Wisata

Nikmatnya Saluang Banjarmasin

Minggu, 23 Agustus 2020, 19:56 WIB
Dibaca 73
Nikmatnya Saluang Banjarmasin
Kolase pribadi

Dodi Mawardi

Penulis senior

Selama bertahun-tahun di Jakarta, saya sering sekali melewati jalan Pangeran Antasari. Sebuah jalan panjang yang menghubungkan Cilandak dengan Blok M, di Jakarta Selatan. Pangeran Antasari adalah pahlawan nasional dari Kalimantan Selatan, yang beribukota Banjarmasin.

 

Barulah pertengahan Juni 2019 lalu, saya benar-benar menginjakkan kaki ke tanah Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Adalah tugas mendadak dari LSP Penulis dan Editor Profesional (PEP), yang langsung saya iyakan tanpa berpikir panjang.

 

Tugas sebagai asesor di TUK Universitas Lambung Mangkurat. Saya sudah berkali-kali ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Kalimantan Selatan? Belum! Inilah kesempatan emas untuk mengunjungi provinsi yang katanya asyik itu.

 

Sayang sekali, karena relatif mendadak, saya tidak mendapatkan tiket langsung Jakarta -- Banjarmasin. "Mas Dodi mohon maaf harus transit dulu di Balikpapan selama 4 jam. Apakah berkenan?" tanya mbak Epik penanggungjawab kegiatan asesmen LSP PEP. Jawaban saya mungkin mengagetkan sekaligus menyenangkan.

  

"Nggak apa-apa. Saya senang kok transit dan menunggu. Saya jadi bisa menulis di bandara..." Buat saya, kegiatan menunggu yang sudah terencana seperti itu menyenangkan. Apalagi bandara di Balikpapan nyaman sekali. Salah satu yang terbaik. Bisa menulis dengan gembira dalam waktu panjang.

 

Kawan saya malah sangat senang kalau disuruh menunggu, apakah itu transit atau pesawat tertunda. Baik yang terencana maupun yang mendadak. "Asyik-asyik saja. Saya jadi bisa jualan buku," katanya semringah. Dia memang tenaga penjual yang menulis buku. Jualan deh di mana pun berada.

 

---------

 

Udara Banjarmasin saya hirup pertama kali selepas zuhur. Cukup panas. Terik. Namun ketika masih di angkasa, saya bisa melihat dengan jelas liukan-liukan sungai. Seperti ular. Jumlahnya banyak. Pantas kalau Banjarmasin dikenal sebagai kota seribu sungai.

 

Kebetulan pesawat yang saya tumpangi dari Balikpapan adalah ATR 72. Terbang tak terlalu tinggi, sehingga bisa jelas melihat hamparan indahnya Kalimantan dari angkasa. Masih hijau dan luas. Inilah masa depan Indonesia. Begitu batin saya setiap kali terbang di atas Borneo.

 

Selepas istirahat sejenak di hotel GSign di jalan Ahmad Yani, saya langsung menuju Universitas Lambung Mangkurat. Penjemputnya istimewa, Dr. Ir. Gusti. Salah seorang asesor yang pengajar di kampus tersebut. Beliau langsung yang menyetir menuju kampus.

 

Jarak tempuh sejauh belasan kilometer, hanya butuh waktu tak sampai 30 menit. Tidak ada kemacetan sama sekali. Oh ya, ini hari Minggu. "Hari Minggu lebih ramai Pak dibanding hari biasa..." kata sopir taksi dari Bandara, ketika mengantar saya ke hotel. Owalah... ramainya saja tidak macet. Cocok jadi ibukota baru, hehe.

 

Di Unlam, meski hari Minggu sore kegiatan tetap berlangsung. Kami mempersiapkan acara besok. Acara istimewa buat teman-teman TUK (Tempat Uji Kompetensi) Unlam, uji kompetensi pertama kali untuk penulis dan editor sebanyak 56 asesi, yang berpusat di LP3 (Lembaga Pusat Pengembangan Pembelajaran). Hadir para asesor yaitu Prof. Dr. Suratno (Kepala LP3), Prof. Dr. Abdul Hadi (Kepala Perpustakaan Unlam), dan Hasrul Satria, MSi.   

 

-------------

 

Tak lengkap rasanya ke Banjarmasin jika tak melihat dan menikmati aliran sungai. Malam itu juga, ditemani mas Roy (dan pak Kandar), orang asli Banjarmasin yang sudah hidup 8 tahun di Jakarta, berjalan-jalan di Taman Siring, salah satu pusat kegiatan wisata di kota itu. Oh, ramai juga.

 

Banyak pedagang berjejer menghampar dagangan di sepanjang sisi sungai Martapura, yang gemerlap dengan lampu. Kedua sisi sungai tertata dengan apik sepanjang sekitar 1 km. Muda mudi tua dewasa dan anak-anak, bercampur baur menikmati suasana malam.

