Sastra

Cerpen: Sang Filsuf Di Tepian Sungai Kayan

Jumat, 30 April 2021, 07:38 WIB
Dibaca 213
Cerpen: Sang Filsuf Di Tepian Sungai Kayan
Filsuf

Dodi Mawardi

Penulis senior

 

Angin sore sungai Kayan berhembus mesra. Sinar matahari pun terasa lembut. Alunan lagu Koes Plus terdengar sayup-sayup dari mulut sang filsuf. "Bukan lautan hanya kolam susu..."

Anganku terombang-ambing dibuatnya.

 

"Borneo ini kaya raya dan sangat potensial..." ucapnya dengan muka sungguh-sungguh setelah tandas lirik Koes Plus, "…Tongkat kayu dan batu jadi tanaman."

 

Tak biasanya sang filsuf memasang wajah seperti ini. Dua sore lalu dan sebelum-sebelumnya, dia lebih banyak bergurau. Mungkin gurunya adalah Gus Dur. Kyai yang filsuf tapi paling pandai bercerita lucu. Filsuf garis lucu, mungkin lebih tepat disematkan kepadanya.

 

Sang filsuf ini bisa jadi KW2 dari Gus Dur. Filsuf garis lucu juga. Sesekali keluar ayat suci. Yang bunyinya selalu mendukung tindak tanduknya. Dia piawai memainkan irama. Terutama irama kehidupannya.

 

"Lihatlah di depan sana," jari telunjuknya yang kekar itu mengarah pada ketinting dengan seorang nelayan yang sedang melaju melawan arah aliran sungai melewati tempat kami duduk. Suara mesinnya melengking. "Dia hidup dari sungai ini. Hampir setiap malam, dia dapat ikan banyak dari sungai ini. Dia hidup..."

 

Aku masih belum paham dengan arah kata-katanya. Meski kalimatnya itu jelas dan tak butuh interpretasi, tapi tak biasanya sang filsuf seserius ini. Irama kata yang kadang bikin pusing kepala belum lagi keluar dari mulutnya. Apalagi cerita-cerita lucu pengocok perut, yang membuat aku terpingkal kerkepanjangan.

 

"Kamu bisa hidup di sini!"

Jleb... Kalimat ini terasa menancap begitu dalam. Relung sanubariku berdarah-darah. Dua sore lalu, diiringi angin sepoi sungai Kayan, aku memang menumpahkan rasa. Rasa frustrasi tepatnya.

 

"Saya harus keluar dari kota ini. Di sini bukan tempatku. Jawa lebih menjanjikan..." sang filsuf mendengarkan dengan hening kalimat-kalimatku. Namun, tak sepatah kata pun keluar dari kepalanya saat itu. Hanya rambut ikalnya yang bergetar dan bergoyang disapu angin.

 

Tapi sore ini. Di tengah harmoni udara sungai Kayan dan sinar mentari, disertai lirik lagu Koes Plus kesukaannya, kalimat jawaban untuk curhatku yang lalu muncul seketika.

 

"Tapi, saya tidak mau jadi nelayan!" jawabku tegas. Kalimantan memang kaya raya, termasuk di sungai-sungai. Mungkin jutaan ton ikan terkandung di dalamnya. Jemariku saling meremas. Keras. Kupandangi wajah sang filsuf. Tetap serius. Tak ada perubahan berarti. Garis lucu itu seolah sirna. Air matanya memantulkan gerak aliran sungai Kayan. Yang entah kenapa terlihat begitu beriak.

 

"Lihatlah ibu pedagang itu..." lanjutnya. Kepalanya memandang seorang ibu paruh baya yang sedang menata perabotan jualannya. Posisinya hanya sedikit di bibir jalan raya yang membentang segaris jalur sungai. Beberapa meter saja dari posisi kami duduk.

"Setiap sore dia susun dan malamnya dia bongkar sendiri. Dia hidup di sini. Di tepian sungai Kayan," suaranya terdengar lebih berenergi. Tegas.

 

"Saya tidak mau juga jadi pedagang. Nggak ada bakat..." kepalaku menggeleng keras. Lalu menunduk. Kupandangi rumput liar di balik beton yang terbaring gagah di sepanjang sisi sungai. Rumput pun pasti tahu persis, aku bukan calon pedagang.

 

"Hei anak muda," katanya sambil memegang pundakku. Mata kami beradu.

"Kamu bukan tongkat kayu. Apalagi batu. Kamu dengan gelar sarjanamu ditanam di sini, pasti bisa menumbuhkan jutaan tanaman. Tanaman kehidupan!"

Sorot mata tajam sang filsuf tepat mengarah ke pusat syarafku.

