaninya serta bagaimana memberi arti bagi perjalanan itu.

Kami melanjutkan perjalanan sekitar satu kilometer kamipun berhadapan dengan tanah longsor, karena tanah longsor tersebut sangat lembek dan butuh tenaga yang prima melewati tanah longsor tersebut.

Sayapun memotong ranting-ranting kayu untuk dibuat jalur motor melewati tanah longsor tersebut, usaha tersebut sia-sia karena tanah tersebut sepertinya lumpur yang seakan ‘menelan’ kita kedalam, kami berdua sudah cukup berusaha namun tidak dapat melewati tanah longsor tersebut. Akhirnya saudara Heri menawarkan "Bagaiman kita panggil saja orang yang kita ketemu tadi untuk bantu"?  Lantas, saya mengiyakan saya tawaran saudara Heri. Saya duduk menunggu saudara Heri pergi memanggil orang Dayak Punan yang sempat kami dua ketemu tadi, namun kami tidak saling tau siapa nama masing-masing, kurang lebih setengah jam akhirnya datang juga dua orang yang kami bertemu di sungai yang putus jembatan tadi, dari kami berdua tadi menjadi berempat sekarang untuk mengangkat motor melewati longsor tersebut.

Motor pertama dan kedua sudah kami angkat melewati longsor. Kamipun duduk sambil bercerita tentang jalan tersebut, saya baru ingat dari tadi tidak tau nama dua orang tersebut, sayapun mulai memperkenalkan diri. Medan jalan berat ini menurut mereka sangat sulit, saya mulai memperkenalkan diri dengan kami berdua, dan mereka juga memperkenalkan nama mereka yaitu Bidun dan Anjay. Bidun dan Anjay saya perkirakan umur mereka berkisar 20an Tahun.

Penduduk setempat ini sangat baik membantu tanpa harus diberi imbalan dulu baru bantu, biarpun Bidun dan Anjay tidak meminta imbalan, kami berdua memberi sedikit imbalan dalam bentuk uang untuk mereka berdua, mereka berduapun menolak sebenarnya, karena saudara Heri tetap memberinya mereka berduapun menerimanya dan berterima kasih.

Saya yakin Bung Bidun dan Bung Anjay orangnya baik, mereka sudah lama tinggal disitu dengan orang tua dan keluarga mereka yang lainnya.

Kami berduapun melanjut perjalanan, memang hari itu sudah terlalu banyak waktu yang terbuang hanya karena tanah longsor, jembatan putus dan Satu tantangan lagi yaitu kayu rebah tepat di jalan yang Kami lalui, kami berdua menghabiskan waktu sekitar dua jam, saudara Heri sempat menawarkan untuk bermalam didekat kayu yang rebah di jalan karena saya melihat jam di Hp masih menunjukan sekitar setengah tiga sore saya memutuskan untuk kami berdua melanjutkan perjalanan.

Tibalah kami berdua, di satu desa yaitu Desa Semamu, desa ini paling ujung Malinau tapi kami berdua memutuskan tidak tidur di rumah penduduk, kami memutuskan tidur disebuah pondok penduduk setempat yang ada di bekas ladang. Sore itu, sampai malam hujan lebat disertai angin membuat kami berdua tidak menyalakan api, karena hujan dan angin. Malam itu kami sangat kelelahan, untungnya tidur kami nyenyak sampai paginya.

Bersambung…

***