Wisata

Mengenal Sup Ikan Pelian Penggugah Selera Khas Dayak Sungai Kerayan

Kamis, 25 Maret 2021, 13:38 WIB
Dibaca 2.029
Mengenal Sup Ikan Pelian Penggugah Selera Khas Dayak Sungai Kerayan
Foto: Pribadi Istimewa

Bukan ikan kakap, apalagi ikan tongkol, bukan pula ikan tuna, ikan salmon atau ikan Bandeng. Tetapi kami menyebutnya ikan Pelian!

Ya begitulah sebutan nama ikan ini di daerah tempat tinggal saya. Ikan Pelian merupakan salah satu ikan yang paling enak yang ada di daerah aliran Sungai Kerayan, sungai yang mengalir dari hulu daerah Kecamatan Krayan Tengah, tepatnya  Desa Long Padi. Dari hulu sungai Kerayan di Kecamatan Krayan Selatan dan mengalir samapi ke Kecamatan Krayan Tengah, Desa Binuang.

Unik sungai Kerayan ini yang ada di wilayah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Soal ikan jangan tanya, sungai ini menyimpan berton-ton ikan Pelian yang tidak dapat diketahui jumlahnya. Belum lagi ikan pelian yang tinggal di dalam anak-anak sungai yang terhubung dengan sungai kerayan, diantaranya ada Sungai Rungan, Sungai Padi, Sungai Bayur dan Sungai fe’ Milau dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya, mengapa ikan Pelian ini menjadi sajian menu khas masakan paling enak bagi suku Dayak yang ada di sepanjang Sungai Kerayan? Ya, bagi suku dayak Lengilo’ dimanapun tempat tinggalnya, ketika ditanya ikan apa yang paling enak yang ada di aliran sungai kerayan, dapat dipastikan akan menjawab ikan Pelian (dalam bahasa Dayak Lengilo’ menyebutnya Lawid Luang).

Sup Kepala Ikan Pelian/ Lawid Luang.

Ikan Pelian sangat digemari oleh masyarakat dayak yang tinggal di sepanjang Sungai Kerayan, ikan ini pada saat kecil tidak senang dengan aliran yang deras, begitu ikan ini mulai besar, ia sangat senang dengan aliran yang deras. Bagi masyarakat dayak setempat dan bahkan para turis mancanegara dan lokal bagian yang paling enak adalah sup kepala ikan pelian.

Bahkan seorang penulis terkenal yang berdarah Dayak, Bapak Masri Sereb Putra (Derayeh Lingu Tawak Lengilo’)  ia banyak melahirkan tulisan dan hasil penelitian diterbitkan menjadi buku sampai publikasi karya ilmiah. Saat mengujungi daerah Krayan, tepatnya Krayan Tengah Binuang. Ia mengecap rasa, seperti apa enaknya sup kepala ikan Pelian (Lawid Luang) ini. Tidak hanya itu, para tamu-tamu pemerintah yang pernah menyantap ikan pelian ini juga merasakan betapa sedapnya Sup kepala ikan pelian. Sungguh sedap rasanya.heheh…

Banyak orang tidak mengenal daerah lembah Sungai Kerayan yang memiliki potensi wisata, makanan, dan budaya adat-istiadat setempat sangat bertolak belakang dengan cerita-cerita yang selama ini didengar dari orang yang bukan paham dengan kondisi wilayah setempat.

Kisah Artis Ibu Kota Datang ke Krayan

Siapa tidak mengenal Ibnu Jamil? Bagi anak muda akan mengenal siapa itu Ibnu Jamil, ia aktor atau pembawa acara di televisi. Ia juga sudah merasakan seperti apa tantangan agar menjangkau daerah Krayan Tengah Binuang. Saat itu, ia dan timnya mengendarai kendaraan roda dua, dibulan Februari 2021 lalu, tim motor dari Ibnu Jamil berangkat dari Kabupaten Malinau.

Kisah hebat perjalanan mereka, untuk tiba di Krayan Tengah butuh enam hari enam malam sampai di Krayan Tengah Binuang, tim dari Ibnu Jamilo termasuk salah satu orang yang boleh dikatakan cukup nekat masuk ke daerah Krayan Tengah ini dari Kabupaten Malinau dan orang dari luar Kalimantan mencoba jalan dalam bahasa Ibnu menyebutnya jalan “Neraka”.

