Filosofi

Don't Be a Jerk

Minggu, 9 Mei 2021, 10:11 WIB
Dibaca 79
Don't Be a Jerk
Don't be a jerk (Sumber Gambar: https://i.pinimg.com/originals/fa/43/80/fa4380db8b69cbdc109bafeae90a824c.jpg)

Jadi orang yang menjengkelkan ternyata lebih mudah. Cukup terpancing emosi kita, jika kita mudah marah, maka keluarlah sumpah serapah dari mulut kita, dan tiba-tiba kita menjadi bagian dari orang-orang yang menjengkelkan.


Jadi orang yang menjengkelkan itu mudah. Menyaksikan orang-orang yang melanggar aturan lalu lintas. Seenaknya sendiri. Main selonong. Tidak mengindahkan lampu merah atau hijau. Tidak menggunakan helm padahal naik motor. Membuat kita tergoda untuk ikut-ikutan melanggar. Tapi jangan ya. Karena berarti kita ikut-ikutan jadi orang yang menjengkelkan bin menyebalkan.


Kita tahu bahwa buang sampah sembarangan itu salah. Tapi manakala kita tidak menemukan tempat sampah, sementara ada sampah yang menumpuk dan tergeletak begitu saja, membuat kita tergoda untuk ikut-ikutan menumpuk dan menaruhnya di sana, walaupun kita tahu itu bukan tempat sampah, tapi kita menganggapnya seperti itu. Toh orang lain juga melakukannya kok. Toh bukan kita yang pertama melakukannya. Toh banyak yang melakukannya. Tapi banyaknya orang yang melakukan perbuatan salah dan menjengkelkan tidak membuat perbuatan itu menjadi benar. Ikut-ikutan berbuat salah juga tidak membuat perbuatan kita jadi benar. Jadi tetap saja menjengkelkan.


Atas nama kepentingan sendiri. Atas nama kepentingan mendesak dan darurat padahal sebenarnya tidak, membuat kita memaksakan kehendak, main menang sendiri, dan melanggar peraturan. Kita marah jika hak kita dilanggar oleh orang lain. Tapi saat kita melanggar hak orang lain, itu kita anggap biasa. Kalau perlu, kita marah dan hajar duluan, dengan anggapan bahwa kita yang benar dan harus menang. Dengan marah duluan, kita bisa tunjukkan posisi kita, bikin keder orang, dan puas bisa menyalahkan orang yang kita anggap goblok dan jadi biang kerok. Padahal tidak. Jangan-jangan malah kita yang bisa jadi orang yang menjengkelkan di sini.
Dunia ini sudah penuh dengan orang-orang yang menjengkelkan.

Tiap hari kita berurusan dengan situasi yang menjengkelkan dan mampu mengubah mood kita menjadi super duper jelek, dan kita ingin lampiaskan ke orang lain. Kemacetan lalu lintas, dimarahi boss, tidak berhasil mencapai target, dipecat dari pekerjaan, tidak lulus, nilai jelek, pejabat korup, politisi busuk, ekonomi semrawut, apapun bisa kita anggap sebagai biang kerok untuk membenarkan kita berperilaku marah dan menyebalkan. Padahal seharusnya tidak.

Apa perlu kita ikut-ikutan jadi orang jelek kalau lingkungan di sekitar kita jelek? Kita bisa mengendalikan diri kita sendiri.

Mungkin kita tidak bisa mengubah kondisi lingkungan di sekitar kita, tapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri, untuk tidak gampang marah, untuk tidak gampang mengejek atau mencela orang lain, tidak gampang mencemooh atau merendahkan orang. Kalau orang lain melakukannya, biarkan saja, tidak usah ikut-ikutan. Biarpun banyak orang melakukan pekerjaan yang salah, bukan berarti kita juga ikutan terjerumus ke dalamnya. Bila tidak bisa mencegah, paling tidak, hindari.

Memang berat upaya untuk menyabarkan diri di tengah masyarakat yang gampang marah dan terbakar emosi. Tapi sekali lagi, kita tidak perlu ikut-ikutan. Sebenarnya kalau kita lihat lebih jernih, masih banyak orang baik yang bisa kita temui. Bergaul dan bertemu dengan orang-orang yang ramah, penuh semangat, dan saling mendukung bisa men-charge semangat kita dan mem-boost mood kita. Temukan saja mereka, jika tidak bisa, ciptakan komunitas semacam itu dan tetap mencari.


Saya pernah dikasih tahu oleh guru, bahwa pada dasarnya kebanyakan orang adalah baik. Ketidaktepatan mereka dalam menyikapi kondisi kehidupan yang buruk membuat mereka jadi orang yang buruk dan menjengkelkan. Kalau kita bisa menemukan sisi kebaikan mereka, mereka akan menjadi orang yang baik dan tidak menjengkelkan. Optimis saja bahwa kita bisa menemukan orang-orang baik yang bisa kita jadikan teman.