Budaya

ULAT DUA EMPEDU: Makanan Khas Manusia Dayak Lengilo' Sungai Kerayan

Sabtu, 1 Mei 2021, 04:25 WIB
Dibaca 3.808
ULAT DUA EMPEDU: Makanan Khas Manusia Dayak Lengilo' Sungai Kerayan
Foto: ulat kelatang

Sejenis ulat yang memiliki bentuk tubuh tidak jauh dari ulat lainnya, masa hidupnya sampai bermetamorfosis menjadi ulat yang tidak bermanfaat lagi bagi manusia. Saya heran bagaimana seekor ulat yang terlihat tidak kuat mampu membuat lobang didalam kayu yang cukup keras.

Kami menyebutnya Kelatang. Ulat Kelatang ini kaya khasiatnya!  Saya sangat mengenal bentuk, warna, rasa dan beberapa manfaat dari jenis ulat Kelatang. Ini kisah saya saat mengambil ulat kelatang!

Dalam petualangan saya dengan teman-teman ke suatu tempat di hutan Borneo, sungai Fe’ Padi, air sungai ini jatuh ke Sungai Kerayan, tepat di sebuah desa yang diberi nama Desa Long Padi, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Tujuan awal kami yaitu memenuhi keinginan untuk mendapatkan buruan Binatang yang ada di hutan untuk kebutuhan sehari-hari. Sudah biasa berburu.

Bagi kami suku Dayak Lengilo' hutan dan sungai merupakan kulkas tempat menyimpan banyak kebutuhan yang dibutuhkan sehari-hari, seperti babi hutan, kijang, ikan dan jenis-jenis binatang buruan lainnya. Tidak boleh sembarang. Cara mengambil semuanya tentu punya batas tertentu (ambil secukupnya untuk dikonsumsi), karena dirumah tidak ada tempat atau kulkas untuk menyimpan agar awet.

Sebelum kami pergi berburu Kelatang, pak Roni Rining mengatur strategi untuk kami apa-apa saja yang harus di persiapkan. Namun saya sangat kaget ketika beliau mengatakan, “ Kita tidak usah membawa tenda,” Saya berpikir kalau tidak ada tenda dihutan apa jadinya nanti jikalau tiba-tiba hujan, apa tempat kami berteduh, kami pasti menderita dan lebih mengagetkan saya lagi pak Roni Rining tidak membawa selimut untuk tidur pada malamnya, suhu pada tempat kami bermalam berkisar 18-21 derajat Celcius.

Pada malam itu kami membuat api disekeliling tempat kami berteduh sebanyak tiga titik, saya sempat bertanya, " Kenapa kita membuat tiga titik api", pak Roni menjawab, "Supaya tidak ada nyamuk" masuk akal juga dalam pikiran. Namun, bukan soal nyamuk saja sebenarnya supaya menghangatkan badan dan dapat tidur nyenyak malam itu, api nyala sampai pagi. Tidak terbayangkan kalau tidak ada api dibuat tiga titik, dipastikan akan membuat kami menderita kedinginan. Bagi saya sebenarnya, sudah menyiapkan perlengkapan untuk tidur ditengah hutan, hanya untuk sendiri saja, tidak dapat dibagikan dengan teman yang lainnya.

Akhirnya sampailah kami pada momen dimana ulat Kelatangnya ada, sebelum kami menebang kayu tempat ulat Kelatang itu, terlihat salah satu pemuda Dayak Lengilo' sebut saja namanya Nofli berjalan memutari kayu tersebut sambil mengamati dari pokok kayu sampai keatas pohon kayu, dalam hati saya, " Kenapa diamati seperti itu" ternyata suatu langkah pengamatan, apakah ulat Kelatang masih ada didalamnya atau sudah tidak ada.

