Budaya

Warisan

Jumat, 5 November 2021, 05:56 WIB
Dibaca 17
Warisan
Sawah (Foto:dok. Pribadi)

Pepih Nugraha

Penulis senior

"Apa yang harus kuingat dari orangtua 'hawong' mereka tidak meninggalkan apa-apa buatku, tidak meninggalkan warisan, karenanya cuma bikin aku sengsara saja!?"

Saya percaya, ucapan yang lebih menyerupai umpatan di atas hanya tersua dalam percakapan film atau novel fiktif. Tetapi, barangkali pernah tercetus juga dalam hati, siapapun, bahwa ucapan ini sempat terbersit, terucap, disadari atau tidak.

Begini saja... taruhlah orangtuamu tidak mewariskan harta kekayaan apapun buatmu. Tetapi percayalah, yang membuatmu jadi seperti kamu sekarang ini adalah orangtuamu juga. Itulah warisan terbesar orangtuamu! 

Berapa biaya untuk membesarkanmu, menyekolahkanmu, berapa besar tenaga orangtuamu yang terkuras untuk mengurusmu, itu sebentuk warisan yang bernama pengorbanan, yang tidak bisa disetarakan dengan nilai materi sebesar apapun. 

Warisan orangtua tidak melulu soal harta kekayaan; rumah, tanah, uang dan perhiasan. Kadang keberanianmu berusaha dan bertindak, merupakan warisan orangtuamu juga lewat pengajaran yang mereka berikan.

Lalu kamu lupakan begitu saja jasa orangtuamu hanya karena mereka tidak memberimu warisan? Bahkan melihat batu nisan yang berlumut pun kamu sudah tak sudi lagi. 

Benar, berdo'a bisa darimana saja, bahkan dari rumahmu, tidak harus pergi ke kuburan. Sementara "rumah" orangtuamu kamu biarkan berlumut, ditumbuhi ilalang dan rumput liar nun jauh di pekuburan sana hanya karena kamu merasa mereka tidak meninggalkanmu warisan.

Dan, hari-hari ini saya tepekur, menundukkan kepala sedalam-dalamnya, saat memandang hamparan sawah peninggalan orangtua di kampung halaman kami. Sawah peninggalan orangtua yang membuat kami tidak pernah membeli beras selama bertahun-tahun, bahkan sawah yang telah membuat kami jadi sarjana. 

Terlalu cepat mereka -orangtua kami- berpulang di saat kami, saya dan adik-adik, belum sempat membahagiakan mereka, belum sempat pula membalas jasa dan kebaikan mereka yang tak pernah terbalaskan.

Kadang kami terlalu lama membiarkan batu nisan itu berlumut, sementara kami menikmati peninggalan hasil jerih payah mereka tanpa putus. Kami lebih sering melupakan mereka.

Alfatihah.... 

***