Sastra

Workshop Dua Hari Menulis Setiap Hari

Rabu, 12 Juni 2024, 06:37 WIB
Dibaca 114
Workshop Dua Hari Menulis Setiap Hari
Foto bersama narasumber dan peserta Workshop Literasi Menulis Buku Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2024

Notifikasi pesan di ponselku berbunyi.  Pesan masuk dari salah satu grup WhatsApp. Jarang aku memeriksa pesan masuk dari grup-grup WA yang jumlahnya puluhan itu. Aku sebagai anggota banyak grup WA. Mulai dari grup keluarga, grup antar saudara, grup antar sepupu, grup arisan, grup organisasi, grup alumni, grup kepanitiaan, grup rekan kerja, grup yang beranggotakan orang-orang yang disatukan oleh slogan ‘Salam satu hobi’, hingga grup rahasia yang berisi dua tiga member saja.

Namun, dari semua WAG itu hanya grup Rekan Kerja dan grup Saudara saja, selain grup Keluarga yang aku buka pada kesempatan pertama. Di luar ketiga grup di tersebut, pesan masuk dari grup-grup lainnya aku periksa hanya saat ada waktu luang, from time to time.

Seperti saat ini, saat lagi ngga ngapa-ngapain, saat lagi gabut. Aku buka satu persatu pesan-pesan masuk di grup. Dari sekian banyak pesan ada satu pesan yang menarik perhatianku. Sebuah pesan bertautan sebuah file PDF berjudul ‘Undangan Workshop Literasi’. Ibarat kucing yang mendengar suara burung yang terperangkap di balik lemari, rasa ingin tahuku timbul. Ku-klik pesan itu dan surat berkop dinas sebanyak lima halaman itu pun terbuka.

Kubaca surat tersebut cepat-cepat. Kulewati beberapa bagian. Lalu, secepat kilat dari aplikasi WPS Office aku beralih ke Daftar Kontak mencari nama seseorang. Nama ketua sebuah yayasan yang termasuk dalam Daftar Undangan. Segera kukirim sebaris pesan singkat, ‘Mau, ikut workshop.’ Rasa takut kehilangan kesempatan mengikuti pelatihan membuatku lupa membuka pesanku itu dengan salam. Syukurlah pesanku mendapat balasan semenit kemudian. ‘Daftarlah kak atas nama yayasan’.

Membaca pesan itu, aku serasa mendapat angin segar. Segera kuketik pesan yang ditujukan kepada panitia penyelenggara yang nomor teleponnya tertera di surat.  Edho namanya. Setelah yakin namaku tercatat sebagai salah satu peserta, barulah aku bisa bernafas lega.

Boleh dikata sebelah kakiku sudah berada di ruang pelatihan, tapi sebelah kaki lagi masih bercokol di kantor. Sempat terlintas keinginan untuk menyiasati hal itu dengan pergi ke kantor lebih pagi untuk absen dan memeriksa beberapa surat. Lalu ke Gedung Gadis sebelum acara dimulai. Toh, jarak antara tempat kegiatan workshop dan kantorku dekat saja. Tapi setelah memeriksa kembali jadwal dan susunan acara, agaknya hal itu tidak mungkin dilakukan. Jadwalnya padat dan intensitas pekerjaanku juga padat. Aku akan kesulitan untuk fokus pada kedua hal itu sekaligus.

Menghitung hari menjelang acara. Masih ada waktu yang dapat aku manfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugasku. Kuperiksa meja kerja sekali lagi, memastikan tidak ada surat masuk atau berkas permohonan yang belum aku proses. Sambil melakukan hal itu, aku mempertimbangkan keputusan untuk mengambil cuti tahunan. Keputusanku bulat. Kesempatan ikut kegiatan literasi begini jarang menghampiri. Sebaiknya tak kusia-siakan kesempatan emas ini.

Dan pada hari Selasa sore itu, tepat sehari sebelum acara literasi. Aku menyerahkan permohonan cuti selama dua hari kepada atasanku. Tidak terjadi penolakan atau drama apapun. Sore itu juga proses administrasi selesai. Surat cuti itu aku foto, lalu melalui aplikasi e-presensi segera kukirim foto tersebut secara daring, beres.

Malam harinya aku sedikit tegang. Perasaanku tak menentu. Aku merasa senang bercampur gugup. Tidak bisa aku jelaskan apa yang sebenarnya membuat aku galau. Probably, karena bayangan yang terbentuk di kepalaku. Tentang tulisanku akan menjadi salah satu dari karya peserta yang terpilih untuk dibukukan.  Jika skenario Tuhan seindah itu, maka hal itu adalah doa yang terjawab. Impian yang jadi kenyataan. A dream comes true.

