Budaya

Boyas Komakgh Sebagai Simbol Adat Pemberkatan

Sabtu, 6 Maret 2021, 14:16 WIB
Dibaca 424
Boyas Komakgh Sebagai Simbol Adat Pemberkatan
Boyas Komakgh dan bahan-bahan ritual gawai nyopat soa Suku Dayak Kancikgh

Botabe’ ngak tonah ampah, Bopugokh ngak Koramatn Dolat, Bolinokh ngak Duata Potara

Tabe' Tabe' Tabe'

 Jika dalam tradisi Gereja Katolik kita mengenal “air kudus” sebagai simbol pembaptisan dan pemberkatan (https://id.wikipedia.org/wiki/Air_suci), tradisi Dayak Kancikgh mengenal “boyas komakgh” sebagai simbol "jujokh songkolatn."  Boyas komakh adalah beras yang disajikan dalam sebuah mangkok adat (dalam bahasa Kancikgh disebut “mangkok koyakgh” atau “mangkok beyawi”) sebagai bahan adat untuk melakukan ritual “bojujokgh bosongkolatn” (melakukan pemberkatan) baik kepada seseorang, peralatan, ataupun pobaeh (hidangan) adat.

Ritual pemberkatan menggunakan boyas komakh disebut ritual Jujokgh Songkolatn.  Ada dua jenis boyas komakh yang biasa digunakan dalam ritual Jujokgh Songkolatn yaitu “Boyas Komakh Monta” dan “Boyas Komakh Monsak.” Boyas Komakh Monta berarti beras biasa tanpa ada campurannya, biasanya untuk pemberkatan pada ritual-ritual kecil seperti Jujokgh Somongat.

Sedangkan Boyas Komakh Monsak adalah beras yang telah dicampur dengan darah dan bulu ayam dan/atau darah dan bulu babi. Pemberkatan menggunakan Boyas Komakh Monsak biasanya digunakan pada ritual-ritual besar seperti Ngkata, Bojodi, Boboetn, Jujokgh Songkolat, Nyujokgh Kolakgh Bini, Ntukat, Yancak Bonua, Nyapa Koramat Dolatn dan lain-lain.

Pemberkatan menggunakan Boyas Komakgh yang dilakukan kepada seseorang dimaksudkan untuk  memohon berkat agar orang tersebut dijauhi dari marabahaya, dihindari dari tulah dan malapetaka, dijauhi dari mimpi sonapm dasak porasa, dikembalikan semangatnya, dijauhi dan disembuhkan dari berbagai penyakit, dan lain-lain kondisi yang mengancam kesehatan dan bahkan nyawa orang tersebut.

Sebelum dan setelah digunakan, peralatan berladang juga harus dijujokgh (diberkat) dengan boyas komakh. Pemberkatan peralatan atau perkakas dilakukan dengan maksud  agar peralatan tersebut tidak membahayakan tuannya atau si pemakai peralatan

Baca juga: Botompa’ Bododat: Mengenal Sistem Peladangan Dayak Kancikgh (3)

Di samping itu pemberkatan juga ditujukan dengan maksud agar peralatan-peralatan berladang tersebut tidak mudah rusak, tumpul atau lembek. Pemberkatan peralatan atau perkakas berladang biasanya menggunakan Boyas Komakh Monsak (Boyas Komakh Doya Siap Doya Janek) dilakukan pada saat gawai nyapat soa yang merupakan bagian dari ritual Ngkata.

Yang disebut “pobaeh adat” adalah bahan makanan (hidangan) tertentu yang sengaja dipilih karena merupakan bahan adat. Ada beberapa sebutan untuk bahan pobaeh adat yaitu Poricik untuk mengisi "yancak" (semacam wadah dari bambu yang dianyam) dan Mpogat untuk hidangan makan adat.

Pemberkatan pobaeh adat berbarengan dengan pemberkatan batang adat karena pobaeh adat dengan batang adat biasanya disajikan secara bersama-sama. Pemberkatan ini dimaksudkan untuk memohon kepada Duata Potara agar menerima batang adat yang telah disiapkan, memohon kepada Duata Potara agar memberkati makanan dan minuman yang akan disantap agar bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga, dijauhi dari penyakit, racun, pertengkaran, keserakahan dan perkelahian.

Kuuurrrr Somongat,...!

***