Budaya

Pelajaran Penting dari Pengamen Buta

Rabu, 26 Agustus 2020, 15:54 WIB
Dibaca 84
Pelajaran Penting dari Pengamen Buta
Aris juara Indonesian Idol 2008

Dodi Mawardi

Penulis senior

“Awalnya saya mengeluh kepada Tuhan, kenapa saya buta?”

Ungkap seorang pengamen setelah menyanyi. Tidak biasanya pengamen berkata demikian. Kebanyakan pengamen akan bertutur tentang rencananya mengedarkan bungkus permen tempat uang. Tapi yang ini beda…

“Tapi setelah saya pikir, buat apa saya mengeluh dan menyesal?” tuturnya kemudian.

“Tuhan telah memberikan saya telinga untuk mendengar… memberikan mulut untuk berbicara dan memberikan tangan untuk bergerak serta kaki untuk melangkah ke manapun saya suka.”

“Saya masih bersyukur meski tidak bisa melihat…” katanya penuh semangat.

Meski awalnya tidak tertarik, apa boleh buat dakwah pengamen buta ini menarik juga. Apalagi dia juga melantunkan ayat suci Al Quran dengan fasihnya tentang bersyukur. “Wa in syakartum... dst.” Yang artinya, Tuhan akan memberikan tambah rezeki kepada mereka yang bersyukur. Sebaliknya akan melaknat mereka yang mengingkari rezeki dari-Nya.

Wah boleh juga nih pengamen buta. Suaranya juga lumayan, masih bisa dinikmatilah. Walaupun kalau dibandingkan dengan Aris sang juara Indonesia Idol 2008 itu mungkin agak jauh ya. Yang istimewa, dakwahnya itu. Tidak terasa menggurui. Malah terasa menyengat di kuping dan hati ini. Kebetulan saat itu, saya sedang melamun tentang berbagai pengandaian.

Andai aku begini, tentu bisa jadi begitu.

Andai aku punya ini, tentu akan bisa jadi seperti ini.

Begitu melihat dan mendengar pengamen buta itu, wah… rasanya tidak layak saya berandai-andai seperti itu. Seharusnya saya terus bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

“Saya saja yang buta masih bisa bersyukur…” sambung pengamen itu.

“Seharusnya Anda yang punya penglihatan normal, lebih bersyukur lagi…” dia mengakhiri epilognya sambil membuka kantung permen tempat uang recehan.

“Anda benar, terima kasih peringatannya wahai pengamen buta!” ucapku dalam hati.

 

Ciputat, 2008