 

Angin sore tepian sungai Kayan berubah, terasa seperti badai. Sinar mentari tiba-tiba menusuk dan menerobos pori. Aku limbung. Kalimat sang filsuf bagaikan sengatan ribuan lebah di hutan Kayan Mentarang.

  

--------

 

"Kamu kenapa Nak?" suara lembut menyambutku di pintu rumah. Suara yang akan selalu kurindukan. Mamakku.

 

"Tidak apa-apa, Mak. Hanya pusing sedikit," jawabku sedikit berbohong. Kuraih jemari tangannya dan kucium dengan syahdu. Tangan Mamakku adalah yang terbaik. Lembut tapi kokoh. Dialah yang membesarkan aku dan dua adikku. Seorang diri.

 

Sore sudah berganti malam, ketika aku rebahkan tubuh di dipan kamar. Kepalaku melayang-layang.

 

Sang filsuf itu luar biasa. Baru dua pekan aku mengenalnya di tepian sungai Kayan. Dia suka ngopi dan makan sanggar* di warung tepian sungai Kayan. Kami berkenalan.

"Ayah saya menyebut saya filsuf. Panggil saja saya filsuf..." katanya ketika memperkenalkan diri.

 

Usianya mungkin setara bapakku, yang sudah tiada sejak aku SMP. Pembawaannya yang riang gembira dengan gaya bicara yang unik, menarik perhatianku. Sosok ayahku seolah ada padanya. Kadang dia mentraktir aku makan dan minum. Kami cepat akrab, meski belum lama bertemu.

 

Tak setiap sore kujumpai dia. Kadang dua sore sekali. Pernah juga empat hari tak ada. Katanya pergi ke Malinau untuk tugas negara. Entah apa tugas negara yang dimaksudnya. Dia mengaku hanya singgah di kotaku. Kepadanya aku jadi terbuka mencurahkan kegalauan. Terutama soal masa depan.

 

"Aku memang bukan tongkat kayu. Apalagi batu..." desisku mengulangi kata-katanya. Aku sudah bulat untuk pergi ke Jawa. Banyak teman sekotaku yang berhasil di sana. Aku bisa mengikuti jejak kesuksesan mereka. Tapi kalimat sang filsuf itu...

 

-------

 

Seluruh perlengkapan dan perbekalan sudah siap. Mamakku menatap dengan pilu. Bagaimana pun meski dia merelakanku pergi pastilah berat terasa. Mungkin lebih berat daripada rasaku meninggalkannya dan adik-adik.

 

"Kamu sudah yakin Nak?" pertanyaan berulang yang kembali keluar dari mulutnya. Aku hanya mengangguk pelan. Pelan sekali. Tak kuasa melihat matanya. Kugenggam tangannya dan kuciumi kembali. Dipeluknya aku erat-erat.

"Kalau kamu yakin, ridho Mamak untukmu!" ujarnya lirih. Nyes... Suaranya begitu menyejukkan hati.

 

Hati yang sesungguhnya sedang dilanda kegalauan tingkat dewa. Suara sang filsuf masih terngiang. Semalaman aku tak bisa tidur nyenyak. Keraguan melingkupiku.

"Benarkah keputusanku pergi dari kota ini?"

 

-------

 

Kapal cepat tujuan Tarakan sudah siap bersandar di anjungan pelabuhan. Satu per satu penumpang naik setelah tiket diperiksa petugas. Tas-tas besar diletakkan di bagian atas perahu. Penuh sesak.

 

Aliran sungai Kayan bergerak menuju hilir ke lautan sekitar pulau Tarakan. Hanya perlu sekitar satu jam saja mencapai kota itu dari tempat tinggalku. Dari Tarakanlah, pulau Jawa bisa kami capai dengan pesawat udara. Suara air Kayan terdengar menderu begitu mesin kapal menyala. Aku bergeming di pintu masuk jalur menuju kapal. Sampai nakhoda memberi aba-aba kapal akan berangkat, aku tetap terpaku. Tas besar masih dalam genggaman. Suara filsuf begitu keras menggema di telinga dan menahan langkahku.

"Kamu ditanam di sini, bisa menumbuhkan jutaan tanaman kehidupan..."

 

Dalam sekejap, aku berbalik badan. Lalu berjalan keluar pelabuhan dengan penuh keyakinan baru. Kapal cepat menjauh.

 

Kutoleh kapal cepat itu tanpa membalikkan badan, tampak lambaian tangan sang filsuf menari-nari. Dua jempolnya mengangkasa. Kami saling tersenyum dalam irama hembusan angin sungai Kayan. Aku tertanam di kotaku bersama pesan sang filsuf. Yang namanya pun aku tak pernah tahu.

Bismillah...

 

*Sanggar = pisang goreng