Suatu pengetahuan yang turun-temurun dilakukan nenek-moyang orang Dayak. Proses penebangan kayu dilakukan, ternyata kayu tempat Kelatang cukup keras, kami menyebut kayu tempat Kelatang ini yaitu kayu Lepano', ada juga jenis kayu lain tempat Kelatang ini seperti Uber Ba'a. Kami memotong kayu tersebut menjadi beberapa bagian supaya mudah dibelah, begitu sudah terpotong kamipun membelah kayunya melihat isi didalamnya, dalam pengamatan saya, ada dua jenis binatang didalam kayu tersebut, ada ulat Kelatang dan ada kumbang kecil, menarik dilihat juga adalah jenis binatang yang bagian membuat lobang-lobang didalam kayu, kata teman saya Jery, “ Binatang kumbang kecil itulah mempunyai tugas paling berat yaitu membuat jalan bagi ulat Kelatang yang menarik lagi ulat Kelatang lima kali lipat besarnya dari kumbang bentuknya berwarna hitam.”

Saat itu, kami mengumpul sebanyak-banyaknya ulat Kelatang yang sudah kami belah didalam kayu, rasa puas melihat dan memegang ulat Kelatang. Saya sesekali menyantap ulat Kelatang langsung dari dalam kayu, menurut kakek-nenek kami mempunyai khasiat tertentu jika kita menyantap Kelatang ini. Sebagai obat tradisional yang dipakai untuk mengobati beberapa jenis penyakit seperti tumor, maag, batuk atau pilek dan lainnya.

Tuhan sungguh luar biasa menyiapkan apa yang dibutuhkan umatnya dimuka bumi, tinggal kita mengolahnya dengan baik dan bermanfaat.

Dalam perjalanan kembali pulang ke rumah, kami membutuhkan kurang lebih dua jam jalan kaki, dalam satu Minggu terakhir tidak ada hujan (kemarau). Karena kami lama mengambil ulat Kelatang, kami harus berjalan malam dari tempat kami bermalam untuk pulang ke rumah.

Kami sudah berjalan kurang lebih satu kilo meter, tiba-tiba pemandu kami pak Roni Rining bilang kepada saya " Wah, temen-temen sebentar lagi ini hujan." tidak lama kemudian ada sekitar sepuluh menit setelah beliau mengatakan itu, hujanpun turun, disertai kilat petir diatas kami, sepertinya alam sedang marah pada malam itu dalam perjalanan kami pulang, rasanya suara Guntur itu dekat sekali diatas kami, pak Roni Rining bicara sama saya "kasih lepas cas hp mu", memang sebelumnya saya mengecas hp saya memakai power Bank, saya menyahut "saya sudah lepas sejak tadi", kami tetap jalan di saat hujan turun dan disertai kilatan petir.

Semakin saya mengayunkan kaki menaiki gunung yang disertai hujan ada beberapa kali kilat petir dan suara Guntur bergelora diatas kami, tidak butuh setengah jam hujanpun berhenti. Berhentinya hujan menambah binatang yang mengisap darah yaitu pacat (dalam bahasa daerah kami lematek) menaiki kaki yang sedang berjalan mencari tempat untuk di gigit supaya dapat mengisap darah. Saya sesekali berhenti untuk membuang pacat (lematek) dari kaki saya.

Sesampainya kami menaiki perahu yang berisi lima orang, tidak terbayang mengikuti perahu ditengah malam yang sangat gelap membuat adrenalin meningkat, dalam perjalanan banyak mata melihat kami sepanjang sungai, seperti kodok dan kami sempat ketemu dengan babi hutan yang sedang menggali cacing dipinggir sungai dengan hidungnya, babinya sangat jelas terlihat waktu disenter salah satu teman di depan perahu.

Saya tidak sabar membuat ulat Kelatang menjadi menu pada malam itu. Bagi orang yang tidak pernah merasakan kenikmatan dan kahsiat ulat ini pasti tidak akan suka melihat orang memakan ulat Kelatang. Setiap orang yang ingin merasakan sensasi, kenikmatan dan merasakan khasiatnya ulat Kelatang datanglah ke Krayan Tengah desa Long Padi, masyarakat di Krayan Tengah sangat ramah dan sopan terhadap orang yang betul-betul ingin merasakan kenikmatan suasana alam lembah sungai Kerayan. Nah, jika anda tertarik, Anda bisa datang langsung ketempat kami di dataran tinggi Borneo, tepatnya Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Saya tunggu.

***