Literasi

Learning Loss di Masa Pendemi Covid-19

Sabtu, 9 Oktober 2021, 06:07 WIB
Dibaca 69
Learning Loss di Masa Pendemi Covid-19
Sambil belajar daring, Angel juga mengajari adiknya-Agung belajar membaca dan menulis Huruf

Learning loss atau kehilangan pembelajaran merupakan sebuah kondisi dimana hilangnya sebagian kecil atau besar pengetahuan dan keterampilan dalam perkembangan akademis karena diakibatkan oleh terhentinya proses pembelajaran dalam dunia Pendidikan. Dalam Glossary of Education Reform (https://edglossary.org/) mengartikan Learning loss sebagai kehilangan dan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang merujuk pada progres akademis, umumnya terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan dan diskontinuitas pendidikan. Lebih sederhana diartikan bahwa Learning loss adalah menurunnya kompetensi belajar siswa.

Kondisi menurunnya kompetensi belajar siswa terjadi sangat signifikan pada masa pandemi covid-19. Proses pembelajaran sebelumnya dilakukakan secara tatap muka terhenti dan beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Guru berusaha menggunakan teknologi digital dengan berbagai macam aplikasi on line untuk mengajar daring (dalam jaringan) sedangkan siswa berada di rumah mengikuti pembelajaran daring dengan menggunakan perangkat digitalnya masing-masing. Namun proses Pembelajaran Jarak Jauh ini belum efektif pada hal sudah berlangsung selama 1,7 tahun.

Ada beberapa faktor yang menghambat proses Pembelajaran Jarak Jauh yaitu; Pertama, Akses internet. Masih banyak daerah di Indonesia yang tidak memiliki akses internet yang memadai. Jaringan internet belum menjangkau tempat tinggal peserta didik sehingga peserta didik mengalami kesulitan untuk melakukan pembelajaran dari rumah. Kedua, Sarana tidak memadai. Setiap siswa dituntut harus memiliki perangkat digital seperti gawai, leptop dan komputer. Jika siswa tidak memiliki perangakat digital maka sulit unutk mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh. Ketiga, Kuota Internet. Setelah memiliki perangkat digital maka siswa harus mengisi paket data internet agar bisa mengakses internet. Biaya paket data cukup mahal apa lagi pembelajaran daring dilakukan setiap hari. Jadi inilah kondisi riil yang harus dihadapi oleh siswa selama proses Pembelajaran Jarak Jauh. Ditambah lagi dengan sikap orang tua yang kurang peduli memperhatikan dan membimbing anak-anaknya di rumah pada masa PJJ.

Dari hambatan-hambatan yang ada maka resiko terjadinnya Learning loss terhadap peserta didik sangat besar. Resiko Learning loss yang pertama adalah siswa kehilangan semangat belajar. Kondisi berkepanjangan proses belajar daring terasa sangat membosankan bagi siswa. Guru hanya mampu memberikan tugas melalui aplikasi daring sehingga membuat siswa merasa bosan dan malas mengikuti pembelajaran daring. Situasi dan kondisi belajar seperti ini yang membuat siswa kehilangan semangat belajar. Banyak siswa lebih memilih tidak mengerjakan tugas. Siswa merasa sangat sulit menjawab soal yang diberikan tanpa mendengar penjelasan langsung dari guru.

Kedua, ketidakmerataan pendidikan di antara para siswa. Dengan tidak hadirnya sosok guru di saat pembelajaran daring, para siswa merasa kehilangan sosok pengawas yang berperan besar dalam menjaga kesamarataan pendidikan di antara mereka. Artinya, guru tetap menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran dimana guru harus memastikan bahwa semua siswa sudah mendapatkan pembelajaran yang sama tanpa ada yang tertinggal materi pembelajaran. Ada banyak siswa yang sudah beruntung karena orang tua mampu dan menyewa jasa bimbingan belajar demi mengejar ketertinggalan pelajaran. Namun, ada juga banyak siswa, yang meski mereka mau mengejar ketertinggalan pelajaran dengan menyewa jasa bimbingan belajar, mereka tetap tidak mampu untuk melakukannya karena terhalang oleh keadaan ekonomi keluarga. Pada akhirnya, ini dapat mengakibatkan putus sekolah bagi generasi muda harapan bangsa dan negara Indonesia.

Resiko terjadinya Learning loss sudah diprediksi oleh kalangan akademis melalui penelitian ilmiah setelah pandemic covid-19 berlangsung sekitar satu tahun. Wagner dan Warren (dalam Mahir Marin,2021) mengeluarkan data bahwa antara 7 sampai dengan 9,7 juta anak akan putus sekolah karena dampak ekonomi dari pandemic covid-19. Penelitian berbasiskan pengalaman pandemic polio tahun 1916 pernah dilakukan oleh Meyers dan Thomasson dan menemukan bahwa penutupan sekolah dapat berdampak negatif jangka panjang pada hasil pendidikan anak-anak, seperti berkurangnya pencapaian sekolah dan keterampilan kognitif anak-anak selama seumur hidup (dalam Mahir Marin,2021).

Resiko learning loss ini harus segera diatasi. Satu-satunya cara untuk mengatasi fenomena Learning loss yaitu Pelaksanaan Tatap Muka Terbatas. Proses Pelaksanaaan Tatap Muka Terbatas segera dilakukan dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Misalnya; Lingkungan sekolah diwajibkan menyiapkan sarana pendukung protokol kesehatan-tempat cuci tangan, handsanitizer, alat pengukur suhu dan alat penyemprotan ruang kelas. Setelah sarana pendukung ada maka pihak sekolah membuat jadwal khusus bagi tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di setiap sekolah untuk memantau dan mengawasi siswa-siswi selama berada di lingkungan sekolah. Bagaimana dengan pelaksanaan pembelajarannnya? Pihak sekolah melalui bidang kurikulum bisa mengatur jadwal pembelajaran secara bergantian. Misalnya; jika kapasitas satu kelas 36 orang untuk tingkat SMA maka dibuat jadwal 18 siswa luring (datang kesekolah) dan 18 siswa daring (belajar dari rumah) setiap hari. Pada minggu berikutnya, 18 siswa yang luring akan bergantian daring sedangkan 18 siswa yang daring akan luring. Prose pembelajaran ini dipantau oleh pihak sekolah. Pemberlakukan PTM ini juga melihat pemberlakukan level PPKM di setiap wilayah tingkat propinsi atau kabupaten.

Para guru sudah siap dengan kegiatan PTM tinggal menunggu kebijakan pemerintah pusat dan daerah baik propinsi maupun kabupaten. Guru sangat mendukung pelaksanaan PTM karena sebagai tenaga lapangan guru sangat paham dengan kondisi yang terjadi pada saat ini. Learning loss sudah tidak bisa dihindari lagi terjadi dikalangan siswa. Untuk itu selamatkan generasi muda kita dan negeri ini dari keterpurukan kualitas pendidikan kita 5 sampai 10 tahun yang akan datang dengan memberlakukan Pembelajaran Tatap muka.@r