Ekonomi

LADA| Naiklah Harga. Tinggi, dan Makin Tinggi Lagi!

Sabtu, 8 Mei 2021, 21:27 WIB
Dibaca 169
LADA|  Naiklah Harga. Tinggi, dan Makin Tinggi Lagi!
LADA: naiklah harga, tinggi, dan makin tinggi lagi!

Pada tahun 1550 S.M., lada sudah mulai disebut dalam catatan Eber papyrus. Panini mencatat bahwa lada digunakan untuk bumbu penyedap anggur. Charaka, tabib terkenal dan Susruta, ahli bedah zaman kuna, mencatat bahwa lada digunakan dalam ilmu pengobatan, terutama di dalam pengobatan mata dan penyakit telinga.

Lada komoditas primadona. Sejak zaman baheula, para petani, apalagi pedagang, kaya dengan lada. Oleh sebab itu, petani sejati tetap berkanjang dengan lada.

Berkanjang adalah daya tahan. Sekaligus, daya juang. Petani yang kini menyimpan banyak lada, mulai menuai hasil. Lada tahan selama setahun, asalkan penyimpanannya benar. Di kampungku, pedalaman Kalimantan. Perbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Kini harga perkilo lada putih a rp 75.000; sedangkan lada hitam a rp40.000/kg.

Ini harga baru menanjak. Saya prediksi, berdasar kepada pengalaman selama ini. Setiap siklus 3 tahun turun harga, 3 tahun harga stabil  bertahan. Adapun titik kulminasi harga lada putih perkilo a rp200.000. Sekian masa mencapai titik kulminasi ini, anjlog lagi. Hingga titik terendah, a rp30.000/kilo lada putih dan a rp15.000 lada hitam.

Betapa The king of spice” (Rajanya rempah- rempah) ini punya banyak nama. Sekaligus menunjukkan banyak penggemar di dunia.

Apa pun namanya, sejak zaman baheula lada komoditas primadona. Dijuluki “The King of Spice” (Rajanya rempah-rempah) karena demikianlah lada sejak dahulu kala. Harganya jarang terjun bebas. Setidaknya, untuk saat ini, dan diprediksi ke depannya masih sangat bagus. Hal itu mengacu kepada data kebutuhan akan permintaan dunia dibandingkan hasil produksi nasional yang masih relatif sedikit.

Petani yang pintar, nanam lada.

Tanaman yang memiliki akar lekat dari buku pada tunjar/tiang dan akar tanah ini pada mulanya dikembangkan secara kecil-kecilan di pulau Jawa selama zaman kolonial Hindia-Belanda. Tanaman rempah yang menghangatkan badan ini seiring waktu akhirnya pengembangannya dilakukan secara besar-besaran. Terutama dibudidayakan di pulau Sumatera (Lampung) dan Kalimantan yang belakangan ini dilakukan
secara intensif dan ekstensif.

Sejak zaman baheula,  lada komoditas primadona. Harganya jarang terjun bebas. Setidaknya, untuk saat ini, dan diprediksi ke depannya masih sangat bagus. Hal itu mengacu kepada data kebutuhan akan permintaan dunia dibanding produksi yang bisa disediakan.

Lada komoditas primadona. Sejak zaman baheula, para petani, apalagi pedagang, kaya dengan lada. Oleh sebab itu, petani sejati tetap berkanjang dengan alda.

Indonesia, juga Malaysia di samping Vietnam, negara penghasil lada terbesar dunia saat ini. Jenis tanah dan suhu sangat kondusif bagi tumbuh-kembang dan budidaya tanaman yang aslinya ditengarai dari Asia Selatan, India ini. Habitat aslinya adalah hutan-hutan lembab, hangat, serta gembur di kaki bukit atau daerah pasir bebatuan pinggir sungai.

Pada abad ke-6 M, tanaman lada dibawa ke Nusantara oleh para saudagar India melalui Selat Sunda. Di pesisir Selat Sunda, terutama di daerah Banten, lada mulai dibudidayakan, hingga menyebar ke berbagai negeri, termasuk Lampung dan Borneo.

Oleh karena berasal dari India, salah satu jenis lada favorit sekaligus sangat cocok untuk jenis tanah dan suhu Indonesia ialah lada jenis india. Selain lekas berbuah, hanya 6 bulan setelah tanam bahkan bunga dari bibitnya langsung jadi buah, lada india lebat lagi kuat terhadap hama dan penyakit. Satu batang usia tiga tahun ke atas jika dirawati baik dan benar, produksi lada berpotensi lebih dari 3 kilogram, sementara harga per kilo berkisar antara Rp40.000,00-Rp100.000,00.

Selain sebagai bumbu penyedap masakan, sekaligus pembangkit gairah makan, lada juga bermanfaat sebagai obat tradisional. Di Eropa, lada sangat digemari karena selain sedap, juga menghangatkan. Lada hitam kerap disuling untuk diambil minyaknya sebagai campuran minyak wangi.

Tanaman ini jarang jatuh secara drastis nilai ekonomisnya dari waktu ke waktu. Diperkirakan, lada  tetap menjadi salah satu primadona komoditas unggulan ekspor.

Maka, berkanjanglah pada komoditas. Yang tahan banting.

Petani yang pintar, nanam lada. ***

Tags : ekonomi