Wisata

Jelajah Kaltara [10] Filosofi Sebongkah Batu

Kamis, 3 Juni 2021, 10:05 WIB
Dibaca 23
Jelajah Kaltara [10] Filosofi Sebongkah Batu
Batu Ruyud (Foto: Masri Sareb Putra)

Pepih Nugraha

Penulis senior

Pada mulanya semua tempat tidak bernama, oranglah yang memberi nama. Pada dasarnya, semua kata tidak bermakna, oranglah yang memberi makna...

Sinyalemen ini menunjukkan, manusialah pusat kehidupan, pusat segala kuasa. Mereka yang punya daulat atas jalannya kehidupan. Bahkan perjalanan spiritualitasnya, manusialah yang memberi nama tuhan sekaligus memaknakannya.

Pada mulanya tempat di tengah hutan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) ini tidak bernama, oranglah yang memberi nama. Bukan tempat yang mengubah manusia, manusialah yang mengubah tempat.

Adalah Yansen Tp yang menamakan tempat di tengah hutan Kaltara ini Batu Ruyud. Apa makna Batu Ruyud yang semula tidak bernama ini? Ia tidak akan bermakna sama sekali jika tidak wakil gubernur Kaltara itu sendiri yang memaknakannya.

Bongkahan batu yang menumpuk terlihat membentuk "bukit" kecil di atas tanah lapang berumput. Tempat di mana tumpukan batu berada memang di atas permukaan yang lebih tinggi jika dibandingkan dari mana tumpukan batu itu berasal, yaitu dari Sungai Fe Milau yang berada di bawahnya. Artinya, harus menapaki bukit sambil membawa batu satu persatu ke atas tumpukan batu yang kemudian dinamai Batu Ruyud itu.

Lalu apa makna Batu Ruyud itu? Tidak lain batu hasil gotong-royong. Ini semacam aturan tidak tertulis, bahwa siapapun yang menginjakkan kaki di sekitar Batu Ruyud itu, ia harus mengangkut bongkahan batu dari Sungai Fe Milau untuk kemudian diletakkan di tempat yang sama sehingga membentuk "bukit batu".

Untuk apa orang mengangkut batu dari Sungai Fe Milau yang berair jernih namun deras itu?

Untuk kepentingan orang lain, bukan kepentingan si pengangkut batu itu sendiri. Setiap orang minimal wajib mengangkut satu batu dengan maksimal tidak terbatas, sesuai kemampuannya.

"Pak Masri ngangkut dua belas, ya, Dodi dan Pepih sembilan saja," kata Yansen. 

Memberatkan? Tentu tidak kalau kita juga berprinsip "di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung". Saya ikuti perintah itu karena untuk kebaikan semata, untuk kepentingan orang lain.

Filosofi dasarnya adalah "cinta" dan "kerjasama". Di tengah hutan pada dasarnya kita tidak berbekal apa-apa selain tenaga. Maka tenaga itulah yang kita sumbangkan untuk kebaikan.

Kelak siapapun bisa memanfaatkan tumpukan batu di Batu Ruyud itu untuk fondasi rumah kayu, membuat tungku, asahan, ulekan bahkan sampai keperluan membangun rumah berbahan batu.

Orang yang mengambil manfaat dari tumpukan batu itu tidak perlu mengingat atau menghapal si pengepul batu, cukup merasakan manfaatnya saja, meski ada nama yang tertulis di setiap batu. Nama bukan untuk menunjukkan keriyaan, melainkan sebatas ukuran kemampuan masing-masing si pengangkut batu.

Sebaliknya orang yang mengumpulkan dan mengumpulkan batu tidak perlu merasa berjasa atau berharap dapat pahala, sebab semua dilakukan dengan ikhlas.

Terbuktilah, sekecil apapun kebaikan dapat diciptakan, yang mungkin akan menjadi besar manfaatnya bagi orang-orang yang memang memerlukannya.

Sungguh sebuah kearifan di tengah hutan Krayan yang layak diteladani.

(Bersambung)

***