 

Di sungai, tampak hilir mudik perahu klotok membawa wisatawan domestik menikmati aliran air. Bulan purnama menjadi saksi betapa warga Banjarmasin menikmati sungai yang tak pernah meluap itu. Lebarnya tak kurang dari seratus meter. Leluasa untuk perahu bergerak melaju.

 

Konon kabarnya, tempat wisata baru dengan ikon Menara Pandang itu, menjadi salah satu primadona. Pemerintah setempat menyulapnya beberapa tahun lalu, dari kondisi kumuh menjadi daya tarik.

 

Di sebagian besar aliran sungai Martapura, masih tetap seperti masa lalu. Kumuh dan tak teratur. Banjarmasin pun terus bergeliat dan menata diri menuntaskan PR-PR tersisa.

 

Saya membayangkan berada di Venezia, menaiki perahu menyusuri aliran air bersama istri tercinta. Romantis. Plus bonus pancaran sang purnama. Wah, Banjarmasin bisa seperti itu. Dan memang katanya itulah impian pemerintah setempat.

 

Menjadikan sungai-sungai di Banjarmasin sebagai tempat wisata yang dapat menarik lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Amin. Saya ikut mendoakan. Biasanya akan cepat terealisasi.

 

Sayang sekali, karena waktu berada di Banjarmasin amat terbatas, saya tak sempat menengok ikan-ikan di Sungai Barito. Sungai yang lebarnya lebih dari 1 km. Sungai yang di beberapa bagiannya terdapat pulau-pulau kecil. Tapi, alhmadulilah, saya masih dapat menikmati lezatnya ikan-ikan yang sudah ada di atas meja makan.

 

----------

 

Dekan FKIP Unlam Prof. Wahyu, ternyata menjadi asesi dan saya menjadi asesornya. Karena tahu saya berasal dari Jawa Barat, daerah asal beliau, tanpa ba bi bu lagi langsung mengajak saya untuk makan malam, selepas tugas di Unlam. Komunikasi pun dalam Bahasa Sunda.

 

Ramah dan akrab seperti sudah berjumpa bertahun-tahun. Ajakan yang tak bisa saya tolak. Di sebuah restoran di jalan Ahmad Yani-lah saya berjumpa dengan sajian ikan khas Banjarmasin.

 

Yang pertama tentu saja ikan Gabus. Hmmm, nikmat sekali. Segar. Apalagi disajikan dalam kemasan berbeda. Sup dan goreng. Dua-duanya maknyus. Lalu ikan patin. Tak kalah nikmatnya.

 

Dan yang terakhir yang saya cicipi adalah Saluang.... Ikan-ikan kecil yang digoreng renyah dengan balutan tipis tepung. Ini ikan favorit saya. Di Jakarta, tidak mudah menemukan si baby fish ini. Tempo hari saya menemukannya di Bogor dan di Lembang Bandung.

 

Di beberapa hypermarket memang tersedia, tapi jarang. Setelah saya rasakan, Saluang Banjarmasin berbeda. Rasanya lebih renyah, lebih orisinal, dan... nikmat. Cocok sekali dengan lidah saya.

 

Melihat saya lahap menikmati Saluang, Prof. Wahyu langsung memesan dua toples saluang sebagai oleh-oleh buat saya bawa ke Jakarta. Hehe, terima kasih Prof. "Saluang di sini berbeda dengan di tempat lain. Meski ikan kecil-kecil, tapi seluruh ikannya dibersihkan dulu satu persatu sebelum dimasak..." kata Prof. Wahyu. Benar juga.

 

Tidak ada rasa pahit yang berasal dari perut ikan, yang pernah rasakan pada salah satu sajian baby fish. Kalau Saluang, semuanya maknyussss. Rajin sekali mereka membersihkan ikan-ikan mini itu. Pasti butuh ketelatenan.

 

Tak salah jika Saluang menjadi makanan favorit wisatawan yang datang ke Banjarmasin. Ah wisatawan yang cerdas yang tahu makanan enak, hehe... Selain Saluang masih ada sejumlah kuliner favorit lain di Banjarmasin. Tapi sebaiknya dimakan di tempat.

 

Misalnya Lontong Orari, Ketupat Kandangan (ikan gabusnya juga maknyuss) atau Soto Banjar. Semuanya nikmat dan bikin lidah bergoyang, serta ingin kembali ke Banjarmasin.

 

Ketika berpamitan, Prof. Suratno berkata kepada saya, "Siapa pun yang datang ke Banjarmasin, dan sudah minum air sungai Martapura, biasanya akan kembali lagi ke sini..."

 

Wah, seperti sebuah kalimat sakti ya.

 

Ah Prof, tanpa kalimat sakti itu pun, saya akan kembali ke tempat yang menyenangkan seperti Banjarmasin. Minimal menjemput Saluang yang nikmat.