Riset

Kisah Inspirasi (1): Pergulatan Alam Borneo

Sabtu, 17 Desember 2022, 18:48 WIB
Dibaca 126
Kisah Inspirasi (1): Pergulatan Alam Borneo
Aku dan lumpur itu sudah biasa

Pada tahun 1980-an,pemerintah membuka besar-besaran ekspansi perkebunan sawit yang dibiayai oleh IMF(Bank Dunia). Sampai sekarang baik pemerintah maupun pihak swasta berlomba-lomba membuka lahan baru untuk perkebunan sawit,hasilnya adalah banyak hutan ditebang dan berubah wujud menjadi hamparan sawit. Hal itu bagiku sangat memprihatinkan dan  mengkuatirkan sekali. Ladangan Pal 20 adalah salah satu dari desa yang berada di kec.Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, juga dijejali kebun sawit. Jutaan hektar tanah di Kalimantan Barat kini sudah banyak ditanami pohon sawit. Begitu Pula di wilayah Kabupaten Landak,Kalimantan Barat. Dulu aku ingat desaku sangat dingin dan hijau.Kini aku merasa kampung halamanku terasa panas. Sungai-sungai yang dulunya bersih sekarang berubah menjadi kuning. 

Di daerahku, ribuan hektar lahan dikuasai pengusaha sawit. Salah satu alasan penguasa, waktu itu karena tanah tersebut sangat cocok untuk sawit. Selain itu masyarakat butuh akses jalan untuk membuka isolasi,memberikan lapangan kerja sehingga anak petani bisa bekerja di kantor. Tapi faktanya, di tanah yang sama masyarakat tetap membeli beras untuk makan nasi. Masyarakat berharap gaji sebagai kuli sawit bisa mensejahterakan dan membiayai hidup sehari hari. Penguasa selalu percaya bahwa  pengusaha (sawit) akan mensejahterakan masyarakat adat. Sungguh salah besar kita menganggap sawit adalah malaikat yang dianggap bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Sebenarnya tanpa sawit masyarakat pun bisa hidup. Masyarakat bisa bertani dan bercocok tanam,beternak dsb.Lahan yang dimiliki masyarakat seharusnya digunakan untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari supaya tidak menjadi konsumen terlalu banyak. Kini aku melihat sawit ini seperti virus yang mengancam keberlangsungan hidup flora dan fauna yang ada di Kalbar. 

Menurut Direktur Eksekutif Save Our Borneo [ SOB ], sekitar 80 persen kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan disebabkan oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit oleh perusahaan besar. Sedangkan 20 persen sisanya disumbang oleh eksploitasi Pertambangan. Berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutannya (deforestasi) telah mencapai 864 ribu hektare setiap tahunnya atau 2,16 persen. Penyebab  utamanya karena pembukaan pertambangan dan Perkebunan Skala Besar Kelapa Sawit. Kegiatan eksploitasi selain mengakibatkan hutan  rusak, juga berdampak pada terjadinya bencana banjir dan tanah longsor, belum lagi dampak konflik sosial, ekonomi, budaya serta dampak negatif lainnya yang dialami oleh masyarakat lokal. 

Dampak negatif lain dari eksploitasi hutan secara besar-besaran adalah hilangnya identitas masyarakat setempat. Masuknya budaya luar,secara nyata telah mengakibatkan lunturnya nilai-nilai budaya dan tradisi kearifan lokal. Masyarakat lokal kini menjadi sangat tergantung dengan pihak luar. Ketergantungan dengan pihak luar (system kapitalisme) itu dikarenakan lahan yang menjadi alat produksi utama masyarakat lokal kian menyempit, sehingga mereka menjadi tergantung dengan pihak luar (perusahaan).  Tadinya terbiasa mandiri sebagai produsen ( petani/peladang) dan makan dari hasil hutan kini berubah menjadi konsumen(pembeli). Fenomena ini tentu sangat mengusik hati kecilku. Dari sinilah aku mempunyai tekad untuk bergabung dengan komunitas-komuintas adat dan komunitas Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( WALHI), Lindungi Hutan. Niatku tidak surut sampai disitu saja, aku pun mendukung Gerakan-gerakan pemberdayaan masyarakat Adat yang ada di Kalimantan Barat. Hal ini sejalan dengan Gerakan-gerakan pemberdayaan yang dilakukan para Missionaris di Kalimantan Barat.

Kisah perjalanan spiritual penulis yang menemukan fakta kebenaran di alam dan hutan Kalimantan

 ( Bersambung ke Kisah Inspirasi 2 )