Coba posisikan dirimu sebagai diriku. Melihat peluang sebesar itu tepat di hadapanmu. Menyadari, mungkin, mungkin saja, inilah saatnya cita-cita masa kecilmu akan terwujud. Di usiamu yang sudah tidak muda lagi. Apa mungkin kau tidak merasa resah?

Tentu engkau pun akan gelisah sepertiku. Seperti seorang yang hobi menulis, tapi belum ada tulisan yang menjadi buku, kecuali satu. Hanya satu. Pun buku satu-satunya itu adalah sebuah kamus bahasa daerah. Kamus berjudul ‘Nun Kabor Peradi? Kamus Bahasa Bulungan – Indonesia’. Sebuah buku yang ditulis berangkat dari keprihatinan akan hilangnya salah satu bahasa daerah di Kalimantan Utara. Sebuah buku berisi kumpulan kata dasar bahasa Bulungan dilengkapi dengan kata berimbuhan dan contoh kalimatnya. Kamus yang masih perlu perbaikan. Baik dengan menambah kosa kata yang masih tertinggal. Maupun dengan menambahkan keterangan jenis kata dari setiap kosa kata yang ada. 

Buku pertamaku itu sebenarnya belum siap benar, tapi atas pertimbangan mendesaknya kebutuhan akan buku pendukung pelajaran Muatan Lokal Bahasa Daerah, maka dengan mengucapkan ‘bismillah’ kukirimkan juga naskahku ke sebuah penerbitan. Dan beruntungnya sambutan atas terbitnya kamus sederhana itu sangat baik.

Terbitnya kamus itu membawa dampak positif bagiku. Salah satu yang paling berkesan adalah dipilihnya aku menjadi salah satu narasumber pada program Revitalisasi Bahasa Daerah pada tahun 2023. Setelah itu, aku juga dilibatkan pada beberapa kegiatan yang berkaitan dengan literasi dan bahasa. Baik yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kantor Bahasa.

Kumasukkan notebook ke dalam tas, tak lupa charger-nya juga. Lalu diikuti oleh dompet, tisu, flashdisc, hand sanitizer, hand cream, lipstik, minyak kayu putih, obat maag, dan sebatang coklat. Tak lupa Surat Tugas  yang sudah aku print-out, dan susunan acara, Tak lupa undangan aku masukan pula. Semua kebutuhanku untuk acara besok sudah siap.

Malam itu tidurku tak begitu nyenyak. Keesokan harinya, pukul tujuh lewat sepuluh menit aku sudah siap di atas sepeda motor. Sambil memanaskan kendaraan, kuucapkan doa-doa yang biasa aku rapal. Afirmasi pagi itu sedikit lebih khusuk. “Wahai Yang Maha Indah, hari ini hatiku senang, aku akan menimba ilmu yang bermanfaat, aku akan bertemu orang-orang hebat. Sertailah dan berkatilah hariku.”

Seandainya ada doorprize bagi peserta pertama yang hadir di tempat acara, maka akulah orang itu. Saat tiba, di depan ruangan hanya ada dua orang petugas yang memasang Video Booth Spinner, sebuah perangkat yang lagi trendy. Semacam piringan tempat berdiri untuk mengambil video atau gambar yang dapat berputar 360 derajat.

Aku melewati meja penyambut tamu yang masih kosong. memasuki ruang pertemuan yang sudah ditata dengan rapi. Bunga-bunga plastik disusun sedemikian rupa di lantai, tepat di depan pintu masuk. Kursi-kursi tanpa meja berjajar rapi dengan jarak antar kursi yang renggang. Mengingatkanku pada situasi dua tahun lalu, menjaga jarak.

Di dalam ruangan, ada beberapa orang sedang melakukan persiapan akhir. Aku berbicara dengan salah seorang panitia. Sekedar percakapan ringan tentang kegiatan hari itu. Tidak berapa lama kemudian, dua orang panitia sudah duduk di meja penerimaan peserta. Segera aku menghampiri mereka.

Setelah mengisi daftar hadir dan melakukan proses daftar ulang, aku kembali memasuki ruangan. Kupilih tempat duduk di deretan depan, tepat di belakang sofa untuk tamu. Aku punya alasan memilih posisi ini. Alasan pertama tentunya agar dapat membaca tulisan pada layar monitor dengan baik dan melihat para narasumber dengan jelas.

Alasan kedua memilih duduk di baris depan, karena kalimat ‘Posisi menentukan prestasi’ itu ada benarnya. Posisi di depan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi. Tak akan mudah tergoda untuk melakukan hal-hal lain, selain fokus memperhatikan pelajaran. Jaman sekolah dulu, jangankan jadi penghuni bangku belakang. Duduk di deretan tengah saja aku kadang tergoda bermain-main dengan teman sebangku. Atau bercanda dengan para tetangga yang duduk di sekitarku.

