Literasi

Jelajah Kaltara [11] "Scribo Ergo Sum"

Jumat, 4 Juni 2021, 15:08 WIB
Dibaca 26
Jelajah Kaltara [11]  "Scribo Ergo Sum"
Menulis di atas kapal

Pepih Nugraha

Penulis senior

Kalimantan pernah didapuk sebagai pulau ketiga terbesar di dunia saking luas wilayahnya. Pulau besar ini dimiliki tiga negara, Indonesia (73 persen), Malaysia (26) dan Brunei Darussalam (1).
Di dalam pulau "Seribu Sungai" ini terkandung kekayaan alam berupa hutan, tambang, mineral dan manusia serta budayanya yang menantang untuk ditulis bagi saya sebagai seorang penulis. Apa saja yang saya temui menjadi bahan cerita.

Tulisan yang menarik itu tentang manusia. Manusia sebagai fokus utama, "man makes news". Manusia dengan karyanya, manusia dengan pikirannya, manusia dengan kreativitasnya, dan seterusnya. Maka bicara Kalimantan tidak akan lepas dari lima etnis besar yang ada di dalamnya; Dayak, Melayu, Banjar, Kutai dan Paser.

Sekarang etnis ini sudah bertambah tentu saja. Sebagai pulau terbuka di NKRI, hampir seluruh suku ada di Pulau ini; Tionghoa, Bugis, Makassar, Sunda, Jawa, Batak dan seterusnya.

Pertengahan April lalu saat saya asyik menulis sendiri di meja panjang di Bang Abak, Malinau, Kalimantan Utara, saya dikejutkan oleh dua pria muda bersepeda motor yang hendak membereskan kursi dan membawa kardus minuman mineral yang tersisa. Mereka berbicara bahasa Sunda yang tentu saja saya pahami.

"Lha, akang ini asal darimana?" tanya dalam Sunda.
"Jawa Barat, Pak," jawabnya.
"Jawa Barat mana?"
"Ciamis."
"Wah, kita tetangga atuh, saya dari Tasikmalaya," kata saya.

Percakapan pun mengalir deras dan tanpa sungkan mereka berdua mengatakan bekerja di Bang Abak, sebuah "Ranch" terpadu milik Pak Yansen Tp yang kini menjabat Wakil Gubernur Kaltara. Di Bang Abak ini saya mendapat ketenangan sempurna dalam menulis. Ah, dunia benar-benar sesempit daun kelor.

Di Bang Abak, pikiran terpusat pada apa yang akan saya tulis, kalimat mengalir deras, kondisi flow terus terjaga, kata-kata berloncatan menghimpun diri menjadi kalimat aktif. Tidak perlu mendayu-dayu, puitis, filosofis atau penuh petatah-petitih, saya menulis sederhana sebagaimana saya berkata-kata atau bercerita.

"Scribo Ergo Sum", sesungguhnya ini plesetan dari wejangan filsuf Rene Descartes, "Cogito Ergo Sum" (aku berpikir maka aku ada). "Scribo" itu artinya "aku menulis". Intinya semacam maklumat, bahwa hanya dengan menulislah eksistensi diri terjaga. "Aku menulis maka aku ada".

Bagi penulis profesional yang mendedikasikan diri dalam dunia tulis-menulis, semangat atau ethos "Scribo Ergo Sum" harus mengalir dalam darah si penulis itu sendiri. Ia ibarat dian yang tak boleh padam. Sekali dian padam, kita tidak mungkin dapat menulis dalam kegelapan.

Maka ruang dan waktu menjadi sangat berharga dan penting bagi seorang penulis ketika jarak tempuh terabaikan. Menulis bisa dilakukan selagi dalam perjalanan, darat, laut, sungai, bahkan udara.

Di hasil jepretan Pak Masri Sareb Putra ini saya difoto candid saat sedang menulis di dalam kabin "kapal pesiar" yang melaju membelah Sungai Kayan menuju Long Pari. Rekan saya sesama menulis Dodi Mawardi ikut mengintip apa yang saya tulis.

Oh ya, sudah berbilang tahun saya tidak lagi mengandalkan laptop saat menulis, yang sangat terpenjara dengan ketersediaan baterai dan "colokan" listrik, yang paling top bisa bertahan selama dua jam.

Saya menulis cukup menggunakan ponsel berkapasitas 8 GB RAM kecepatan berpikir dan 254 GB penyimpanan dengan tambahan papan ketik bluetooth, yang sekali charge awet sampai satu bulan, sedang ponsel bisa tahan selama 48 jam.

Sungguh alat tempur yang sangat ideal bagi penulis. Di ponsel sudah ada aplikasi Word untuk menulis, Power Point untuk bikin presentasi, Google Drive untuk menyimpan data, dan seterusnya. Kasarnya, ponsel hilang pun data sudah tersimpan di awan (cloud).

Jangan abaikan alat tempur untuk keperluan menulis, meski yang paling utama adalah ide di kepala dan kemampuan untuk segera menuangkannya menjadi tulisan, sesederhana apapun tulisannya.

(Bersambung)

***