Filosofi

Tradisi Buka Kampung dan Rumah Baru Manusia Lengilo

Selasa, 18 Oktober 2022, 20:50 WIB
Dibaca 166
Tradisi Buka Kampung dan Rumah Baru Manusia Lengilo
Foto: Pemandangan dari ruma tisan Ba' Binuang

Nenek moyang manusia Lengilu/Lengilo’ zaman baheula selalu berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain. Perpindahan tersebut dilakukan mengingat: (1) Lahan ladang yang akan digarap pada beberapa tahun kedepan. (2) Melihat medan yang dirasakan aman dari serangan musuh, misalnya; tanjung atau perbukitan.

Ambil contoh; Di Kampung Pa' Yalau bagian dari Ba’ Liku, Krayan Tengah, ada sepuluh bekas kampung disana. Bekas kampung ini biasa disebut dengan nama “Ruma' Tisan”. Dari sini dapat kita ketahui bahwa masyarakat baheula selalu berpindah-pindah.

Membuka Perkampungan Baru, untuk membuka Perkampungan Baru ada dua hal yang harus dilakukan dalam ritual buka kampung. Pertama, Memanggil “BI-EN”. Bi-en adalah Kepercayaan atau agama nenek moyang dahulu. Bi- en, artinya; Jalan, Petunjuk, Isyarat baik atau tidak baik sama dengan “Jalan Hidup”.  

Baca lebih lanjut: /mengenal-budaya-dayak-lengilu-di-dataran-tinggi-borneo

Ada dua jenis hewan burung yang menurut nenek moyang zaman baheula dianggap sebagai petunjuk: Burung Bungai'/ Mengai', Burung Elang/Keniu (kenui).  Salah satu dari burung ini dapat dipanggil untuk memperoleh “Petunjuk”. Apakah mereka boleh pindah ketempat yang sudah ditentukan atau tidak? Tentang cara bagaimana mereka memanggil Bi-en akan kami jelaskanuraian lengkap pada Bab; Kepercayaan (BI-EN). 

Nah, Kembali pada tradisi membuka perkampungan baru, jikalau mereka telah mendapat isyarat baik atau tanda baik, pekerjaan bisa dimulai keesokan harinya  menebas lahan. Apabila Isyaratnya Tidak Baik maka jangan pindah.

Berikut ini ada yang dinamai Ali’ (pantang).  Ali’ artinya Pantangan (pantang).  Sekalipun nenek moyang zaman baheula sudah mendapat Isyarat Baik pada hari pertama, ada Pantangan-pantangan yang akan muncul dari luar. Ada tiga Ali' (pantangan) yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Ketiga Pantangan ini harus diperhatikan dan ditaati dengan sungguh-sungguh. Jika tidak mengindahkannya maka akibatnya akan fatal. Nah, apa saja itu, berikut kami uraikan: Suara Kijang (Arud Tela-o/Talau). Musang Leher Kuning (Bungale). Kemudian, Suara Kumbang (Bung bunged).

Sekalipun pantangan-pantangan ini cukup keras dan berat, dapat diatasi atau diantisipasi dengan cara-cara berikut dibawah ini:

Mereka membuat kentongan bambu sebanyak-banyaknya yang disebut Tubung bulu'. Ibu-ibu dan anak-anak ikut ke lahan tebasan beramai-ramai memukul kentongan bambu (perisanang-peritubang) sambil menyanyi. Maksudnya adalah mengusir bungale leher kuning dan menutupi suara-suara kijang dan kumbang yang ada dilahan tebasan: Sekalipun ada suara kijang dan bunyi kumbang, akan tertutup dengan bunyi-bunyian yang dilakukan. Dan sekalipun ada musang leher kuning berada di lahan tersebut, akan lari ketakutan karena mendengar suara ramai yang dibuat dengan sengaja untuk mengusir mereka. Dengan demikian, pekerjaan mereka dapat berjalan baik, lancer dan terus sampai selesai. Mereka yang bekerjapun akan bersemangat karena adanya bunyi-bunyian yang begitu ramai ‘perisanang – peritubang’. Hebatkan?!

Keren aitu, membuka lahan dan membangun rumah baru, nenek moyang manusia Lengilu zaman baheula, secara tradisi selalu berpindah-pindah membuka kampung dan membangun rumah baru. Pekerjaan yang satu ini juga berpantang sama dengan uraian yang diatas.  Tetapi, yang harus diperhatikan adalah siapa yang pertama-tama membangun?

Pada Akhirnya, figure yang membangun terlebih dahulu adalah “orang yang patut diteladani atau menjadi teladan dalam masyarakat tersebut” yang disebut Lun Do' sebagai pemimpin mereka. Nah, itulah salah satu bagian tradisi manusia Lengilu/Lengilo’ yang dapat kita ketahui.

Baca lebih lanut: gema-batu-ruyud-writing-camp-i-pemuda-perbatasan-utara-indonesia

***