Politik

Lima Mitos Kehebatan Amerika Serikat

Senin, 18 Januari 2021, 13:30 WIB
Dibaca 218
Lima Mitos Kehebatan Amerika Serikat
Mitos USA

Dodi Mawardi

Penulis senior

 

“Make Amerika Great Again.”

Begitulah slogan Donald Trump ketika memenangi pemilu dan menjadikannya sebagai presiden 2016 lalu. Slogan itu sebagai suatu simbol bahwa saat itu dan (mungkin) sampai saat ini, Amerika bukanlah negara paling “great”.

 

Setelah berakhirnya Perang Dingin – ditandai pecahnya Uni Sovyet – Amerika Serikat seolah menjadi satu-satunya negara adikuasa. Negara tersebut yang terkuat dalam segala hal. Politik, pengaruh politik, demokrasi, ekonomi, kebebasan pers, budaya, militer, pertahanan, keamanan, dan sebagainya. Kekuatan dan pengaruhnya nyaris tak tertandingi. Dia menjadi rujukan dunia.

 

Namun, ternyata euforia kemenangan Amerika Serikat dengan ideologi kapitalismenya itu, tak berlangsung lama. Serangan teroris 11 September 2001 merusak reputasi itu. Ternyata, pertahanan dalam negeri Paman Sam lemah. Mudah diterobos oleh aksi terorisme. Suatu peristiwa yang menghenyakkan bukan hanya negara tersebut, melainkan juga seluruh dunia. Ternyata kekuatan militer dan pertahanan keamanan Amerika hanya mitos!

 

Dunia terus menggelinding dan berputar pada porosnya. Perubahan makin menjadi-jadi. Pada 2008, Amerika mengalami krisis ekonomi dahsyat yang berpengaruh terhadap ekonomi seluruh dunia. Namun pada saat bersamaan sebuah negara dengan kekuatan ekonomi luar biasa, justru melenggang sempurna. Dialah China. Secara cepat, China menjadi kekuatan ekonomi baru yang mampu merontokkan kekuatan ekonomi Amerika dan sekutunya di Eropa. Berkali-kali terjadi perang dagang dan China berhasil menekuk lutut adikuasa. Ternyata, kekuatan ekonomi kapitalisme Amerika juga hanya mitos!

 

Amerika Serikat terkenal memerankan dirinya sebagai polisi dunia. Lebih khusus sebagai polisi dalam hal demokrasi dan hak asasi manusia. Namun lihatlah apa yang dilakukan pendukung Donald Trump pada awal Januari 2021. Mereka tidak mau menerima hasil pemilu dengan dalih kecurangan. Nilai-nilai demokrasi yang mereka agungkan lumer, meleleh, terjung ke jurang. Ternyata, kini demokrasi Amerika Serikat yang sering menjadi rujukan itu, hanya mitos!

 

Pada saat bersamaan itu, kita juga dapat melihat betapa lemahnya sistem pengamanan dalam negeri di negara hebat tersebut. Bagaimana mungkin sebuah gedung parlemen yang katanya ‘suci’ itu dapat dengan mudah diterobos oleh massa. Bahkan, mereka bisa melakukan apa saja di dalamnya. Sungguh, tak masuk di logika melihat petugas keamanan kocar-kacir menghadapi massa. Lagi-lagi, kehebatan Amerika Serikat termasuk dalam bidang keamanan dalam negerinya, hanyalah mitos.

 

Satu lagi peran besar negeri adikuasa itu di seluruh dunia dalam mengkampanyekan kebebasan pers. Mereka menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk memengaruhi dunia agar menjalankan kebebasan pers. Banyak organisasi nonprofit yang mereka biayai untuk kepentingan tersebut. Dunia pun menjadikan pers Amerika sebagai referensi. Akan tetapi, lihatlah yang terjadi pada Januari ini. Seorang jurnalis VOA (Voice of Amerika) asal Indonesia – Patsy Widakuswara -  dipindahtugaskan dari Gedung Putih, hanya karena mengajukan pertanyaan yang dianggap ‘menyerang’ oleh pemerintah Trump.

 

Jadi ingat pada era Orde Baru, ketika pers memang terkekang. Tak boleh wartawan bertanya macam-macam, apalagi memberitakannya. Eh, hal tersebut kini terjadi di Amerika Serikat, yang dalam undang-undang dasar-nya dengan tegas menyatakan kebebasan pers.

 

Ah, ternyata semua itu hanya mitos!

 

Apa pelajaran semua itu bagi bangsa kita tercinta?

Jangan pernah meniru bangsa lain!

Jadilah diri sendiri karena bangsa kita memiliki karakter, modal, kekayaan, dan kekuatan yang luar biasa untuk menjadi negara besar.

Gali terus, belajar terus, lakukan, dan kemudian jadikan!