Literasi

Melanjutkan Pendidikan ke Sekolah Kedinasan

Jumat, 29 Januari 2021, 05:37 WIB
Dibaca 953
Melanjutkan Pendidikan ke Sekolah Kedinasan
Dok. Pribadi saat berada di Bidang pelatihan STPDN

Sebagai seorang anak laki-laki pertama dari 8 bersaudara dengan berbagai keterbatasan ekonomi, hanya bermodalkan tekad yang kuat untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Dalam diri bertekad saya harus bisa kuliah dengan tanpa membebani orang tua, mencarilah kuliah yang geratisan, geratis secara finansial tentunya. Beginilah kisahku untuk melanjutkan kuliah pada Sekolah Kedinasan yaitu Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN).

Awal kisah bermula setelah kami lulus dari SMA N 1 Malinau, kami mencari informasi terkait pendaftaran STPDN. Ternyata melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) disanalah kami melengkapi berkas selengkap-lengkapnya. Untuk menjadi seorang Praja STPDN admninistrasi berkas sangat banyak sekali. Baik ijazah terakhir, akte kelahiran, pas photo, kartu kuning, surat keterangan berbadan sehat, surat keterangan berkelakuan baik, surat keterangan tidak terlibat G 30 S PKI, surat keterangan riwayat hidup dan surat-surat lainnya.

Setelah berkas kami terkumpul dan kami dinyatakan lulus pemberkasan. Seingat saya waktu itu, kami dari malinau ada 12 orang yang mengikuti seleksi masuk ke STPDN. Lulus pemberkasan kami pun melanjutkan seleksi di tingkat Provinsi  tepatnya di BKD Provinsi Kalimantan Timur bersama-sama dengan peserta dari kabupaten lain se-Kalimantan Timur. Kami dari Malinau selama mengikuti tahapan seleksi tinggal di Gedung Perwakilan Pemda. Malinau di Samarinda.

Phisikotes/ Tes Phisikologi

Tahap pertama kami mengikuti seleksi phisikotes, pada seleksi ini yang biasa kita sebut tes phisikologi. Tes ini kami ikuti selama  satu hari dari pagi hingga sore hari. Dari soal angka, mencocokkan pola, menggambar pohon sampai dengan menghitung Koran.

Pada saat kami mengikuti tes saya bertemu dengan sosok yang pernah saya kenal waktu mengikuti lomba olimpiade matematika sebut saja namanya Sahaludin dari Kabupaten Nunukan, ternyata dia juga mengikuti tes masuk ke STPDN. Setelah beberapa hari bahkan sampai beberapa minggu, hampir seminggu lebih kami menunggu hasilnya, setelah dapat pengumuman ternyata kami di nyatakan lulus dan ada juga ya tidak lulus tes phisikologi dan bagi yang dinyatakan lulus dapat mengikuti tes selanjutnya, yaitu Tes Kesehatan.

Tes Kesehatan

Tes kesehatan ini dilaksanakan di Rumah Sakit AW. Syahrani. Rumah Sakit yang sangat besar. Kenapa sangat besar, karena di tempat kami di Malinau saat itu belum ada Rumah Sakit sebesar itu yang baru ada adalah Puskesmas. Kami pun berkumpul di rumah sakit tersebut dengan peserta yang dari kabupaten lainnya. Kami diperiksa dari luar hingga dalam badan semua organ kami di periksa dari ujung rambut sampai ujung jari, dari organ biasa sampai organ vital.

Pada saat tes kesehatan ini, waktu itu saya tanya ini alat apa ya, seorang perawat mengatakan ini alat tes jantung, nah saya mulai agak nerves mulai agak dag dig dug karena selama hidup saya belum pernah diperiksa dengan menggunakan alat tersebut. Setelah semua peralatan dipasang sayapun diperiksa, kemudian selesai pemeriksaan kami pun di persilahkan untuk kembali untuk menunggu hasilnya.

Setelah hari berganti hari mungkin hampir seminggu lebih kami menunggu hasilnya. Tibalah pada pagi hari sekitar jam 10 pagi, dalam pengumuman kamai dinyatakan lulus , namun saya lulus dengan catatan dan harus periksa ulang pada sore hari pada Klinik yang telah ditentukan, mendengar kabar bahawa saya sakit jantung, waduh sayapun kaget. Pada sore hari tibalah saya ke klinik ditempat saya untuk periksa ulang, ternta saya bukannya sakit jantung tetapi karena nerves sehingga mempengaruhi detak jantung saya, Alhamdulillah puji syukur kepada yang kuasa sayapun lulus kesehatan dan dinyatakan dapat mengikuti tese yang berikutnya.

