Literasi

1.400 Dolar untuk Belbuk

Sabtu, 16 Juli 2022, 16:40 WIB
Dibaca 310
1.400 Dolar untuk Belbuk
Bukan sekadar beli buku. Beli ilmu.

Waktu jadi dosen. Dan mengajar mahasiswa (2005-2019). Saya tidak pernah menjual buku kepada mahasiswa. Tetapi menjual ilmu. Padahal, saya mengajar mata kuliah yang langsung menjadi judul beberapa buku saya.

Conteklah beberapa judul buku, misalnya: Produksi Media Cetak (Graha Ilmu, 2007), Teknik Menulis Berita dan Feature (Indeks, 2007), Literary Journalism (Salemba Empat, 2010). Namun, buku itu dibeli pula. Justru karena bahan, sekaligus menyertai perkuliahan.

Saya mengajar, waktu itu, dengan menggunakan bahan dari Power Point. Isinya, ringkasan buku.

Kata saya kepada mahasiswa. "JIka Anda hanya belajar dari PPT, perolehan Anda separuhnya saja. Manakala Anda mencatat dan mendengarkan kuliah, perolehannya 80%. Namun, jika Anda memiliki bukunya, membaca dan memamahbiaknya dengan saksama karena di sana ada detai, contoh kasus, dan kedalaman; mungkin perolehan Anda 100%."

Pernah saya mengeluarkan 1.400 Dolar untuk beli buku. Kalikan saja jika dirupiahkan dengan kurs, saat ini. Menyesalkah saya?

Para mahasiswa pun terhenyak. Menyimak. Beberapa mengangguk.

"Saya tidak menjual buku. Saya menjual ilmu. Kebetulan, ilmu itu diikat oleh tata kalimat dikemas dalam lembar kertas yang dijilid jadi buku," kata saya berkelakar, separuh di dalamnya mengandung akal pelanduk.

Saya meneruskan materi pekuliahan.
Di akhir kuliah. Ketika saya hendak meninggalkan ruang. Mahasiswa mengacungkan tangan dan bertanya, "Pak, mau dong beli ilmunya!"

"Hubungi ketua kelas!" jawab saya. Acuh. Sok gak butuh uang. Padahalnya...?

Kadang, dalam hidup. Kita perlu untuk menerapkan: ilmu acuh acuh butuh.

Sebagai penulis. Kita juga wajib membaca dan membeli buku. Yang pertama dan utama, tentu pustaka terkait topik yang kita tekuni. Selain sebagai sumber inspirasi, juga memperkaya. Atau, jika kita sudah masuk penulis "kelas dewa", maka buku orang sekadar untuk: pembanding saja. Dalam hati, "nanti liat saja! Saya bisa menulis buku leih baik daripada itu"!

Karena itulah. Meski saya hampir menyentuh level "penulis kelas dewa". Jika punya sedikit uang, saya beli buku. Jika uang lumayan tebal di kantong, baru saya beli baju.

Beli buku (belbuk) itu investasi. Bukan konsumsi. Meski sebenarnya dua-duanya. Manakala kita membaca, mengemulasi, dan menggunakan buku sebagai referensi atau dikutip untuk suatu keperluan entah seminar entah akademik entah presentasi maka sebenarnya kita telah mengkonsumsi buku itu. Namun, beda dengan makanan dan minum atau pakaian.  Yang sekali pakai langsung habis.

Masih segar dalam ingatan. Ketika pada tahun 1999, terbetik niat dan persekongkolan elite menjerumuskan Datuk Anwar Ibrahim, di dalam negeri, saya turun menandatangani Petisi yang diinisiasi oleh Gus Dur dkk. agar jangan ada penzoliman politik berlebihan, political decay.

Buku berbeda. Sehabis digunakan, disimpan. Suatu waktu, jika diperlukan lagi, dapat diambil dan digunakan.

Itulah kelebihan buku!

Sesuatu yang diulang-ulang. Berkali-kali. Akan jadi habitus. Begitu seturut teori psikologi, terutama psikomotorik dalam kaitannya dengan neurologi. Aslinya, pengamatan itu, dikemukakan Aristoteles.

Jika naik Garuda, di Bandara Soekarno Hatta. Daripada nunggu di kafe atau resto, saya lebih suka mengisi dan membuang waktu di toko buku. Ada dua toko buku kelas inernasionlal di sana; Periplus dan WH Smith Indonesia.

Harganya?
Relatif murah. Relatif mahal. Bergantung kocek berbanding benefit. Sejilid buku, ORI, di atas Rp 300.000.

Tapi puas. Daripada harus ke Frankfurt Book Fair, atau Bologa Book Fair.

Di Bandara Changi, Singapura. Jika tak salah ingat. Seiring tetesan hujan di bulan April 1997. Saya memborong buku bagus-bagus. Satu di antaranya, biografi-politik berisi pemikiran brilian Datuk Anwar Ibrahim --seteru sekaligus rival berat Mahathir Mohamad waktu itu-- terkait akselerasi ekonomi Asia, The Asian Renaissance.

Masih segar dalam ingatan. Ketika pada tahun 1999, terbetik niat dan persekongkolan elite menjerumuskan Datuk Anwar Ibrahim, di dalam negeri, saya turun menandatangani Petisi yang diinisiasi oleh Gus Dur dkk. agar jangan ada penzoliman politik berlebihan, political decay.

Saya haikul yakin. Buku-buku yang saya beli, berapa pun harganya, manfaatnya berlipat ganda. Dibanding ongkos yang dikeluarkan.

Saya pernah mengeluarkan 1.400 dolar "hanya" untuk beli buku. Padahal keperluan rumah tangga jauh daripada bilang uang itu. Uang belanja dapur ke istri, tidak pernah sejumlah itu.

Menyesalkah saya?
Ya, menyesal. Mengapa tidak dari dulu dulu?