Riset

Kemajemukan Di Mata Anak Muda

Rabu, 21 September 2022, 20:01 WIB
Dibaca 88
Kemajemukan Di Mata Anak Muda
.

              Sebelum saya mengenal apa itu keberagaman perlu kiranya saya bercerita terlebih dahulu tentang masa kecilku, saya lahir di Melle salah satu kampung di Indonesia yang terletak di Sulawesi selatan. memiliki latar budaya homogen,Suku yang sama dan agama yang ada hanyalah islam.

               Sebelum aku migrasi, semasa kecil aku berpikir bahwa, agama yang ada di dunia ini hanyalah islam saja tidak ada agama yang lain. Dan aku mulai bermigrasi ke pulau Kalimantan Timur tepatnya di kabupaten Berau tinggal dan belajar. karena di waktu kecil orang tua telah meninggalkan aku pergi dan mencari pekerjaan ke luar dari kampung akhirnya aku bersama kakak menyusul agar bisa berkumpul bersama dengan keluarga.

               Saat tiba, akupun melihat disekeliling dan melihat perbedaan di kota daripada di kampungku, karena itu juga aku sebagai siswa SD dari kampung pindah ke kota dan mendaftarkan diri ke sekolah dasar dan aku baru menyadari selain islam ada agama lainnya yaitu kristen, karena salah satu teman beragama kristen dan juga sukunya berbeda dengan aku yaitu suku dayak, karena Kalimantan adalah suku asli dayak.

               Satu hal pelajaran dari seorang indonesianis Bennedict Andersen penulis buku ‘Imagine Community’ mengatakan ‘jangan menjadi katak dalam tempurung, keluarlah dari tempurung. Kenapa selama ini orang-orang saling menyalahkan satu sama lain karena kepercayaan agamanya. iya, karena mereka tidak pernah melihat apakah ada dunia diluar dari tempurung dan banyak orang tidak mau bahkan keluar dari tempurung untuk melihat dunia yang sesungguhnya word reality. Bahwa kita ini beragam dari segi kepercayaan, suku, warna kulit dan lain-lainnya.

               Oleh karena itu, perlu pemaknaan ulang mengenai keberagaman (pluralisme). Pluralisme adalah pergulatan ide-ide yang berkembang di masyarakat untuk mencari nilai-nilai untuk membangun common society (masyarakat bersama). Untuk itu kita perlu menemukan titik temu antara agama-agama yang di dalam islam disebut kalimatun sawah.

               Adapun titik temu antara agama-agama dalam teori Frithoj Schuon bahwa dalam dimensi esoteris bagian wilayah kepercayaan atau tata nilai bahwa Yahudi (Moses), Nasrani (Yesus) dan islam (Nabi Muhammad) adalah agama samawi ialah satu rumpun yang sama yang dibawah oleh Nabi Ibrahim a.s yang menyembah Tuhan yang sama dan mengajarkan nilai-nilai yang sama dan hanya berbeda pada wilayah eksoteris cara atau bentuk penyembahannya.

               Adapun dalam Teori Keberagamaan Manusia, tiga tahap evolusi keberagamaan manusia itu berkembang dari islam ekslusif berubah ke islam inklusif menjadi islam plural. Islam ekslusif ialah keberagamaan yang mengeluarkan yang lain dari keberagamaan kita bahwa agama lain adalah salah yang benar hanya agama islam ini disebut truth claim (klaim kebenaran) atau kebenaran subjektif. Yang kedua Islam Inklusif adalah keberagamaan yang menerima kebenaran dari kepercayaan atau agama-agama lain, Landasan pada Qs. Al-Baqaroh:2;62.

               Apa itu islam? Innadinah Innalahi Islam “Sesungguhnya agama yang diridhoi di sisi Allah hanyalah islam (pasrah,tunduk,damai) yang disebut islam substansi. Ada dua cara membedakan antara islam genetik dan islam Sosiologis-Historis. Caranya Islam genetik ialah islam pasrah, tunduk dan damai (islam Al-Aam) sedangkan Islam Sosiologis dan Historis adalah orang islam yang kadang menyimpang dari islam (islam khos) cara mengetahuinya islam khos ketika ada ayat sebelum atau sesudah ayat ikhsan atau iman.

               Apakah agama selain islam tidak selamat atau masuk neraka? Ini adalah landasan mengenai ajaran islam tentang sikap ke agama lain bahwa di dalam QS. Al-Baqaroh:2;62 “Innal laziina aamanu wallazina haadu wannasoro wassobi’iina man aamana billaahi walyaumil aairi wa’amilan syolihaan falaahum ajruhum innda robbihim wala khaufun ‘alaiim wala hum yahzunuun”. Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang nasrani dan orang-orang shabi’in, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

               Dalam pandangan islam inklusif Syarat keselamatan di hari akhirat bahwa keselamatan kita di akhirat bukanlah keterikatan kepada agama tertentu bukan label-label agama kita, yang menyelamatkan kita adalah keimanan yang tulus kepada Tuhan dan beramal soleh.

               Untuk menjaga keberagaman dalam islam, setiap individu yang beragama islam perlu menerapkan ukhuawah islamiah dalam ruang bernegara untuk bisa hidup bersama (common good) dan toleransi.

Tiga Jenis Ukhuwah dalam islam

1. Ukhuwah Islamiyah ialah persaudaraan sesama umat islam

2. Ukhuwah Wathaniyah adalah persaudaraan sesama warga  negara

3. Ukhuwah Insaniah yaitu persaudaraan sesama manusia

               Adapaun Toleransi Adanya kesediaan untuk menerima pandangan yang berbeda dengan pandangan yang dianut. Prinsip dalam toleransi adalah prinsip menerima perbedaan. Ini sering kali menjadi persoalan karena kita sering kali juga memaknai toleransi yakni menerima sekaligus langsung meyakini. Padahal konteks toleransi bukan demikian. Konsep toleransi lebih pada memaklumi bahwa dia ada, dia berbeda. Yasudah biasa saja jangan memaksakan kehendak pada orang lain.

               Adanya perbedaan ini tentu dipengaruhi oleh adanya pluralitas dan ini sangat wajar untuk negara Indonesia yang majemuk dan kita mengakui itu ketika mengatakan ‘Bhineka Tunggal Ika’ berbeda-beda tetapi satu jua.

               Pluralitas tentu lahir dari individualitas sebab yang plural ini adalah kumpulan dari individu-individu. Jadi pluralitas dalam konteks sosial dan individualitas dalam konteks personal adalah bagian yang meniscayakan munculnya toleransi.

               Apa manfaat dari toleransi kembali ke John Stuart Mill ada dua manfaat dari toleransi, untuk kaitannya dengan individu/personal memberikan kebebasan berkespresi mengembangan diri dan adapun konteks sosial di sini untuk melihat betapa sehat masyarakat menerima perbedaan atau menanggapi perubahan sebab perubahan tidak mungkin muncul tanpa adanya perbedaan. Itu juga kenapa voltaire (1694-1778) mengungkapkan statmennya yang dijadikan rujukan toleransi dia mengatakan “saya mungkin saja tidak sependapat dengan apa yang Anda sampaikan, tapi saya akan membela mati-matian hak anda untuk menyampaikannya”.

Dalam konteks keindonesiaan wabilkhusus Anak Muda, Nilai-nilai untuk diteruskan oleh Anak muda ialah;

1.      Nilai Keterbukaan (Inklusif)

2.      Memodernisasi pemahaman kita tentang agama

3.      Kegiatan kolaborasi bersama antar agama,suku dan semua golongan