Tes Fisik/Ksmaptaan

Pada tes ini yang diperlukan adalah bukan hanya fisik tapi juga tehnik, karena pada tes ksmaptaan ini ada beberapa yang di tes, seperti lari selama 12 menit, kemudian push up, sit up,pull up, lari angka 8. Nilai yang cukup tinggi pada tes ini adalah lari, sehingga pada saat tertentu saya latihan lari di Samarinda baik pagi maupun sore.

Seingat saya waktu tes ksmaptaan di Korem di Kota Samarinda. Pada tes ini ada beberapa persyaratan yang harus terpenuhi. Suatu ketika kami menerima hasil kelulusan namun ada juga beberapa teman yang lulus dengan catatan dan ini harus di ulang kembali ini terjadi pada rekan saya. Setelah kami mengikuti seluruh proses tes Ksmaptaan kamipun di nyatakan lulus dan kami di perbolehkan untuk mengikuti tes Akademik.

Tes Akademik

Pada tes ini yang dituntut adalah kecerdasan intelektualitas, materi-materinya, seperti pemahaman terhadap Pancasila dan UUD 1945, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Pelaksanaannya di Gedung Balai BKD Prov. Kalimantan Timur. Kami pun menyelesaikan semua soal dengan penuh serius dan fokus. Sambil menunggu hasil tes akademik karena semua proses telah saya lalui. Kini saatnya saya menyerahkan segalanya kepada yang kuasa.

Selama mengikuti proses seleksi di Samarinda, ada beberapa kegiatan yang saya ikuti bersama dengan warga yang ada di sekitar tempat kami menginap seingat saya di aderah jalan Swandi. Berbagi kegiatan selama menunggu hari berhari dalam mengikuti seleksi. Seringkali kami ke Masjid yang ada di daerah tersebut sampai-sampai kami akrab dengan pengurus masjid tersebut. Kadang kita pengajian, kadang kami mengaji baca Al-Qur’an, sampai dengan kegiatan-kegiatan selamatan/tasakuranpun saya ikuti.

Disela-sela sambil menunggu hasil tes akademik, tak lupa saya melaksankankan Sholat malam/Tahajud sebagai perwujudan permohonan kepada sang kuasa Allah SWT. Dalam do’a saya, hanya memohon berikanlah yang terbaik jika engkau menghendaki ijinkanlah aku untuk meneruskan pendidikan yang tidak membebani orang tua.

Karena saya tidak bisa menelepon orang tua sehingga selama saya disamarinda hanya do’a yang dapat saya panjatkan untuk berkomunikasi dengan orang tua melalui do’a kepada sang pencipta.  Alhasil tibalah pengumuman hasil tes akademik oleh panitia dan kamipun di nyatakan LULUS. Dari tes akademik yang kami lalui hanya 4 orang yang dinyatakan lulus dan 1 orang sebagai cadangan.

Yang dinyatakan lulus maka akan mengikuti tes Pantukhir di Ksatriaan STPDN Jatinangor Sumedang Jawa Barat dan semua pembiayaan akan di tanggung oleh Pemerintah Daerah masing-masing.

Tes Pantukhir

Setelah kami dinyatakan lulus dan akan mengikuti Pantukhir di STPDN, kamipun bersiap-siap mempersiapkan segala sesuatunya sesuai petunjuk dan arahan panitia. Kami dari Malinau di damping oleh pejabat dari BKD Malinau namanya Pak Iwanto, beliaulah waktu itu sebagai pendamping kami. Setelah siap semuanya bersama-sama dengan peserta dari kabupaten lain kamipun berangkat ke Jakarta melalui Bandara Balikpapan dengan menggunakan Pesawat Terbang. Berangkatlah kami ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta kami melanjutkan ke tempat tujuan sekitar 4 - 5 jam di perjalanan sampailah kami di Jatinangor Sumedang Jawa Barat. Seingat saya waktu itu kami sampai sekitar jam 3 sore. Kami dibagi dua tempat menginap ada yang bermalam di Hotel Khatulistiwa dan ada yang menginap di Hotel BGG (Bandung Giri Graha). Saya sendiri bermalam ditempatkan di Hotel BGG. Hotelnya Cukup Besar Arealnya luas sekali, ternyata areal BGG adalah areal lapangan Golf, sehingga rata-rata yang menginap disitu adalah orang-orang yang hobi bermain golf.