Ada satu cerita dari bangku sekolah. Aku lupa siapa yang memulai. Tapi tiba-tiba saja aku dan seorang kawanku sudah asyik bercanda saat pelajaran berlangsung. Oper-operan kertas yang dilipat kecil. Gelagat kami itu agaknya mulai menarik perhatian guru. Saat itu mata pelajaran yang sedang berlangsung adalah Pendidikan Moral Pancasila. Sebenarnya nilaiku sangat bagus untuk mata pelajaran itu, tapi entah mengapa hari itu sikapku sangat tidak mencerminkan nilai luhur dari butir-butir sila kedua Pancasila.

Guru yang sedang mengajar saat itu, seorang guru muda yang cara mengajarnya agak monoton. Semua murid segan padanya. Sambil terus menjelaskan tentang sejarah kelahiran Pancasila, dia berjalan mendekati meja kami. Aku dan temanku, dua anak manusia yang tak menyadari adanya bahaya yang mengintai masih asyik dengan dunia kami sendiri. Tepat ketika aku mengulurkan tangan untuk memberikan lipatan kertas kecil kepada temanku di meja sebelah, laksana seekor elang menukik menyambar ikan, begitupula kecepatan tangan Pak Guru merebut kertas kecil itu dari tanganku. Game over.

Suasana kelas yang tadinya membosankan berubah jadi menegangkan. Wajahku pucat pasi, jantungku serasa akan lepas ketika Pak Guru dengan gaya slow motion membuka lipatan kertas dan membaca dengan suara lantang, ‘Ada salam dari si A,” ia lalu melihat ke arahku sebagai si penulis kalimat seolah menuntut penjelasan. “Siapa itu si A?” Tanyanya. Suasana kelas yang hening membuat suara Helen Sparingga yang menyayat hati sayup-sayup sampai,  ”Inginku mati bila tak ingat dosa, ingin rasanya kupulang ke rahim ibu, dan tak pernah terlahir lagi dan tak pernah terlahir lagi…”

Keringat dingin turun dari kening membasahi leherku. Sempat aku menoleh kepada temanku mencari bantuan, tapi wajah temanku itu sudah menunjukkan tanda-tanda akan menangis. Antara malu dan takut dihukum. Benar-benar tidak bisa diharap. Otakku buntu. Pak Guru berdiri di depan mejaku seperti seorang penari Tap Dance, mengetukkan hak sepatunya di lantai. Aku berpikir keras mencari alasan. Akhirnya aku membuka mulut dengan tergagap-gagap, “A…a…nu Pak, A itu nama kucing,” jawabku. Matilaaah, sejak kapan kucing bisa titip salam.

 Itulah penyebabnya saudara-saudara sebangsa setanah air, sebisa mungkin aku menghindari resiko yang timbul sebagai dampak dari kesalahan memilih tempat duduk. Terutama bila topik yang disampaikan itu membosankan. Duduk di bangku belakang godaannya sangat besar. Karena scrolling media sosial adalah penahan kantuk dan gossiping adalah penawar bosan yang ampuh.

Kembali ke ruang pelatihan. Peserta semakin banyak yang datang. Kursi-kursi yang disediakan mulai penuh. Beberapa orang peserta masih antri mengisi daftar hadir. Tamu-tamu dan orang-orang yang kuduga adalah narasumber sudah duduk di sofa di depanku. Lalu, kulihat orang-orang melihat ke arah pintu masuk, ternyata Wakil Gubernur, Bapak Dr. Yansen Tipa Padan M.Si memasuki ruangan. Tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang cerah mudah dikenali di antara banyak orang. Acara pun dimulai.

Aku dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara tidak mengenal secara pribadi. Tapi, tentu saja rakyat sepertiku mengenal sosoknya sebagai seorang pemimpin. Pernah suatu kali, seorang MC pada sebuah acara adat memintaku membuatkan pantun untuk Beliau dan istri sebagai pemanis Kata Pembuka. Aku menulis:

Bambu dipotong jadikan obor

Penerang jalan di rimba raya

Dari Malinau ke Tanjung Selor

Sang Wakil Gubernur Kaliman Utara

 

Sungguh indah warna pelangi

Menggantung di langit di sore hari

Demikian pula Ibu Ping Ding ini

Putri Kalimantan yang berprestasi

Cakeeep…

Begitulah, setelah menyampaikan Kata Sambutan, Bapak Wakil Gubernur membuka Kegiatan ‘Workshop Literasi Menulis Buku Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2024’ secara resmi. And the adventure begins.