Saya sangat paham, sampai Ibnu dan tim mengeluarkan stetmen seperti itu. Pada tahun 2018 saya pernah mencoba jalan Malinau ke Krayan Tengah ini dengan menggunakan motor, ditemani dua orang teman, pada saat itu saya menyebutnya jalan tersebut jalan “Hantu”.

Kalau kita mendengar pernyataan Ibnu dalam wawancara dengan salah satu kasubag Humas Kabupaten Nunukan, dalam perjalanan mereka tidak menemukan satu orangpun, bayangkan kita pada posisi tidak bertemu dengan orang sepanjang dalam perjalanan, tentu rasanya sudah berbeda, apalagi saat Ibnu Jamil dan tim motornya masuk ke wilayah Krayan Tengah orang pertama ditemui sepanjang jalan  yaitu pak Kalvin.

Nah, disitulah mereka merasakan hal yang sangat luar biasa, ternyata masyarakat yang ada di Krayan Tengah sangat menyambut kedatangan tamu yang masuk kewilayah Krayan Tengah dengan penghormatan yang mungkin tidak terjadi didaerah lain, budaya atau adat-istiadat setempat memberi mereka kesan yang sulit dilupakan, semua elemen adat dan pemerintah setempat memberi penyambutan yang mereka temukan pada pejabat-pejabat negara, ternya di Indonesia di daerah pinggiran masih dilestarikannya adat istiadat yang sudah turun temurun.

Sebelum dunia mengalami pandemi Covid-19, Daerah Krayan Tengah juga kedatangan turis mancanegara yang senang memancing. Mereka menikmati indahnya alam yang ada di lembah Sungai Kerayan. Biasanya para turis mancanegara ini di dampingi masyarakat setempat untuk menunjuk arah dan menjaga hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan dalam hutan atau sungai Kerayan, semuanya demi keberlangsungan dan lestarinya alam di jantung Kalimantan. Biasanya para turis hanya memancing dan begitu mereka dapat ikan, mereka lepas kembali ke dalam sungai.

Alat Penangkap Ikan Tradisional, Merawat Kelangsungan Hidup Ikan

Sebelum masyarakat dayak mengenal yang namanya alat-alat untuk menangkap ikan, seperti pukat, pancing dan lainnya, masyarakat memanen ikan ini dengan cara ditombak, dibuat perangkap ikan terbuat seperti bubu, taleb dan mereng.

Bahasa Dayak Lengilo’ menyebut Taleb. Taleb dibuat dari mengumpul batu sebanyak-banyaknya untuk disusun didalam sungai, diusahakan batu-batunya dibuat seperti tanggul dan memiliki satu pintu, begitu Taleb jadi, biasanya pemilik taleb membuat pintu yang dapat di tutup untuk menahan ikan yang sudah masuk pergi mencari makanan yang sudah ditaburkan didalam taleb.

Masih ada sampai sekarang, di sungai Kerayan kita masih dapat melihat Taleb Pon Pagu’ di sungai Kerayan yang ada di pinggir sungai yang menyeberangan dari Malinau ke ibu kota kecamatan Krayan Tengah. Sangat disayangkan, Taleb Pon Pagu’ sudah tidak terawat dengan baik dan hanya meninggalkan beberapa batu, bisa kita lihat pada waktu air surut. Perangkap yang masih sangat tradisional itu mampu melestarikan keberlangsungan ikan Pelian di sepanjang sungai kerayan.

Sungai Kerayan ibarat tempat menampung banyak jenis makanan ikan yang menyehatkan bagi suku dayak yang tinggal di sepanjang sungai Kerayan.

Melihat minat masyarakat dengan ikan pelian ini, dibutuhkan pendampingan dari orang-orang yang ahli dan paham dengan pengembangan perikanan supaya selanjutnya dapat mengembangkan atau budidaya ikan pelian menjadi lebih banyak di Krayan. Harapannya, ini menjadi pekerjaan rumah bersama, bagaimana upaya pemerintah, masyarakat akan kelangsungan ikan Pelian/ lawid Luang dapat dibudidaya sekaligus dipasarkan keluar daerah Krayan Tengah.

Nah, yang paling mantap lagi, bagi setiap orang yang merasakan lawid luang, dapat  saya pastikan akan ingin kembali menikmati Sup kepala ikan Pelian.

***