Baru pertama kali saya menginap di Hotel Sebesar hotel BGG, senang ya, bangga ya, tetapi terbesit ingat dengan keluarga nun jauh di Pulau Kalimantan. Bermalamlah kami di hotel tersebut selama satu malam, setelah mendapatkan informasi bahwa asal pendaftaran Kalimantan Timur di persilahkan untuk memasuki Ksatriaan STPDN, begitu megah tempatnya sangat megah sekali dalam hati (inikah calon kampusku semegah inikah tak terbayangkan olehku) merinding rasanya kutuliskan kisahku ini, ingat masa lalu 18 tahun silam.

Di depan gerbang STPDN sebelum masuk kami dikumpulkan dan dibariskan satu peleton khusus dari Kalimantan Timur. Kebetulan waktu itu masih ada senior yang baru lulus dan beliau mengarahkan kami untuk taat aturan dan ikuti semua proses dengan semangat, seingat saya namanya Kak Rasyid. Kamipun masuk kedalam Ksatrian STPDN Jatinangor menuju Balairung Rudini Namanya. Kami dikumpul oleh panitia untuk mengisi daftar hadir setelah itu, kami diarahkan menuju asrama tempat tinggal kami yang biasa kami sebut Barak.

Selama di asrama/barak itulah kami menunggu untuk mengikuti tes Pantukhir. Tespun di mulai, dari tes fisik, tes kesehatan dan tes wawancara. Dan disitu bukan hanya kami dari Kalimantan Timur tetapi dari provinsi-provinsi lainnya di Indonesia (sabang-sampai merauke) kecuali waktu tidak ada dari Timor Timur dan Jogjakarta yang tidak ada pendaftarnya. 

Hari berganti minggu bahkan sampai berganti bulan kamipun akan mendengarkan siapa-siapa aja yang lulus pantukhir. Ternyata yang tidak lulus langsung dijemput oleh pendamping asal masing-masing daerah. Di antara kami ada beberapa rekan yang tidak lulus pantukhir diantaranya adalah dikarenakan dalam kondisi sakit dan kurang umur meskipun hanya sebulan.

Setelah dinyatakan lulus pantukhir kamipun menjalani kehidupan sebagai seorang Calon Praja STPDN kenapa calon karena beberapa tahap lagi yang harus kami lalui yaitu mengikuti Latsarmendis Praja (Latihan Dasar Mental dan Disiplin Praja). Singkat kisah sayapun mengikuti Latsarmendis kurang lebih selama satu bulan. Disana kami di latih disiplin waktu hidup yang terjadwal, tempatnya Pendidikan Teritorial bagi para perwira TNI di Cimahi.

Sebulan berlalu kamipun kembali ke ksatriaan STPDN untuk persiapan pelantikan muda Praja STPDN angkatan XV. Biasanya pada prosesi ini orang tua pada hadir sebagai prosesi untuk penyematan tanda pangkat sebagai muda praja STPDN. Karena orang tua kami tidak bisa hadir maka, senior-senior kamilah yang menyematkan, terimaksih seniorku yang telah menyematkan tanda pangkat kami sebagai seorang muda praja. Setelah resmi kami di lantik, maka resmilah kami menyadang sebagai MUDA PRAJA STPDN ANGKATAN 15 ASAL PENDAFTARAN KALIMANTAN TIMUR, Nomor Pokok Praja. 15.0895.

Demikianlah kisahku yang melanjutkan pendidikan di sekolah kedinasan, yang penuh lika-liku perjuangan. Ternyata benar saya melanjutkan pendidikan tanpa membebani biaya pendidikan dari orang tua. Bersyukur kepada Allah SWT, Terimakasihku pada kedua orang tua dan keluargaku bukan hanya perjuangan tapi do’a orang tua dan dukungan keluarga juga sangat menentukan. Teruntuk sahabat-sahabatku seangkatan SMAN 1 Malinau, Seangkatan 15 STPDN Kalimantan Timur serta semua pembaca dimanapun berada.

Hiasilah selalu perjuanganmu dengan usaha dan do’a terutama do’amu dan mohonlah do’a ibu bapakmu serta dukungan keluargamu, niscaya keberhasilan akan engkau raih.

Sarun

***