Benarlah dugaanku, orang-orang yang duduk di sofa itu adalah para narasumber. Pada jadwal dan susunan acara, panitia tidak mencantumkan satu pun nama mereka. Otomatis hal itu menjadi sebuah kejutan ketika Bapak Wakil Gubernur memperkenalkan narasumber satu per satu. Seandainya nama mereka dicantumkan, akan sulit bagi panitia untuk membendung antusias pencinta buku yang ingin mengikuti kegiatan ini.

Bapak Yansen TP selaku seorang penulis dan penggerak literasi yang aktif, melanjutkan acara sebagai Keynote Speaker dengan menyampaikan materi berjudul ‘Siapapun Bisa menjadi Penulis’. Luar biasa. Pantas saja Beliau menguasai benar materi yang disampaikan, karena Beliau menulisnya sendiri berdasarkan pengalaman pribadi pula, “Literasi adalah bentuk dasar membangun bangsa,” katanya. Sepanjang pengetahuanku, tidak banyak pejabat lokal yang mempunyai kemampuan public speaking yang baik, dan Beliau adalah salah satunya.

Acara pelatihan dua hari itu seperti memiliki magnet yang kuat. Aku tak beranjak dari tempat dudukku sampai saat break untuk istirahat, sholat dan makan (Ishoma). Ibarat rendang, semua materi yang disampaikan berisi daging semua, ngga ada tulang apalagi lengkuas. Selama dua hari itu para narasumber membagikan ilmu dengan sangat murah hati.

So generous. Tidak hanya berupa modul-modul yang bermanfaat. Beberapa orang peserta yang beruntung juga mendapatkan give away berupa buku. Seluruh peserta bersemangat mengunduh buku-buku digital dari Play Store. Salah satu buku digital yang diberikan secara cuma-cuma itu adalah karya Dodi Mawardi berjudul ‘Teknik Menulis Artikel Memikat’. Dan di hari kedua, aku menjadi salah satu peserta yang beruntung mendapat kenang-kenangan sebuah buku konvensional. Buku berjudul ‘Pesan dari Tanah’, kuterima langsung dari penulisnya, Hilmi Faiq.  

Ya, Hilmi Faiq dan Dodi Mawardi adalah dua dari lima narasumber itu. Tiga narasumber lainnya adalah jurnalis senior pendiri Kompasiana, Pepih Nugraha. Lalu seorang jurnalis sekaligus fotografer handal. Arbain Rambey. And last but not least Masri Sareb Putra, seorang putra Borneo pencipta banyak karya yang dipublikasikan oleh media-media terkemuka.

Jika nama-nama mereka diketik di mesin pencari. Akan kau temukan jejak digital yang menampakkan pencapaian-pencapaian mereka yang menimbulkan decak kagum. Berupa karya-karya yang bertebaran di berbagai flatform, nasional maupun internasional.  

Peserta pelatihan pula terdiri dari orang-orang yang tak kalah mengagumkan. Ada penulis aktif, ada penerjemah, dan ada yang bukunya sudah diterbitkan oleh salah satu penerbit ternama. Sebagai seorang penulis amatir sepertiku, tulisan yang diterbitkan oleh penerbit dengan inisial G besar itu adalah sebuah prestasi tersendiri. Terbit asa dalam hatiku, jika penulis dari Tarakan itu bisa, tentu tulisanku juga bisa. Kenapa tidak, iya kan? Iya dong.

To make a long story short. Ada beberapa poin penting dari para narasumber yang aku garis bawahi, diantaranya: ‘Jangan menulis jika tidak menguasai bahan’, ‘Tidak ada tulisan yang jelek yang ada tulisan yang belum di-edit’, ‘Write the way you talk’, ‘Curiousity-Sceptism-Observation’, ‘Agar tulisan menarik menulislah lewat cara pandang orang asing’, ‘Foto jurnalistik yang baik harus sudah jadi sebelum dipotret (maksudnya punya konsep, menguasai masalah dan menyadari kendala)’, ‘Menyiapkan outline sebagai panduan di lapangan’, dan ‘Jadilah penulis yang dapat duit, bukan mengeluarkan duit’. Ini nih yang gue demen, menulis aja adalah kegemaran yang mengasyikan, apalagi jika menulis mendapat cuan!

Dari semuanya motivasi yang kudapat dari workshop selama dua hari itu. Poin yang terpenting adalah ‘Don’t give up and keep writing’. Teruslah menulis. Menulis buah pikiran, harapan, perasaan, ucapan yang menjadi karya-karya yang bermanfaat dan terus hidup, meski penulisnya sudah tiada lagi di dunia ini.